Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Masuk Akal Kenapa Anak Muda Sekarang Lebih Suka Lebaran 'Lowkey'

Refa - Friday, 20 March 2026 | 12:00 PM

Background
Alasan Masuk Akal Kenapa Anak Muda Sekarang Lebih Suka Lebaran 'Lowkey'
Ilustrasi Idulfitri (pexels.com/RDNE Stock project)

Lebaran Gak Lagi Soal Opor dan Antre Salaman: Kenapa Cara Main Anak Muda Kini Berubah?

Dulu, bayangan kita soal Lebaran itu seragam. Bangun pagi buta, pakai baju baru yang kadang warnanya kembaran sekeluarga sampai silau, salat Id, lalu lanjut ritual marathon keliling rumah saudara dari pagi sampai encok. Menu makannya pun sudah tertebak: kalau bukan opor ayam, ya rendang yang saking seringnya dipanaskan warnanya jadi makin gelap seiring bertambahnya hari. Tapi coba deh perhatikan sekarang. Ada pergeseran getaran atau vibe yang cukup terasa, terutama di kalangan Gen Z dan milenial. Lebaran versi mereka bukan lagi sekadar rutinitas formalitas, melainkan sudah berevolusi jadi sesuatu yang lebih personal, santai, dan tentu saja lebih masuk akal secara kesehatan mental.

Kalau kita tanya ke anak muda zaman sekarang, "Mudik nggak?", jawabannya nggak selalu "Iya" dengan semangat membara. Ada pertimbangan panjang di baliknya. Bukan karena mereka nggak sayang keluarga, tapi karena realitas ekonomi dan tuntutan hidup memang lagi lucu-lucunya. Bayangkan, harga tiket pesawat yang naik gila-gilaan atau perjuangan macet belasan jam di tol hanya untuk sampai di kampung halaman dalam kondisi burnout. Bagi kaum mendang-mending, uang tiket itu seringkali dialihkan untuk hal lain yang dianggap lebih esensial, seperti staycation tenang di hotel dalam kota atau malah ditabung untuk biaya kontrakannya tahun depan. Cara mereka memaknai silaturahmi sudah bergeser dari fisik ke digital yang tetap terasa hangat.

Menghindari Pertanyaan Horor dengan Strategi Silent Lebaran

Salah satu alasan paling masuk akal kenapa anak muda mulai mengubah cara mereka berlebaran adalah demi menjaga kewarasan. Kita semua tahu, momen kumpul keluarga besar adalah "medan perang" bagi kesehatan mental. Pertanyaan seperti "Kapan lulus?", "Mana calonnya?", sampai "Kok gendutan?" seolah-olah jadi menu wajib selain kerupuk udang. Bagi generasi yang lebih peduli pada boundaries atau batasan privasi, menghadapi puluhan kerabat yang hanya bertemu setahun sekali namun merasa berhak menghakimi jalan hidup kita itu melelahkan banget.

Makanya, jangan heran kalau sekarang banyak anak muda yang memilih untuk kabur atau melakukan healing saat libur Lebaran. Mereka lebih suka merayakan hari kemenangan dengan lingkaran kecil yang benar-benar suportif. Teman dekat, pasangan, atau hanya keluarga inti saja. Istilahnya, mereka melakukan kurasi terhadap siapa yang boleh masuk ke ruang pribadi mereka di hari raya. Ini bukan bentuk durhaka, lho, tapi lebih ke cara mereka merayakan diri sendiri setelah setahun penuh digempur beban kerja dan ekspektasi sosial yang nggak ada habisnya.

Lebaran Digital dari QRIS hingga Hampers Estetik

Cara berbagi kebahagiaan pun sudah berubah total. Kalau dulu kita harus antre di bank buat tukar uang baru biar bisa bagi-bagi amplop ke keponakan, sekarang zamannya sudah sat-set. QRIS dan transfer e-wallet jadi pahlawan. Gak ada lagi drama amplop ketinggalan atau uang lecek. Bahkan, momen bagi-bagi THR ini jadi ajang pamer kreativitas lewat desain e-card yang lucu-lucu di aplikasi pesan singkat. Praktis, tanpa mengurangi nilai berbagi itu sendiri.

Selain itu, budaya membagikan hampers juga menggeser tradisi bawa rantang isi makanan rumahan. Anak muda sekarang lebih suka mengirimkan paket-paket estetik yang isinya bukan cuma kue kering standar, tapi bisa berupa set perawatan tubuh, kopi literan dari kafe favorit, sampai tanaman hias. Mereka melihat Lebaran sebagai momen untuk saling memberi apresiasi dengan cara yang lebih trendi. Visual itu penting, dan bagi mereka, mengirimkan hampers yang dikemas cantik adalah bentuk love language yang valid di era media sosial ini.

Fashion dan Makanan yang Gak Lagi Template

Bicara soal baju Lebaran, trennya pun sudah nggak lagi harus seragam batik atau kaftan yang rumbai-rumbainya bisa menyapu lantai. Anak muda sekarang lebih memilih modest wear yang fungsional dan bisa dipakai lagi untuk ngantor atau nongkrong setelah Lebaran selesai. Warna-warna bumi atau earth tone yang kalem lebih mendominasi daripada warna neon yang mencolok. Prinsipnya sederhana: tetap terlihat rapi saat difoto untuk konten Instagram, tapi tetap nyaman saat harus duduk lesehan makan bakso di sore hari.

Urusan perut juga mulai ada diversifikasi. Meskipun opor tetap jadi primadona, tapi sekarang banyak anak muda yang mulai merasa bosan dengan menu santan berturut-turut. Jangan kaget kalau di hari kedua Lebaran, mereka justru memesan sushi, pizza, atau malah masak steamboat sendiri di rumah. Pergeseran selera ini menunjukkan bahwa mereka ingin merayakan hari raya dengan hal-hal yang benar-benar mereka sukai, bukan sekadar mengikuti apa yang biasa dilakukan orang tua sejak zaman dahulu.

Menemukan Makna Baru di Tengah Perubahan

Pada akhirnya, perubahan cara anak muda merayakan Lebaran ini sebenarnya adalah bentuk adaptasi. Mereka sedang mencoba mencari titik keseimbangan antara menghargai tradisi lama dengan kenyataan hidup yang makin dinamis. Mungkin bagi generasi orang tua, cara ini terlihat agak dingin atau kurang akrab. Tapi bagi anak muda, inilah cara mereka bertahan hidup dan tetap merasa bahagia di tengah tekanan dunia yang makin gila.

Lebaran bukan lagi tentang seberapa banyak rumah yang dikunjungi atau seberapa banyak uang tunai yang ada di saku, tapi tentang seberapa berkualitas waktu yang kita miliki untuk diri sendiri dan orang-orang yang benar-benar berarti. Jadi, kalau ada temanmu yang memilih merayakan Lebaran dengan hanya tidur seharian atau malah pergi naik gunung sendirian, jangan langsung dicap aneh. Mungkin itulah cara mereka menemukan kemenangan yang sesungguhnya. Selamat merayakan Lebaran dengan caramu masing-masing, ya!

Logo Radio
🔴 Radio Live