Ceritra
Ceritra Warga

Dari Labubu ke Tren Baru: Mengapa Kita Selalu Merasa Ketinggalan?

Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 02:15 PM

Background
Dari Labubu ke Tren Baru: Mengapa Kita Selalu Merasa Ketinggalan?

Pernah nggak sih kalian ngerasa baru aja kemarin belajar cara joget lagu yang lagi viral di TikTok, eh, pas hari ini mau posting, lagu itu udah dianggap garing alias cringe? Atau mungkin baru minggu lalu kalian check-out gantungan boneka Labubu biar kelihatan skena, tiba-tiba minggu ini orang-orang udah beralih ngomongin tren lain yang nggak kalah aneh. Kalau kalian ngerasa napas kalian megap-megap ngejar apa yang lagi "in" sekarang, tenang, kalian nggak sendirian. Kita semua lagi kejebak dalam mesin waktu digital yang larinya lebih kencang daripada cicilan paylater.

Dulu, zaman kakak atau orang tua kita, yang namanya tren itu bisa awet bertahun-tahun. Tren celana cutbray atau rambut mullet nggak ilang dalam semalam. Mereka butuh waktu buat nyebar lewat majalah, koran, atau TV. Tapi sekarang? Internet udah ngerombak cara kita mengonsumsi informasi. Tren di era digital itu ibarat makanan cepat saji: enak pas dimakan sekarang, tapi satu jam kemudian udah bikin laper lagi. Fenomena ini sebenernya punya penjelasan yang masuk akal, bukan cuma karena kita gampang bosenan.

Diktator Bernama Algoritma

Pelaku utama di balik cepatnya pergantian tren ini nggak lain dan nggak bukan adalah algoritma. Coba perhatiin deh, For You Page (FYP) di TikTok atau Reels di Instagram itu sifatnya personal banget tapi sekaligus massal. Begitu ada satu hal yang dapet engagement tinggi, algoritma bakal terus-terusan nyodorin konten serupa ke jutaan orang di saat yang bersamaan. Hasilnya? Ledakan informasi yang luar biasa masif.

Masalahnya, karena semua orang ngelihat hal yang sama secara terus-menerus, titik jenuh kita jadi makin cepat tercapai. Sesuatu yang unik bakal cepet banget jadi pasaran. Begitu sebuah lelucon atau gaya berpakaian udah dipake sama jutaan orang dalam waktu tiga hari, nilainya sebagai sesuatu yang "eksklusif" atau "keren" langsung anjlok. Kita jadi ngerasa udah terlalu sering denger atau ngelihat itu, dan otak kita secara otomatis teriak: "Next! Kasih gue yang baru!"

Budaya FOMO dan Haus Validasi

Jangan lupakan faktor psikologis kita sebagai makhluk sosial yang takut ketinggalan alias FOMO (Fear of Missing Out). Di era digital, nggak tahu apa yang lagi viral itu rasanya kayak jadi orang asing di tongkrongan sendiri. Kita ngerasa punya kewajiban buat minimal "paham" apa yang lagi dibahas biar nggak dibilang kuper atau nggak asik. Validasi sosial sekarang bukan lagi soal seberapa pinter kita, tapi seberapa "nyambung" kita sama topik-topik receh yang lagi lewat di timeline.

Kondisi ini bikin orang berlomba-lomba buat jadi yang paling pertama atau yang paling kreatif dalam ngikutin tren. Sayangnya, karena saking banyaknya orang yang ikutan, tren itu sendiri jadi makin cepet aus. Ibarat sebuah lagu yang diputer 24 jam nonstop di setiap sudut jalan, sebagus apa pun lagunya, lama-lama telinga kita bakal capek juga. Begitu tren itu udah masuk ke tahap "semua orang melakukannya", para trendsetter awal biasanya bakal kabur nyari hal baru yang belum terjamah publik luas, dan siklusnya pun mulai lagi dari nol.

Komersialisasi dan Cepatnya Industri

Kalau kita ngomongin fashion, ada istilah yang namanya "micro-trends". Dulu industri fashion punya musim: gugur, dingin, semi, panas. Sekarang? Berkat adanya brand fast-fashion raksasa yang bisa produksi baju dalam hitungan hari setelah desainnya viral, kita punya ribuan mikro-tren tiap tahun. Ada "coquette aesthetic", "gorpcore", "mob wife aesthetic", dan entah apa lagi istilahnya nanti bulan depan.

Industri sekarang udah pinter banget ngeliat celah. Mereka nggak nunggu tren terbentuk secara alami, tapi mereka ikut "menggoreng" tren itu lewat influencer dan iklan yang terselubung. Brand-brand besar sekarang punya tim khusus buat mantau meme apa yang lagi laku supaya mereka bisa jualan pake gaya bahasa anak muda. Lucunya, begitu sebuah brand gede ikutan pake meme tersebut, biasanya saat itulah tren itu resmi mati karena dianggap udah nggak organik lagi. Udah jadi jualan, bukan lagi ekspresi murni.

Apakah Ini Melelahkan? Banget!

Jujur aja, sebenernya capek nggak sih harus terus-terusan update? Banyak dari kita yang sebenernya cuma pengen duduk tenang tanpa perlu mikirin apakah outfit kita hari ini masih relevan atau udah dianggap "bapak-bapak core". Kecepatan tren ini bikin kita kehilangan kemampuan buat bener-bener menikmati sesuatu secara mendalam. Kita cuma scroll, tap, like, terus lupa. Kita mengonsumsi tren bukan karena kita beneran suka, tapi karena kita cuma pengen tetep relevan di mata dunia maya.

Mungkin ada baiknya kita mulai sedikit ngerem. Nggak semua yang viral harus diikutin, nggak semua yang baru harus dibeli. Kadang, jadi orang yang "ketinggalan zaman" itu malah bikin mental lebih sehat. Kita nggak lagi dikejar-kejar oleh algoritma yang nggak punya rasa capek. Lagipula, kalau tren emang muternya secepat itu, siapa tahu baju jadul yang ada di lemari kalian bakal viral lagi dalam dua minggu ke depan, kan? Jadi, nggak usah terlalu pusing sama apa yang lagi rame di FYP. Santai aja, paling besok juga udah ganti lagi.

Logo Radio
🔴 Radio Live