Ceritra
Ceritra Warga

Ujung Pulpen Hancur? Simak Alasan di Balik Kebiasaan Unik Ini

Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 01:15 PM

Background
Ujung Pulpen Hancur? Simak Alasan di Balik Kebiasaan Unik Ini

Pernah nggak sih lo lagi asyik-asyiknya bengong, entah itu pas nungguin dosen yang nggak kunjung datang atau pas lagi buntu banget mikirin revisi kerjaan, tiba-tiba lo sadar kalau ujung pulpen lo udah penuh bekas gigitan? Teksturnya yang tadinya mulus berubah jadi bergerigi, bahkan ada yang sampai gepeng atau pecah-pecah. Jujurly, ini adalah kebiasaan yang sebenernya agak jorok, tapi entah kenapa rasanya nikmat banget buat dilakuin.

Lo nggak sendirian. Fenomena gigit pulpen ini udah kayak "penyakit" massal yang menjangkiti siapa aja, mulai dari anak SD yang lagi pusing ngerjain soal matematika sampai CEO perusahaan yang lagi mikirin strategi kuartal depan. Masalahnya, kenapa sih mulut kita kayak punya magnet yang menarik benda-benda berbahan plastik ini ke dalam sana? Apakah kita sebenernya titisan kuda nil yang hobi ngunyah, atau ada penjelasan ilmiah yang lebih masuk akal di baliknya?

Katarsis di Tengah Tekanan Deadline

Secara psikologis, kebiasaan menggigit pulpen sering banget dikaitkan dengan mekanisme koping terhadap stres. Pas otak lo lagi "overheat" karena tekanan atau rasa cemas, tubuh kita secara instinktif mencari cara untuk menyalurkan energi negatif itu. Menggigit pulpen memberikan sensasi kontrol dan pelepasan. Ada kepuasan tersendiri pas gigi kita beradu dengan kerasnya plastik pulpen, semacam pengalihan rasa frustrasi yang tersumbat di kepala.

Beberapa ahli menyebutkan bahwa ini adalah bentuk dari stimulasi diri. Saat kita merasa bosan atau justru terlalu tegang, melakukan sesuatu yang repetitif—seperti menggigit pulpen, ngetuk-ngetuk meja, atau muterin rambut—bisa membantu otak untuk tetap fokus. Jadi, secara nggak sadar, lo lagi nyoba buat menenangkan sistem saraf lo sendiri lewat bantuan alat tulis seharga dua ribuan itu.

Teori Oral Fixation yang Sedikit "Deep"

Kalau kita mau tarik ke teori yang agak berat, ada istilah yang namanya oral fixation yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud. Menurutnya, manusia itu punya fase-fase perkembangan, dan fase pertama adalah fase oral. Nah, kalau ada kebutuhan yang nggak terpenuhi di masa kecil atau justru terlalu dimanjain, perilaku ini bisa kebawa sampai dewasa. Orang-orang ini cenderung mencari kenyamanan lewat mulut, bisa dengan merokok, makan berlebihan, atau ya itu tadi, gigit-gigit pulpen.

Tapi tenang, lo nggak perlu buru-buru ke psikolog cuma gara-gara pulpen lo hancur. Dalam konteks modern, perilaku ini lebih sering dilihat sebagai kebiasaan impulsif yang dipicu oleh lingkungan. Kadang kita cuma butuh sesuatu buat dikunyah karena sensasi motoriknya bikin rileks, mirip-mirip kayak orang yang hobi ngunyah es batu padahal giginya udah ngilu semua.

Tekstur Plastik yang Bikin "Gemas"

Selain faktor stres, ada sisi sensorik yang nggak bisa dikesampingkan. Pernah nggak lo ngerasain pulpen yang teksturnya agak empuk atau ada lapisan karetnya? Itu adalah "surga" buat para penggigit pulpen. Rasanya kayak ada perlawanan dari benda itu pas kita gigit, dan sensasi "krak" kecil saat plastiknya menyerah itu bikin nagih. Ini yang sering disebut sebagai satisfying feeling yang bikin kita lupa kalau pulpen itu sebenernya benda mati yang nggak punya dosa.

Belum lagi kalau kita ngomongin soal pulpen legendaris macam Pilot atau Snowman. Ada sensasi berbeda dari tiap merek. Ada yang plastiknya renyah, ada yang alot, dan ada yang pahit-pahit gimana gitu kalau ternyata ada sisa tinta yang bocor. Di titik ini, kita mungkin harus mulai mempertanyakan selera kuliner kita yang agak menyimpang ini.

Bahaya Laten di Balik Kebiasaan Nguyah Pulpen

Okelah, gigit pulpen emang bikin rileks, tapi mari kita bicara fakta pahitnya. Pertama: Higienitas. Lo tahu nggak pulpen itu udah mampir ke mana aja? Pernah jatuh ke lantai, dipinjem temen yang tangannya keringetan, atau ditaruh di dalam tas yang jarang dicuci. Bayangin berapa juta bakteri yang langsung pindah ke mulut lo pas lo mulai "ngemil" pulpen itu. Hiii, agak geli juga kalau dipikir-pikir.

Kedua: Masalah gigi. Email gigi itu kuat, tapi kalau terus-terusan diadu sama plastik keras, lama-lama bisa terkikis juga. Belum lagi risiko kalau pulpennya pecah dan serpihannya melukai gusi atau malah ketelen. Dan yang paling epik adalah saat lo lagi serius rapat, tiba-tiba cartridge tintanya pecah di dalem mulut. Selamat, lo bakal berubah jadi karakter Smurf dalam sekejap dengan bibir dan lidah berwarna biru pekat yang susah banget hilangnya.

Gimana Caranya Biar Berhenti?

Kalau lo udah ngerasa level gigit pulpen lo udah masuk tahap "mengkhawatirkan"—misalnya tiap beli pulpen baru, sorenya udah nggak berbentuk—mungkin saatnya lo cari pelarian lain. Coba ganti dengan permen karet yang nggak mengandung gula. Setidaknya mulut lo tetep sibuk tapi nggak bikin gigi rusak atau keracunan tinta.

Cara lain yang lebih kekinian adalah pakai fidget toys. Sekarang banyak banget mainan yang didesain khusus buat tangan-tangan yang nggak bisa diem. Atau, kalau lo mau cara yang agak ekstrem dan tradisional, coba olesin sedikit minyak kayu putih atau sesuatu yang pahit di ujung pulpen lo. Dijamin, pas lo nggak sadar mau gigit, indra perasa lo bakal langsung ngasih sinyal darurat buat berhenti.

Akhir kata, menggigit pulpen emang udah jadi bagian dari budaya kerja dan belajar kita yang penuh tekanan. Ini adalah cara unik manusia buat bertahan hidup di tengah badai tugas yang nggak ada habisnya. Tapi ya jangan keterusan juga. Sayangi gigi lo, sayangi kesehatan lo, dan yang paling penting, sayangi pulpen lo—kasihan dia, niatnya mau bantu lo nulis, eh malah berakhir jadi korban kunyah.

Logo Radio
🔴 Radio Live