Alasan Psikologis Mengapa Waktu Terasa Cepat Saat Dewasa
Nisrina - Monday, 30 March 2026 | 05:15 PM


Coba deh ingat-ingat lagi masa kecil kalian. Masih ingat nggak betapa lamanya waktu yang dibutuhkan dari jam masuk sekolah sampai bel pulang bunyi? Rasanya kayak kita sudah melewati tiga kali masa jabatan presiden cuma buat nungguin jam dua siang. Atau ingat nggak waktu liburan kenaikan kelas? Rasanya itu liburan nggak habis-habis, kita bisa main bola sampai kulit gosong, main petak umpet sampai lupa nama sendiri, dan pas balik ke sekolah, kita merasa jadi orang yang berbeda karena saking lamanya nggak ketemu teman-teman.
Eh, tapi coba bandingkan dengan sekarang. Begitu masuk usia kerja atau jadi mahasiswa tua, waktu itu kayak lagi ikut balapan F1. Sat-set-sat-set, tau-tau sudah hari Jumat lagi. Belum sempat nafas dari urusan Senin, eh udah disapa sama hari Senin berikutnya. Istilah kerennya, kita terjebak dalam pusaran "waktu yang terbang". Fenomena ini bukan cuma perasaan kamu yang lagi capek karena kerjaan numpuk, lho. Ada alasan saintifik dan psikologis di baliknya yang bikin masa kecil kita terasa seluas samudra, sementara masa dewasa terasa sependek gang senggol.
Teori Matematika Perasaan: Persentase adalah Koentji
Secara teknis, ada yang namanya "Teori Proposionalitas". Bayangkan begini: waktu kamu umur 5 tahun, satu tahun itu adalah 20 persen dari seluruh hidup yang pernah kamu jalani. Itu angka yang gede banget! Jadi, segala sesuatu yang terjadi dalam satu tahun itu punya bobot yang sangat berat di memori kamu. Satu tahun itu kerasa "berat" karena dia mencakup porsi besar dari eksistensi kamu di dunia.
Nah, sekarang bandingkan kalau kamu sudah umur 30 tahun. Satu tahun cuma sekadar 3 persenan dari total hidup kamu. Di mata otak kita, satu tahun itu cuma kayak sekejap kedipan mata karena kita sudah punya tabungan waktu yang jauh lebih banyak. Jadi, secara matematis, semakin kita tua, nilai satu unit waktu itu makin mengecil di mata kesadaran kita. Makanya nggak heran kalau orang tua kita sering bilang, "Lho, kamu udah gede aja, perasaan kemarin masih bayi," padahal ya emang udah puluhan tahun berlalu.
Dunia yang Masih Kinclong vs Rutinitas yang Bikin Basi
Faktor kedua yang nggak kalah penting adalah "Efek Kebaruan" atau novelty effect. Pas kita masih bocah, dunia ini adalah tempat bermain yang penuh keajaiban. Hampir semua hal yang kita alami itu statusnya adalah "pengalaman pertama". Pertama kali lihat pelangi, pertama kali naik sepeda, pertama kali ngerasain patah hati karena mainan rusak, sampai pertama kali tahu kalau petir itu suaranya kencang banget.
Otak manusia itu unik. Dia bakal merekam informasi dengan sangat detail kalau hal itu baru dan menarik. Karena pas kecil banyak hal baru, otak kita rajin banget bikin catatan memori yang tebal. Walhasil, pas kita recall atau ingat-ingat lagi, memori itu terasa padat dan panjang. Ibaratnya, masa kecil itu adalah film dengan resolusi 4K yang durasinya panjang banget.
Bandingkan sama hidup orang dewasa yang mayoritas isinya cuma pengulangan atau repetisi. Bangun tidur, kena macet, kerja di depan laptop, makan siang menu yang itu-itu aja, pulang kerja, scroll TikTok sampai ketiduran, lalu ulangi lagi besoknya. Karena nggak ada hal baru yang "nendang", otak kita masuk ke mode autopilot. Otak nggak ngerasa perlu merekam detail-detail membosankan itu. Akibatnya, pas kita menoleh ke belakang, nggak ada memori yang menonjol. Waktu pun kerasa melesat gitu aja karena otak kita menganggap sebulan terakhir itu cuma satu kejadian yang sama yang diulang-ulang.
Detak Jantung dan Jam Biologis
Bukan cuma soal psikologi, biologis kita juga punya peran. Ada teori yang bilang kalau "jam internal" manusia itu sinkron sama metabolisme tubuh. Anak kecil punya detak jantung yang lebih cepat dan pernafasan yang lebih frekuentif. Karena mesin tubuh mereka lari lebih kencang, mereka seolah-olah mengalami lebih banyak kejadian dalam satu menit dibandingkan orang dewasa yang metabolismenya sudah mulai santai (atau melambat karena kebanyakan makan gorengan).
Dopamin juga ikut campur di sini. Hormon kesenangan ini biasanya meluap-luap pas kita dapet stimulasi baru. Pada anak kecil, dopamin ini sering banget "tumpah" karena hal-hal sepele. Semakin banyak dopamin, persepsi kita terhadap waktu cenderung melambat. Sementara itu, makin tua kita, produksi dopamin ini makin stabil (atau malah berkurang), sehingga persepsi waktu kita nggak lagi se-melambat dulu saat kita masih kecil.
Gimana Caranya Biar Waktu Nggak Kerasa Kelewat Cepet?
Terus, apa kita pasrah aja gitu ngelihat umur habis cuma buat nunggu gajian? Ya nggak juga. Kalau kamu pengen waktu terasa sedikit lebih lambat, kuncinya adalah: pecahkan rutinitas. Cobalah cari hobi baru, pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi, atau sesederhana lewat jalan yang berbeda pas pulang kantor. Dengan memberikan "makanan" baru buat otak, otak bakal mulai merekam memori lagi dengan lebih detail.
Jangan biarkan hidupmu cuma jadi deretan angka di kalender. Masa kecil memang sudah lewat, dan kita nggak bisa balik lagi jadi bocah ingusan yang bahagia cuma karena dikasih es mambo. Tapi, kita bisa tetap menjaga "rasa ingin tahu" biar waktu nggak cuma lewat kayak angin lalu. Intinya sih, jangan terlalu sering main aman di zona nyaman. Karena zona nyaman itu, walaupun enak, adalah tempat di mana waktu paling cepat hilang tanpa jejak.
Jadi, mumpung hari ini belum habis, coba deh lakuin sesuatu yang beda. Biar pas nanti malam kamu merem, kamu ngerasa hari ini beneran berkesan, bukan cuma sekadar "hari lainnya di kantor". Waktu itu emang nggak bisa diputar, tapi setidaknya bisa kita bikin lebih berwarna biar nggak kerasa kayak ditarik paksa ke masa tua.
Next News

Mengapa Musik Sheila on 7 Tak Pernah Bosan Meski Diputar Berulang?
in 6 hours

Mengenal Cara Kerja Penghapus, Si Kecil Penyelamat Tulisan
in 5 hours

Fenomena Antrean Panjang: Mengapa yang Ramai Selalu Menggoda?
in 3 hours

Penyebab Kamu Susah Berhenti Scroll TikTok dan Cara Mengatasinya
in 2 hours

Tangan Kanan Jadi Kiri? Ini Penjelasan Ilmiah Efek Cermin
in an hour

5 Camilan Pengusir 'Brain Fog' yang Bikin Kerja Sat-Set
in 5 hours

Sering Lapar Setelah Kerja? Ternyata Ini Penyebab Aslinya
in 5 hours

Cara Membaca Tabel Nilai Gizi Biar Gak Salah Pilih Camilan
in 4 hours

Sering Makan Kornet dan Sarden? Waspadai Kandungan Garamnya
in 3 hours

Bukan Sekadar Buah, Ini 5 'Pahlawan' Kalium yang Wajib Dimakan Pasca Pesta Micin
in 2 hours






