Ceritra
Ceritra Warga

Anak Lewati Fase Merangkak? Waspadai Dampaknya di Masa Depan

Shannon - Thursday, 21 May 2026 | 02:00 PM

Background
Anak Lewati Fase Merangkak? Waspadai Dampaknya di Masa Depan
Bayi merangkak (Happy Little Sleeper/)

Kenapa Anak yang Langsung Jalan Tanpa Merangkak Berisiko Jadi Si Paling Ceroboh Pas Gede?

Pernah nggak sih kamu lagi kumpul keluarga atau arisan, terus ada satu tante yang dengan bangganya pamer kalau anaknya "ajaib"? Katanya, si kecil itu pinter banget karena nggak pakai acara merangkak dulu, eh tiba-tiba umur sembilan bulan sudah bisa berdiri tegak dan jalan dengan gagah berani. Di telinga orang awam, ini terdengar seperti pencapaian luar biasa, seolah si anak punya bakat jadi atlet lari olimpiade sejak dini. Tapi, jujurly, di mata para ahli perkembangan anak, fenomena "skip" merangkak ini sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dirayakan secara berlebihan, malah sering kali jadi lampu kuning.

Ada anggapan yang salah kaprah di masyarakat kita bahwa tumbuh kembang anak itu seperti balapan Formula 1. Semakin cepat sampai garis finish (bisa jalan), semakin hebat. Padahal, fase perkembangan motorik itu lebih mirip membangun fondasi rumah. Kalau kamu buru-buru pasang atap tanpa memastikan tiang penyangganya kuat, ya jangan kaget kalau pas ada angin dikit, rumahnya langsung goyang. Nah, merangkak itu adalah salah satu tiang penyangga yang paling krusial bagi otak dan fisik anak.

Jembatan Rahasia Antara Otak Kiri dan Kanan

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa sih susahnya cuma ngesot-ngesot di lantai pakai lutut? Eits, jangan salah. Secara psikologi dan neurologi, merangkak adalah proses sinkronisasi otak yang sangat kompleks. Saat bayi merangkak, mereka menggunakan gerakan menyilang atau cross-lateral movement. Tangan kanan maju, kaki kiri ikut, lalu sebaliknya. Gerakan ini memaksa otak kiri dan otak kanan untuk saling berkomunikasi melalui sebuah jembatan yang namanya corpus callosum.

Kalau fase ini dilewati, jembatan komunikasi di otak tadi nggak terasah secara maksimal. Efeknya apa? Pas sudah gede, koordinasi tubuh bisa jadi agak berantakan. Ini bukan cuma soal fisik, tapi juga soal bagaimana otak memproses informasi visual dan spasial. Anak yang kurang merangkak sering kali punya masalah dengan persepsi jarak. Mereka susah memperkirakan, "Ini meja jaraknya berapa senti ya dari pinggul gue?" Hasilnya? Ya itu tadi, sering banget nabrak ujung meja, kesandung jempol sendiri, atau menjatuhkan gelas yang niatnya mau diambil pelan-pelan.

Si Paling Ceroboh dan Misteri Koordinasi Motorik

Pernah punya temen yang kalau jalan kelihatannya nggak stabil, atau yang kalau naruh barang pasti meleset? Atau mungkin kamu sendiri ngerasa sering banget "clumsy" atau ceroboh tanpa alasan jelas? Coba tanya orang tuamu, dulu merangkak nggak? Dalam dunia psikologi perkembangan, kecerobohan berlebih ini sering dikaitkan dengan motorik kasar yang belum tuntas di masa bayi.

Merangkak melatih kekuatan otot bahu, pergelangan tangan, dan telapak tangan. Saat bayi menumpu berat badan dengan tangan, mereka sebenarnya sedang mempersiapkan kekuatan untuk motorik halus di masa depan, seperti memegang pensil, menulis, atau mengancingkan baju. Anak yang skip merangkak sering kali punya tangan yang "lemah" atau kaku. Jadi, kalau pas SD tulisan tangannya mirip ceker ayam atau sering ngeluh capek pas nulis, bisa jadi akarnya ada di lantai ruang tamu belasan tahun yang lalu.

Nggak cuma itu, merangkak juga melatih fokus mata. Saat merangkak, bayi melihat ke arah lantai (jarak dekat) lalu mendongak melihat tujuan mereka (jarak jauh). Latihan fokus jarak dekat-jauh yang bergantian ini penting banget buat kemampuan membaca nantinya. Bayangkan, satu fase sederhana ternyata efek dominonya sampai ke urusan akademik dan kehidupan sosial.

Kenapa Bisa Skip? Dan Apakah Masih Bisa Diperbaiki?

Zaman sekarang, banyak banget faktor yang bikin bayi "malas" merangkak. Salah satunya adalah terlalu sering ditaruh di baby walker atau terlalu lama digendong. Memang sih, naruh anak di baby walker bikin mereka anteng dan bisa eksplorasi rumah dengan cepat, tapi itu sebenarnya "curang" karena kaki mereka dipaksa menumpu sebelum ototnya siap. Selain itu, lantai yang terlalu licin atau lingkungan yang kurang aman juga bikin orang tua takut membiarkan anaknya "ngelantai".

Lalu, kalau anak sudah terlanjur jalan tanpa merangkak, apakah masa depannya suram? Ya nggak juga, dong. Kita nggak boleh se-drama itu. Otak manusia itu punya sifat plasticity, artinya bisa dilatih. Kalau anak atau bahkan kamu sendiri merasa kurang koordinasi, coba deh ikut kegiatan yang memicu motorik silang. Berenang, panjat tebing, atau bahkan sekadar main gim yang butuh koordinasi tangan dan mata bisa membantu.

Untuk para orang tua baru, kuncinya adalah jangan terlalu ambisius pengen anak cepat jalan. Berikan mereka waktu tummy time atau tengkurap yang cukup sejak dini. Biarkan mereka mengeksplorasi debu-debu di lantai (tentunya setelah dibersihkan, ya!). Kalau mereka mulai menunjukkan tanda-tanda mau merangkak, dukung! Taruh mainan kesukaan mereka agak jauh biar mereka berusaha meraihnya dengan gerakan menyilang.

Jangan Remehkan Proses

Pada akhirnya, tumbuh kembang anak bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang prosesnya paling matang. Kita hidup di era yang serba instan, tapi untuk urusan biologi manusia, nggak ada yang namanya jalan pintas. Merangkak mungkin terlihat sepele dan bikin lutut bayi jadi hitam atau kasar, tapi manfaat di baliknya adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental dan fisiknya.

Jadi, kalau nanti ada yang pamer anaknya langsung jalan, kamu nggak perlu minder atau merasa gagal jadi orang tua. Justru ingatkan dirimu sendiri kalau tiap fase itu ada maknanya. Lebih baik punya anak yang telat jalan dikit tapi koordinasi tubuhnya mantap, daripada cepat jalan tapi tiap lima langkah nyenggol pot bunga. Ingat, menjadi "clumsy" itu mungkin terdengar imut di film komedi romantis, tapi dalam kehidupan nyata, koordinasi tubuh yang baik adalah kunci kepercayaan diri dan ketangkasan dalam menghadapi dunia.

Mari kita beri ruang lebih luas buat bayi-bayi kita untuk jadi "penjelajah lantai". Karena dari sanalah, jalinan saraf di otak mereka mulai merajut kecerdasan dan keseimbangan yang akan mereka bawa sampai tua nanti. Jangan paksa mereka berdiri sebelum mereka benar-benar tahu caranya jatuh dan bangun dari posisi merangkak yang rendah hati.

Logo Radio
🔴 Radio Live