Ceritra
Ceritra Warga

Krisis Eksistensial Itu Normal: Kenapa Kamu Nggak Perlu Cemas

Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 05:15 PM

Background
Krisis Eksistensial Itu Normal: Kenapa Kamu Nggak Perlu Cemas

Pernah nggak sih, pas lagi asik-asiknya rebahan di jam dua pagi, menatap langit-langit kamar yang sebenarnya cuma beton polos, tiba-tiba muncul pertanyaan random bin ajaib: "Gue ini sebenarnya lahir buat apa ya?" Pertanyaan ini biasanya muncul barengan sama rasa lapar atau setelah nggak sengaja scrolling LinkedIn dan melihat teman seangkatan sudah jadi Manager di perusahaan multinasional sementara kita masih bingung besok mau sarapan apa. Tenang, kamu nggak sendirian. Krisis eksistensial itu semacam paket lengkap jadi manusia, sama alaminya kayak rasa mules setelah makan seblak level sepuluh.

Kenapa sih kita, sebagai spesies yang katanya paling cerdas di bumi, hobi banget menyiksa diri dengan mencari "tujuan hidup"? Kenapa kita nggak bisa santai kayak kucing oren tetangga yang agenda harian cuma makan, tidur, dan sesekali berantem sama bayangannya sendiri? Ternyata, urusan cari-mencari makna ini ada penjelasan ilmiah, psikologis, sampai curhatan sosialnya yang lumayan dalam.

Otak Kita Memang Didisain Buat 'Kepo'

Secara biologis, manusia itu punya "perangkat keras" yang berbeda di kepalanya. Kita punya yang namanya korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab buat perencanaan masa depan dan berpikir abstrak. Inilah alasan kenapa kita nggak bisa cuma hidup buat hari ini. Otak kita selalu menuntut narasi. Kita nggak cuma butuh makan buat kenyang, tapi kita juga pengen tahu kenapa kita harus makan, dengan siapa kita makan, dan apakah makanan itu punya dampak buat keberlangsungan semesta. Ribet, kan?

Manusia itu makhluk pencari pola. Kita melihat bintang-bintang di langit dan menghubungkannya jadi rasi bintang. Kita melihat kejadian acak dalam hidup dan mencoba menyambungkannya jadi sebuah "takdir". Mencari tujuan hidup adalah cara otak kita memberikan struktur pada kekacauan dunia. Tanpa tujuan, hidup ini terasa kayak nonton film Marvel tapi cuma potong-potongan adegan doang—nggak ada benang merahnya, bikin pusing, dan nggak memuaskan sama sekali.

Ego, Validasi, dan Tekanan Media Sosial

Jujur saja, pencarian tujuan hidup zaman sekarang sering kali tercampur aduk sama yang namanya FOMO (Fear Of Missing Out). Kita hidup di era di mana "passion" dan "ikigai" jadi kata-kata yang dilempar ke mana-mana seolah-olah kalau kita nggak punya itu, kita gagal jadi manusia. Media sosial bikin kita merasa kalau tujuan hidup itu harus sesuatu yang megah: jadi aktivis lingkungan, keliling dunia, atau bikin startup yang valuasinya triliunan.

Kadang, kita mencari tujuan hidup bukan karena benar-benar butuh, tapi karena minder melihat orang lain kelihatan punya pegangan yang kuat. Kita merasa harus punya "label" supaya dianggap ada. Padahal, bisa jadi tujuan hidup seseorang itu sesederhana bisa bayar cicilan tepat waktu atau memastikan kucing di rumah nggak kelaparan. Tapi ya gitu, tuntutan sosial sering kali bikin standar tujuan hidup jadi setinggi langit, sampai kita lupa napas karena ngejarnya.

Tujuan Hidup Sebagai Jangkar Saat Badai Datang

Ada seorang psikolog ternama bernama Viktor Frankl, yang juga penyintas kamp konsentrasi Nazi. Dia bilang kalau manusia bisa bertahan dalam kondisi paling mengerikan sekalipun asalkan mereka punya "makna" yang dipegang. Di sini kita paham kalau tujuan hidup itu fungsinya bukan cuma buat gaya-gayaan di bio Instagram, tapi sebagai mekanisme pertahanan diri. Hidup ini, mau diakui atau nggak, isinya sering kali penderitaan dan masalah yang datang silih berganti.

Saat hidup lagi berantakan—putus cinta, di-PHK, atau kehilangan orang tersayang—tujuan hidup bertindak sebagai jangkar. Kalau kita nggak punya "alasan untuk bangun pagi", kita bakal gampang banget terseret arus depresi yang dalam. Mencari tujuan adalah cara kita berkata pada diri sendiri, "Oke, sekarang emang lagi capek, tapi gue harus bertahan karena ada sesuatu yang lagi gue tuju." Jadi, ini semacam kompas biar kita nggak tersesat di tengah rimba kehidupan yang makin ke sini makin nggak masuk akal.

Mungkin Tujuannya Adalah Mencari Itu Sendiri?

Ada pendapat menarik yang bilang kalau mungkin tujuan hidup itu bukan sebuah destinasi, tapi proses pencariannya itu sendiri. Kedengarannya klise banget ya, kayak kutipan di tumbler kopi? Tapi coba pikirin deh. Kalau dari umur 20 tahun kita sudah tahu pasti akhir hidup kita bakal gimana, hidup bakal jadi ngebosenin banget. Kayak main game tapi sudah tahu cheat-nya, nggak ada tantangannya lagi.

Proses kita gonta-ganti minat, gagal di satu bidang, pindah ke bidang lain, jatuh cinta, patah hati, dan mencoba hal-hal baru, itulah yang sebenarnya membentuk kita. Manusia mencari tujuan hidup karena kita adalah makhluk yang terus bertumbuh. Kita nggak statis. Apa yang menurut kita penting di usia 17 tahun pasti beda sama apa yang kita anggap penting di usia 30 tahun. Dan itu normal banget.

Jangan Terlalu Terbebani, Hidup Bukan Lomba Lari

Pada akhirnya, kenapa manusia mencari tujuan hidup? Karena kita butuh alasan untuk terus merasa "hidup" di tengah dunia yang kadang terasa robotik dan dingin. Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita di sini ada gunanya, sekecil apa pun itu. Tapi ingat, jangan sampai pencarian makna ini malah bikin kamu stres sendiri sampai lupa menikmati momen sekarang.

Nggak masalah kalau sampai detik ini kamu masih belum tahu apa tujuan hidupmu. Nggak masalah kalau tujuanmu cuma pengen jadi orang baik yang nggak nyusahin orang lain. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat nemu "panggilan jiwa", tapi tentang bagaimana kita menjalani setiap detiknya dengan kesadaran penuh. Jadi, kalau besok pagi kamu bangun dan merasa tujuanmu cuma pengen minum kopi sambil liatin burung gereja di kabel listrik, lakukanlah. Itu juga sebuah makna, lho. Selamat mencari, atau selamat menikmati ketidaktahuan!

Logo Radio
🔴 Radio Live