Ceritra
Ceritra Warga

Dari Lapangan Bola ke Trading: Pergeseran Cita-Cita Generasi Z

Shannon - Wednesday, 20 May 2026 | 05:00 PM

Background
Dari Lapangan Bola ke Trading: Pergeseran Cita-Cita Generasi Z
Trader (Wallpaper.com/)

Ambisi Cuan di Usia Belia: Antara Mimpi Jadi Sultan dan Jebakan Pompom Influencer

Kalau kita menoleh ke sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, cita-cita anak laki-laki yang masih berseragam sekolah biasanya nggak jauh-jauh dari jadi pilot, pemain bola, atau mungkin menteri kalau lagi rajin baca buku kewarganegaraan. Tapi coba tanya anak SMA atau mahasiswa semester awal zaman sekarang. Jawabannya mungkin bakal bikin dahi berkerut: Jadi full-time trader, dapet passive income dari crypto, atau minimal jadi influencer yang kerjaannya cuma pamer saldo akun sekuritas sambil minum kopi di Senopati.

Ada pergeseran paradigma yang gila-gilaan soal cara anak muda memandang uang. Di satu sisi, ini bagus. Anak muda sekarang sudah kenal yang namanya literasi keuangan. Mereka nggak lagi cuma nabung di celengan ayam yang bunganya dimakan rayap. Tapi di sisi lain, ada aroma ambisi yang agak "maksa" dan cenderung toksik. Semuanya gara-gara satu kata keramat: gaya hidup. Menjadi kaya bukan lagi soal keamanan finansial di masa tua, tapi soal seberapa keren lo terlihat di mata teman tongkrongan saat ini juga.

Wajah Investasi yang Jadi Konten

Masuknya gelombang investasi ke kalangan remaja laki-laki ini nggak lepas dari peran para influencer investasi yang menjamur di TikTok dan Instagram. Mereka tampil dengan persona yang sangat menggoda: muda, kaya, punya mobil sport, dan sering liburan ke luar negeri. Narasi yang dibangun biasanya seragam, "Gue bisa begini karena berani ambil risiko di kripto atau saham. Masa lo mau jadi budak korporat selamanya?"

Kalimat-kalimat semacam itu adalah racun yang dibungkus madu buat anak muda yang darahnya lagi panas-panasnya. Bagi seorang remaja laki-laki yang dunianya masih didominasi oleh persaingan ego dan keinginan untuk diakui, narasi "cepat kaya" adalah jalan pintas menuju puncak rantai makanan sosial. Mereka nggak lagi melihat grafik hijau dan merah di layar HP sebagai instrumen ekonomi, tapi sebagai tiket untuk beli sepatu Jordan terbaru atau sekadar pamer di Instagram Story dengan caption yang sok bijak soal kemandirian finansial.

Masalahnya, banyak dari influencer ini yang lebih mirip tukang obat daripada penasihat keuangan. Mereka melakukan apa yang disebut sebagai pompom—menggiring massa buat beli koin atau saham tertentu supaya harganya naik, lalu mereka jualan di pucuk (exit liquidity). Anak-anak muda yang modalnya cuma uang jajan atau hasil jual motor pemberian orang tua akhirnya cuma bisa gigit jari saat harganya terjun bebas. Istilahnya: boncos berjamaah.

Keren-kerenan yang Berujung Boncos

Kenapa sih anak muda sekarang segitunya pengen kelihatan tajir lewat investasi? Jawabannya adalah tekanan gaya hidup. Di era media sosial, kemiskinan itu seolah-olah jadi aib yang harus ditutupi rapat-rapat. Ada semacam standar tidak tertulis kalau lo nggak punya side hustle atau nggak main kripto, lo dianggap "cupu" atau nggak adaptif sama zaman.

Kita sering melihat fenomena di mana anak-anak muda ini lebih peduli pada estetika daripada logika. Mereka sanggup nongkrong di kafe mahal berjam-jam sambil memelototi candlestick di layar MacBook (yang mungkin cicilannya belum lunas), hanya supaya terlihat seperti pengusaha muda yang sibuk. Padahal, sering kali yang terjadi adalah mereka cuma tebak-tebak buah manggis di aplikasi trading binary option yang jelas-jelas lebih mirip judi daripada investasi.

Gaya hidup "keren-kerenan" ini menciptakan lingkaran setan. Ambisi untuk cepat kaya membuat mereka mengambil risiko yang nggak masuk akal. Begitu rugi, mereka bukannya belajar, malah makin nekat buat "balas dendam" ke pasar. Ujung-ujungnya, bukan jadi sultan, malah jadi beban keluarga. Ironisnya, di tengah kegagalan itu, mereka tetap harus menjaga image di media sosial. Tetap posting foto kopi mahal, meski saldo di rekening tinggal sisa minimum.

Antara Realitas dan Ekspektasi

Mari kita bicara jujur. Nggak ada yang salah dengan keinginan jadi kaya di usia muda. Tapi yang sering dilupakan adalah prosesnya. Influencer yang lo tonton itu mungkin punya privilege yang nggak lo punya, atau mereka sebenarnya cari duit dari jualan kursus, bukan dari trading itu sendiri. Ada gap yang sangat lebar antara layar smartphone dan realitas di lapangan.

Anak muda, terutama remaja laki-laki, sering kali terjebak dalam maskulinitas yang salah arah soal uang. Mereka merasa harga diri mereka ditentukan oleh angka di portofolio. Padahal, di usia belasan atau awal dua puluhan, investasi terbaik sebenarnya bukan di koin micin atau saham gorengan, tapi di otak sendiri. Belajar skill baru, bangun relasi, atau sesederhana belajar gimana caranya nggak gampang kena tipu skema ponzi berkedok investasi.

  • Investasi itu maraton, bukan sprint 100 meter. Kalau ada yang nawarin profit 10% tiap minggu tanpa risiko, fix itu bohong.
  • Gaya hidup yang dipaksakan cuma bakal bikin lo capek sendiri. Nggak perlu pamer portofolio buat dapet pengakuan.
  • Kripto dan saham itu alat, bukan agama. Jangan terlalu fanatik sampai-sampai nggak logis lagi dalam mengambil keputusan.

Menemukan Kembali Makna Ambisi

Jadi, apakah ambisi anak muda soal keuangan ini harus dikubur? Tentu saja tidak. Kita butuh anak muda yang melek finansial. Kita butuh generasi yang nggak gampang disetir oleh sistem ekonomi yang usang. Tapi, ambisi itu harus dibarengi dengan kewarasan. Menjadi keren nggak harus selalu soal punya aset digital yang nilainya fluktuatifnya lebih parah dari mood gebetan.

Keren yang sebenarnya adalah ketika lo tahu kapan harus berhenti mengikuti arus. Ketika lo berani bilang "nggak punya duit" daripada harus memaksakan diri investasi pakai uang pinjol. Ketika lo sadar bahwa hidup bukan cuma soal angka di layar, tapi soal pengalaman-pengalaman nyata yang nggak bisa dibeli pakai Bitcoin.

Pada akhirnya, tren investasi di kalangan anak muda ini bakal terus ada. Influencer baru bakal muncul dengan janji-janji yang lebih manis lagi. Tinggal kitanya saja yang harus pintar-pintar memfilter. Jangan sampai karena ambisi ingin jadi "The Next Wolf of Wall Street", lo malah berakhir jadi "The Victim of Wall Street". Tetaplah ambisius, tetaplah ingin cuan, tapi jangan lupa pakai logika. Karena di dunia keuangan yang keras ini, pasar nggak bakal peduli seberapa keren feed Instagram lo kalau strategi lo cuma modal nekat dan ikut-ikutan.

Logo Radio
🔴 Radio Live