5 Menit Lagi: Kebohongan Paling Manis yang Kita Telan Bulat-Bulat
Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 07:15 PM
Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau waktu itu punya kepribadian ganda? Pas lagi nunggu jemputan atau antre boba yang lagi viral, lima menit rasanya kayak nungguin hilal yang nggak kunjung muncul. Lama banget, sampai-sampai kamu bisa dengerin satu album Taylor Swift bolak-balik. Tapi coba deh, bandingin pas alarm bunyi jam 6 pagi. Di momen itu, kalimat "cuma lima menit lagi" tiba-tiba jadi mantra paling sakti sekaligus kebohongan paling hakiki yang pernah diciptakan umat manusia.
Kita semua tahu akhir ceritanya. Lima menit itu nggak pernah beneran cuma lima menit. Begitu merem lagi, eh, tau-tau dunia sudah berputar satu jam lebih cepat, matahari sudah makin tinggi, dan grup WhatsApp kantor sudah ramai dengan tagihan laporan. Pertanyaannya, kenapa sih kita hobi banget membohongi diri sendiri dengan angka "5 menit" itu? Kenapa nggak 7 menit, 12 menit, atau sekalian aja sejam? Ternyata, di balik kebiasaan yang sering bikin kita telat ini, ada campur tangan psikologi, biologi, sampai urusan dopamine yang emang agak bandel.
Pertempuran Antara Otak Emosional vs Otak Logika
Secara sains, fenomena "lima menit lagi" ini sering dikaitkan dengan konflik internal di dalam tempurung kepala kita. Bayangkan ada dua bos di otak kamu. Bos pertama adalah Prefrontal Cortex, bagian yang logis, dewasa, dan tahu kalau kamu harus mandi biar nggak telat rapat. Bos kedua adalah Sistem Limbik, bagian purba yang cuma pengen senang-senang, nyaman, dan rebahan. Pas alarm bunyi, dua bos ini berantem.
Si Limbik bakal bisikin, "Eh, bantalnya masih empuk nih, di luar dingin, merem dikit lagi lah." Sementara si Prefrontal berusaha teriak, "Woi, inget cicilan! Inget KPI!" Masalahnya, pas kita baru bangun tidur, si bos logis ini belum dapet kopi, dia masih lemot. Akhirnya, si bos emosional menang dengan argumen andalannya: "Cuma lima menit kok, nggak bakal telat-telat amat." Dan boom! Kita pun terjebak dalam jebakan Batman yang kita bikin sendiri.
Optimisme Berlebihan alias Planning Fallacy
Selain masalah bangun pagi, kalimat "lima menit lagi" juga sering muncul pas kita lagi asyik main gadget atau ngerjain sesuatu. "Bentar ya, satu video TikTok lagi, lima menit aja," atau "Dikit lagi nih, lima menit lagi selesai laporannya." Di sini, kita kena yang namanya planning fallacy. Ini adalah kecenderungan manusia untuk meremehkan waktu yang dibutuhkan buat nyelesain sebuah tugas.
Kita ngerasa lima menit itu cukup buat nge-scroll timeline, padahal algoritma media sosial itu didesain biar kamu lupa waktu. Begitu kamu masuk ke rabbit hole video kucing lucu atau gosip artis yang lagi cerai, konsep waktu beneran hilang dari peradaban. Kita merasa punya kontrol, padahal kita cuma penumpang di kereta yang remnya blong. Kita optimis banget bisa berhenti dalam lima menit, padahal kenyataannya otak kita lagi dapet asupan dopamine yang bikin ketagihan.
Budaya "Bentar Lagi" di Indonesia
Kalau kita geser dikit ke konteks sosial di Indonesia, "lima menit lagi" itu sudah jadi bahasa kode yang universal. Kalau kamu janjian sama temen jam 4 sore, terus jam 4 lewat 15 kamu tanya "Posisi di mana?", jawabannya pasti "Bentar, lima menit lagi sampai." Padahal, mungkin dia baru banget mau pakai handuk atau malah masih nyari kunci motor yang nyelip di sofa.
Di sini, "lima menit lagi" bukan lagi soal durasi waktu, tapi soal basa-basi sosial biar yang nunggu nggak emosi-emosi banget. Kita pakai angka lima menit karena itu angka yang terdengar sopan dan nggak terlalu mengancam. Bayangin kalau temen kamu jujur bilang, "Gue baru mau mandi nih, tungguin ya 45 menit lagi." Wah, bisa-bisa pertemanan kalian bubar di tempat. Jadi, lima menit itu semacam pelumas sosial supaya hubungan antarmanusia tetap berjalan mulus, meskipun penuh dengan kepalsuan yang kita semua sudah maklumi.
Kenapa Susah Banget Buat Berhenti?
Jujurly, kita suka bilang lima menit lagi karena kita takut kehilangan momen kenyamanan. Ada rasa sakit yang kecil (tapi nyata) pas kita harus ninggalin kasur yang anget atau berhenti dari aktivitas yang bikin kita seneng. Psikologi menyebutnya sebagai loss aversion, di mana kita lebih takut kehilangan sesuatu yang udah kita pegang (kenyamanan) daripada dapet manfaat dari hal yang harusnya kita lakuin (nggak telat kerja).
Selain itu, ada faktor "Zeigarnik Effect" kalau urusannya sama kerjaan atau main game. Otak kita itu paling nggak suka sama hal yang belum tuntas. Kalau kita lagi asyik dan harus berhenti tiba-tiba, rasanya kayak ada yang ganjel. Makanya kita minta tambahan waktu lima menit lagi buat "menyelesaikan" apa yang lagi kita lakuin, padahal ya nggak bakal pernah benar-benar selesai juga.
Kesimpulan: Berdamai dengan Si Lima Menit
Pada akhirnya, "lima menit lagi" adalah bagian dari cara manusia bertahan hidup di dunia yang serba buru-buru ini. Itu adalah bentuk pemberontakan kecil kita terhadap jadwal yang kaku dan tuntutan hidup yang nggak ada habisnya. Kita pengen punya sedikit kendali atas waktu kita sendiri, meskipun itu cuma lewat kebohongan kecil.
Mungkin solusinya bukan dengan berhenti bilang "lima menit lagi", tapi lebih ke sadar diri aja. Kalau memang mau nambah lima menit, ya sudah, nikmati bener-bener lima menit itu tanpa rasa bersalah. Tapi kalau ujung-ujungnya jadi lima puluh menit dan bikin kamu kena SP dari bos, ya itu namanya cari perkara. Jadi, buat kamu yang baca artikel ini sambil bilang "lima menit lagi mulai kerjanya", ya udah gih, lanjutin dulu scroll-nya. Tapi habis itu beneran kerja ya, jangan sampai nunggu ayam jantan berkokok lagi besok pagi!
Next News

Alasan Mengapa Merasa Dimengerti Itu Sangat Melegakan
in 3 hours

Kenapa Kita Suka Hujan Tapi Malas Kehujanan?
in 2 hours

Bahaya Berkendara Mode Autopilot: Kenapa Kita Bisa Lupa Jalan?
in 34 minutes

Krisis Eksistensial Itu Normal: Kenapa Kamu Nggak Perlu Cemas
26 minutes ago

Pengaruh Warna Terhadap Mood: Kenapa Kita Suka Bengong di Kafe?
an hour ago

Ilusi Optik: Saat Mata dan Otak Tidak Sepakat Melihat Realita
2 hours ago

Dari Labubu ke Tren Baru: Mengapa Kita Selalu Merasa Ketinggalan?
3 hours ago

Ujung Pulpen Hancur? Simak Alasan di Balik Kebiasaan Unik Ini
4 hours ago

Rahasia Lidah Api: Kenapa Selalu Menunjuk ke Langit?
5 hours ago

Hemat atau Bahaya? Batas Aman Memanaskan Sayur Sop Sisa
7 hours ago






