Ceritra
Ceritra Update

Anak Digital, Hati Budaya: DPD RI Ajak Lestarikan Warisan

- Thursday, 23 October 2025 | 03:00 PM

Background
Anak Digital, Hati Budaya: DPD RI Ajak Lestarikan Warisan

Di era digital yang serba cepat ini, kadang kita bertanya-tanya, anak-anak sekarang lebih kenal karakter kartun dari luar negeri atau pahlawan wayang dari tanah sendiri, ya? Jari-jemari mungil mereka mungkin lebih cekatan menari di layar gawai ketimbang melenggang menarikan tari daerah. Nah, kekhawatiran semacam ini ternyata bukan cuma jadi uneg-uneg bapak ibu di rumah atau guru di sekolah, lho. Bahkan sampai ke tingkat Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI! Serius.

Baru-baru ini, DPD RI mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk lebih gencar lagi melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Bukan sekadar wacana manis di atas kertas, tapi ini adalah seruan yang menurut mereka sangat krusial. Kenapa begitu? Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, blak-blakan bilang kalau pelibatan anak-anak ini adalah kunci utama untuk pelestarian budaya kita. Bayangkan saja, kalau bukan generasi penerus yang mencintai dan memahami budayanya sendiri, lalu siapa lagi? Masa iya mau berharap bule-bule yang datang liburan ke Bali terus? Enggak, kan!

Membentuk Cinta Sejak Dini: Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Petualangan!

Ide besar di balik seruan ini adalah menumbuhkan rasa cinta anak-anak terhadap warisan bangsa sejak dini. Ibarat menanam pohon, kalau bibitnya sudah kuat dan dirawat sejak kecil, nanti saat besar dia akan tumbuh kokoh dan berbuah manis. Sama halnya dengan budaya. Jika anak-anak sudah dikenalkan, diajak berinteraksi, dan merasakan langsung keindahan budaya kita sejak kecil, niscaya rasa memiliki dan bangga itu akan tumbuh subur di hati mereka. Bukan cuma sekadar tahu "oh ini budaya Indonesia," tapi lebih ke "wow, ini budaya saya, ini keren!"

DPD RI nggak cuma kasih saran tanpa solusi, lho. Mereka juga punya ide-ide konkret. Disarankan agar Kemendikbudristek memperbanyak kegiatan yang ramah anak dan pastinya seru. Contohnya? Festival-festival budaya yang penuh warna dan suara, pertunjukan seni yang memukau mata dan telinga, kunjungan ke museum yang nggak cuma bikin ngantuk tapi malah jadi petualangan mencari harta karun sejarah, sampai pelatihan di sanggar seni. Bayangin, anak-anak bisa belajar menari, memainkan alat musik tradisional, membatik, atau bahkan sekadar mendongengkan cerita rakyat. Dijamin seru, apalagi kalau dikemas dengan cara yang modern dan interaktif.

Dari Layar Gadget ke Panggung Budaya: Manfaat yang Nggak Kaleng-Kaleng

Lalu, apa sih untungnya kalau anak-anak sering diajak berkecimpung di dunia budaya? Wah, banyak banget, guys! Ini bukan cuma soal ngisi waktu luang biar nggak bosan. Ini soal investasi masa depan mereka dan masa depan bangsa. Pertama, yang paling jelas, adalah mengembangkan kreativitas. Anak-anak yang sering terpapar seni dan budaya cenderung punya imajinasi yang lebih liar dan kemampuan berpikir ‘out of the box’. Mereka diajarkan untuk menghargai keunikan, perbedaan, dan tentu saja, berani mengekspresikan diri. Di zaman yang serba sama dan template ini, kreativitas itu mahal harganya!

Kedua, ini penting banget: mengisi waktu luang secara positif. Kita semua tahu bagaimana godaan gawai dan internet itu luar biasa. Kalau tidak diimbangi dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat, anak-anak bisa gampang sekali terjebak dalam hal-hal negatif. Kecanduan game online, paparan konten yang tidak pantas, atau bahkan cyberbullying, itu semua adalah tantangan nyata di depan mata. Dengan terlibat dalam kegiatan budaya, mereka punya wadah untuk menyalurkan energi, belajar berinteraksi sosial secara langsung, dan menemukan minat baru yang sehat. Ini semacam tameng sekaligus ‘booster’ positif buat mereka.

Ketiga, dan ini poin krusial yang nggak boleh disepelekan: menjauhkan dari hal-hal negatif. Kegiatan budaya seringkali melibatkan disiplin, kesabaran, dan kerja sama tim. Misalnya, belajar tari butuh latihan berulang, main musik butuh ketekunan, atau bikin kerajinan butuh fokus. Nilai-nilai ini secara tidak langsung membentuk karakter anak menjadi pribadi yang lebih positif, bertanggung jawab, dan punya tujuan. Daripada nongkrong nggak jelas di mall atau sibuk main game sampai lupa waktu, mending menari di sanggar atau belajar membatik, kan? Selain dapat ilmu, dapat teman baru, dapat juga kebanggaan.

Terakhir, dan ini mungkin yang paling fundamental: membentuk generasi penerus yang peduli pada budaya Indonesia. Kita nggak mau dong, nanti anak cucu kita cuma kenal budaya dari negeri tetangga atau benua lain, tapi budaya sendiri malah asing. Ini bukan cuma soal menjaga tradisi, tapi juga soal identitas. Mengenal budaya sendiri berarti mengenal akar kita, tahu dari mana kita berasal, dan apa yang membuat kita unik sebagai bangsa. Dengan begitu, mereka akan tumbuh menjadi individu yang bangga akan bangsanya, punya rasa nasionalisme yang kuat, dan siap untuk melanjutkan estafet pelestarian budaya ini ke generasi selanjutnya.

Kolaborasi Semua Pihak: Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Tentu saja, mewujudkan semua ini bukan semata-mata tugas Kemendikbudristek. Ini adalah panggilan bagi kita semua. Orang tua punya peran penting untuk mengenalkan dan memfasilitasi anak-anak ke dunia budaya. Sekolah bisa lebih proaktif memasukkan unsur budaya dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler. Komunitas dan sanggar seni juga perlu dukungan untuk terus berinovasi dan menarik minat anak-anak. Pemerintah, melalui Kemendikbudristek, bertindak sebagai lokomotif yang menggerakkan, memfasilitasi, dan menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembangnya budaya di kalangan generasi muda.

Mari kita bayangkan, betapa indahnya jika suatu saat nanti, anak-anak Indonesia tumbuh besar dengan kemampuan menari tari daerah yang luwes, lantunan lagu tradisional yang merdu, atau pahatan ukiran yang artistik, di samping kepiawaian mereka dalam teknologi digital. Mereka akan menjadi generasi yang seimbang, modern, namun tak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Ini bukan mimpi kok, ini bisa jadi kenyataan, asalkan kita semua mau bergerak. Seruan DPD RI ini adalah alarm pengingat yang pas: yuk, lebih sering ajak anak-anak kita menengok harta karun budaya sendiri. Karena dari sanalah, identitas dan kebanggaan akan terus bersemi.

Logo Radio
🔴 Radio Live