Alasan Ilmiah Kenapa Kertas Sangat Cepat Menyerap Tumpahan Air
Nisrina - Sunday, 29 March 2026 | 10:15 AM
Pernah nggak sih lo lagi asyik-asyiknya ngerjain tugas di kafe, terus tiba-tiba "tragedi" itu terjadi? Gelas es kopi susu yang baru lo beli dengan estetik tiba-tiba kesenggol. Byur! Cairan cokelat itu tumpah ruah di atas meja, dan sasaran empuknya nggak lain adalah tumpukan kertas catatan lo. Dalam hitungan detik, kertas yang tadinya kaku dan putih bersih langsung berubah jadi lembek, keriting, dan warnanya berubah kecokelatan.
Di saat panik itu, mungkin lo pernah kepikiran: "Eh, kok cepet banget sih ini kertas ngeresap airnya? Kayak haus banget gitu." Padahal kalau lo tumpahin air ke plastik atau permukaan meja kayu yang divernis, airnya cuma bakal menggenang doang. Tapi kertas? Dia kayak punya kekuatan super buat narik air masuk ke dalam pori-porinya.
Nah, buat lo yang penasaran kenapa kertas punya perilaku "haus" kayak gitu, yuk kita bongkar rahasianya. Tenang, gue nggak bakal pakai bahasa jurnal ilmiah yang bikin pusing tujuh keliling. Kita bahas pakai bahasa tongkrongan aja biar lebih masuk ke logika.
Selulosa: Si Magnet Air yang Tersembunyi
Pertama-tama, kita harus tahu dulu kertas itu sebenarnya makhluk apa. Secara garis besar, kertas itu terbuat dari serat kayu. Nah, di dalam serat kayu ini ada komponen jagoan bernama selulosa. Kalau mau dibayangin, selulosa ini kayak benang-benang mikroskopis yang sangat kuat. Tapi, selulosa punya sifat unik: dia itu "hidrofilik". Istilah kerennya, dia "cinta air" banget.
Molekul selulosa punya banyak gugus hidroksil yang suka banget nempel sama molekul air. Jadi, pas air nyentuh kertas, si selulosa ini nggak bakal nolak. Malah, mereka kayak ngundang air buat mampir dan menetap. Ibaratnya, kalau air itu adalah gebetan, selulosa ini adalah orang yang selalu fast response dan ngasih lampu hijau terus.
Inilah alasan mendasar kenapa kertas itu beda sama plastik. Plastik itu rata-rata terbuat dari minyak bumi yang sifatnya "hidrofobik" alias takut air. Makanya, kalau lo tumpahin air ke plastik, airnya cuma bakal lari-larian atau membentuk butiran-butiran doang karena nggak ada yang mau nerima dia di sana.
Aksi Kapiler: Jalur Labirin di Dalam Kertas
Tapi, alasan "cinta air" doang belum cukup buat ngejelasin kenapa air bisa merambat naik di kertas meski kita cuma nempelin ujungnya doang. Pernah liat kan, ujung kertas tisu dicelupin ke air, eh tau-tau bagian atasnya juga ikut basah? Nah, fenomena ini namanya aksi kapiler atau kapilaritas.
Coba deh lo perhatiin kertas pakai mikroskop (atau bayangin aja kalau nggak punya). Kertas itu bukan benda yang padat-padat amat kayak besi. Kertas itu sebenarnya adalah tumpukan serat yang acak-acakan dan penuh dengan ruang kosong alias pori-pori kecil. Ruang-ruang sempit di antara serat selulosa ini berfungsi kayak pipa-pipa super kecil.
Dalam dunia fisika, cairan punya kecenderungan buat mengalir di ruang sempit tanpa bantuan gaya gravitasi, bahkan bisa ngelawan gravitasi! Gaya tarik-menarik antara molekul air dan dinding serat kertas (adhesi) lebih kuat daripada gaya tarik antar sesama molekul air (kohesi). Hasilnya? Air bakal "manjat" lewat celah-celah kecil itu. Semakin sempit celahnya, semakin jauh air bisa merambat. Itulah kenapa kertas tisu yang seratnya lebih longgar dan banyak ruang kosong bakal nyerap air jauh lebih cepet dibanding kertas HVS yang lebih padat.
Kenapa Nggak Semua Kertas Sama Rakusnya?
Mungkin lo bakal nanya, "Terus kenapa kertas majalah atau kertas kado yang mengkilap itu nggak secepat tisu kalau nyerap air?" Nah, ini pertanyaan cerdas. Jawabannya ada pada proses fabrikasi atau campur tangan manusia.
Para produsen kertas itu tahu kalau nggak semua kertas boleh gampang basah. Bayangin kalau buku tulis lo nggak dikasih lapisan tambahan, pas lo nulis pakai pulpen gel, tintanya bakal meleber ke mana-mana karena langsung diserap habis sama seratnya (gejala ini sering kita sebut "mbleber" atau feathering). Untuk mencegah itu, pabrik nambahin bahan yang namanya sizing agent.
Sizing ini semacam lapisan pelindung yang fungsinya buat nutupin sebagian pori-pori dan bikin seratnya jadi sedikit lebih "takut air". Makanya, kertas HVS atau kertas buku cetak biasanya lebih tahan banting dikit kalau kena tetesan air dibanding tisu toilet yang memang tugasnya adalah menyerap segala sesuatu secepat mungkin. Apalagi kertas foto atau sampul majalah yang dikasih lapisan plastik (laminasi), itu mah udah beda kasta lagi, air bakal susah banget buat masuk.
Filosofi di Balik Kertas Basah
Ada hal yang agak ironis kalau kita ngomongin kertas dan air. Di satu sisi, kemampuan menyerap air ini bikin kertas jadi benda yang berguna banget (siapa sih yang bisa hidup tanpa tisu?). Tapi di sisi lain, air adalah musuh terbesar bagi arsip dan dokumen penting. Begitu air masuk ke dalam serat, dia bakal ngerusak ikatan hidrogen yang bikin kertas itu tadinya kaku dan rapi.
Pas airnya menguap atau kering, serat-serat itu nggak bakal balik ke posisi semula. Makanya kertas yang tadinya basah terus kering bakal jadi bergelombang, kaku, dan kadang malah jadi lebih rapuh. Kayak hati yang habis dipatahkan, meskipun sudah sembuh, bekasnya tetep ada dan nggak bakal bisa mulus kayak dulu lagi. Asik, jadi puitis kan.
Kesimpulannya, kertas menyerap air karena kombinasi antara bahan baku selulosa yang memang "bucin" sama air, ditambah struktur serat yang membentuk labirin mikro sehingga memicu aksi kapiler. Tanpa kemampuan ini, mungkin dunia kita bakal lebih berantakan karena nggak ada media yang bisa bersihin tumpahan air dengan praktis.
Jadi, lain kali kalau lo nggak sengaja numpahin minum ke kertas tugas, jangan cuma ngutuk keadaan. Perhatiin deh gimana air itu merambat dengan ajaibnya. Ya, meskipun setelah itu lo tetep harus nangis karena harus ngerjain ulang tugasnya dari awal. Tapi setidaknya, sekarang lo udah tahu sains di balik penderitaan lo itu, kan?
Next News

Alasan Mengapa Merasa Dimengerti Itu Sangat Melegakan
in 4 hours

Kenapa Kita Suka Hujan Tapi Malas Kehujanan?
in 3 hours

5 Menit Lagi: Kebohongan Paling Manis yang Kita Telan Bulat-Bulat
in 3 hours

Bahaya Berkendara Mode Autopilot: Kenapa Kita Bisa Lupa Jalan?
in 2 hours

Krisis Eksistensial Itu Normal: Kenapa Kamu Nggak Perlu Cemas
in an hour

Pengaruh Warna Terhadap Mood: Kenapa Kita Suka Bengong di Kafe?
in 19 minutes

Ilusi Optik: Saat Mata dan Otak Tidak Sepakat Melihat Realita
41 minutes ago

Dari Labubu ke Tren Baru: Mengapa Kita Selalu Merasa Ketinggalan?
2 hours ago

Ujung Pulpen Hancur? Simak Alasan di Balik Kebiasaan Unik Ini
3 hours ago

Rahasia Lidah Api: Kenapa Selalu Menunjuk ke Langit?
4 hours ago






