Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Ilmiah Kenapa Jelantah Adalah Racun Berbalut Gurih

Refa - Tuesday, 03 March 2026 | 06:00 PM

Background
Alasan Ilmiah Kenapa Jelantah Adalah Racun Berbalut Gurih
Ilustrasi orang sedang memasukkan minyak (pexels.com/RDNE Stock project )

Gorengan Renyah, Jantung Terengah: Kenapa Kita Masih Hobi "Nabung" Penyakit Lewat Minyak Jelantah?

Siapa di sini yang nggak tergoda kalau mencium aroma bakwan jagung atau tempe mendoan yang baru diangkat dari wajan? Baunya itu, lho, bisa bikin konsentrasi buyar seketika, apalagi kalau hari lagi hujan atau dompet lagi kritis-kritisnya di akhir bulan. Gorengan adalah comfort food nomor satu rakyat Indonesia, sebuah kearifan lokal yang tak lekang oleh zaman.

Tapi, ada satu pemandangan yang sering kita abaikan demi kenikmatan hakiki tersebut, yakni warna minyak gorengnya. Pernah nggak kamu mampir ke abang-abang gorengan pinggir jalan, lalu melihat wajannya berisi cairan hitam pekat yang lebih mirip oli motor daripada minyak masak? Itulah yang kita sebut sebagai minyak jelantah. Seringkali, demi alasan penghematan atau prinsip "sayang kalau dibuang", kita di rumah pun sering melakukan hal yang sama. Padahal, di balik kegurihan tempe goreng itu, ada ancaman kesehatan yang siap meledak sewaktu-waktu.

Kimia Sederhana di Balik "Minyak Hitam"

Secara teknis, minyak goreng yang dipanaskan berulang kali akan mengalami proses yang namanya oksidasi dan polimerisasi. Jangan pusing dulu sama istilah laboratorium ini. Intinya begini, minyak goreng punya titik jenuh. Ketika dipanaskan terus-menerus, apalagi sampai berasap, struktur molekul di dalamnya rusak. Minyak yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi radikal bebas yang agresif.

Bayangkan minyak goreng itu seperti sebuah hubungan. Di awal (saat masih bening), semuanya terasa manis dan lancar. Tapi kalau dipaksa bertahan meskipun sudah berkali-kali "disakiti" oleh panas api, hubungannya jadi toksik. Nah, minyak jelantah adalah mantan yang toksik itu. Dia sudah berubah warna, baunya tengik, dan teksturnya kental bin lengket. Kalau kamu masih nekat memakai minyak yang sudah dipakai lebih dari tiga kali, kamu sebenarnya bukan lagi sedang memasak, tapi sedang meracik ramuan penyakit ke dalam perut sendiri.

Kolesterol dan Jantung: Tamu Tak Diundang

Bahaya paling nyata dari minyak jelantah adalah lemak trans. Saat minyak dipanaskan berkali-kali, kandungan lemak tak jenuhnya berubah menjadi lemak jahat atau LDL (Low-Density Lipoprotein). Kamu pasti sering dengar istilah ini di iklan susu orang tua, kan? Lemak jahat ini hobi banget mampir dan menetap di dinding pembuluh darah kita.

Efeknya nggak langsung terasa hari ini. Mungkin sekarang kamu merasa aman-aman saja makan ayam goreng pakai minyak yang sudah seminggu nggak diganti. Tapi perlahan, lemak-lemak itu menumpuk, membentuk plak, dan membuat pembuluh darahmu menyempit. Ibarat selokan yang penuh sampah plastik, aliran darah jadi tersumbat. Kalau sudah begini, penyakit jantung koroner dan stroke tinggal menunggu waktu untuk say hello. Nggak mau, kan, di masa muda yang harusnya produktif malah harus sering bolak-balik ke dokter jantung?

Ancaman Kanker yang Tersembunyi

Selain masalah kolesterol, ada satu zat berbahaya yang terbentuk saat minyak dipanaskan berulang-ulang, namanya akrolein. Zat ini muncul dari pemecahan gliserol dalam minyak. Akrolein inilah yang sering bikin tenggorokan terasa gatal atau serak setelah makan gorengan yang minyaknya "bermasalah". Dalam jangka panjang, paparan senyawa kimia hasil degradasi minyak ini bersifat karsinogenik alias memicu tumbuhnya sel kanker.

Minyak jelantah juga mengandung senyawa peroksida yang sangat tinggi. Radikal bebas ini kerjanya merusak sel-sel sehat di tubuh kita, termasuk merusak DNA. Jadi, jangan heran kalau orang yang hobinya mengonsumsi makanan dari minyak jelantah lebih rentan terkena kanker hati atau kanker kolon. Ini bukan menakut-nakuti, tapi realita medis yang sering kita abaikan karena kalah sama rasa gurih micin.

Kenapa Kita Masih Sering Melakukannya?

Jawabannya klasik, ekonomi. Kita sering merasa bersalah kalau membuang minyak yang tampilannya masih agak cokelat. "Ah, masih bisa sekali lagi buat goreng kerupuk," begitu pikir kita. Apalagi harga minyak goreng seringkali fluktuatif, bikin emak-emak di dapur harus putar otak buat menghemat pengeluaran. Belum lagi mitos yang bilang kalau gorengan pakai minyak lama itu justru lebih renyah. Padahal, itu cuma sugesti yang dibayar mahal dengan kesehatan.

Kita perlu mengubah pola pikir dari "sayang minyaknya" menjadi "sayang nyawanya". Biaya rumah sakit jauh lebih mahal daripada harga dua liter minyak goreng kemasan bermerek. Menabung lewat minyak goreng sisa itu ibarat menabung bom waktu di dalam tubuh. Kita mungkin merasa hemat sekarang, tapi cicilan pengobatannya bisa menguras tabungan masa depan.

Gimana Cara Move On dari Minyak Jelantah?

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita berhenti makan gorengan total? Ya, idealnya sih begitu, tapi kita semua tahu itu hampir mustahil buat lidah orang Indonesia. Solusi paling masuk akal adalah dengan membatasi penggunaan minyak maksimal dua sampai tiga kali saja. Itupun dengan catatan suhunya tidak terlalu ekstrem dan minyak segera disaring setelah digunakan.

Perhatikan tanda-tandanya, kalau minyak sudah berubah warna jadi gelap, baunya mulai aneh (tengik), dan ketika dipakai menggoreng muncul busa yang berlebihan, itu tandanya minyak tersebut sudah harus pensiun. Jangan dibuang ke wastafel juga ya, karena bisa menyumbat saluran air dan merusak lingkungan. Sekarang sudah banyak, kok, komunitas yang menampung minyak jelantah untuk diolah menjadi biodiesel.

Kesimpulannya, hidup sehat itu nggak harus selalu tentang lari maraton tiap pagi atau makan salad yang rasanya mirip rumput tetangga. Hal-hal kecil seperti berani membuang minyak jelantah di dapur adalah langkah besar buat menjaga investasi jangka panjang, yaitu kesehatan kita sendiri. Jadi, besok-besok kalau mau goreng bakwan, pastikan minyaknya bukan peninggalan zaman kerajaan ya! Sayangi jantungmu, karena dia nggak punya cadangan kalau sudah rusak.

Logo Radio
🔴 Radio Live