Viral Dokter Sarankan Nikah Sebagai Obat Sakit Haid dan Bahaya Patriarki Medis
Nisrina - Thursday, 29 January 2026 | 07:15 AM


Media sosial belakangan ini ramai dengan curahan hati para perempuan yang kecewa terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Pemicunya adalah sebuah video viral yang memperlihatkan tenaga kesehatan menyarankan pasien untuk menikah sebagai solusi masalah menstruasi. Video tersebut memancing ribuan netizen X untuk membagikan pengalaman serupa yang tidak mengenakkan saat berkonsultasi ke dokter kandungan. Mayoritas cerita tersebut bermuara pada satu masalah besar yaitu budaya patriarki yang masih mengakar kuat di dunia medis.
Banyak perempuan merasa keluhan sakit mereka hampir selalu dikaitkan dengan kurangnya aktivitas seksual atau status pernikahan. Alih-alih mendapatkan pemeriksaan medis yang menyeluruh pasien justru mendapatkan ceramah sosial yang tidak relevan. Kondisi ini sangat berbahaya karena gejala penyakit serius sering kali terabaikan hanya karena stereotip gender. Nyawa perempuan seolah menjadi taruhan hanya karena dokter lebih memprioritaskan norma sosial ketimbang sains.
Salah satu kasus yang paling sering terjadi adalah sulitnya akses untuk melakukan USG transvaginal bagi perempuan lajang. Banyak dokter menolak melakukan prosedur ini dengan alasan menjaga keperawanan sang pasien. Padahal pemeriksaan ini sering kali krusial untuk mendeteksi kista atau miom secara akurat. Sungguh miris ketika kenyamanan calon suami masa depan dianggap lebih penting daripada nyawa pasien perempuan yang sedang kesakitan saat itu juga.
Cerita pilu lainnya datang dari seorang pasien yang mengalami telat menstruasi hingga empat bulan akibat stres dan obesitas. Saat memeriksakan diri ia justru bertemu dokter laki-laki senior yang didampingi beberapa dokter muda atau koas. Tanpa melakukan pemeriksaan fisik atau USG dokter tersebut langsung menyuruhnya segera menikah karena dianggap sudah cukup umur. Pasien tersebut akhirnya memilih pindah rumah sakit karena merasa tidak mendapatkan solusi medis yang profesional.
Kasus yang lebih parah dialami oleh penderita endometriosis yang sering kali disepelekan rasa sakitnya. Saat mengeluh nyeri haid yang luar biasa dokter hanya menjawab bahwa sakit itu wajar bagi perempuan. Bahkan ketika pasien meringis kesakitan saat pemeriksaan abdomen respons dokter justru skeptis dan menuduhnya berlebihan. Diagnosa akhirnya keluar namun disertai embel-embel mitos bahwa penyakit itu akan sembuh sendirinya setelah menikah.
Dokter tersebut bahkan menolak permintaan pasien untuk USG transvaginal demi deteksi yang lebih jelas dengan alasan "sayang" karena masih gadis. Pola pikir ini menempatkan selaput dara sebagai aset yang lebih berharga dibandingkan risiko pecahnya kista atau komplikasi fatal lainnya. Pasien dibiarkan pulang dengan rasa sakit dan kebingungan tanpa solusi medis yang konkret. Pertanyaan apakah ia akan sembuh jika tidak menikah tidak pernah dijawab dengan landasan ilmiah.
Fenomena meremehkan rasa sakit perempuan ini dikenal secara global sebagai medical gaslighting. Di luar negeri pun banyak dokter yang melabeli pasien perempuan sebagai pengeluh atau whiny woman. Keluhan fisik mereka sering dianggap tidak nyata atau hanya halusinasi psikologis semata. Akibatnya banyak perempuan terlambat didiagnosis penyakit serius seperti menopause dini atau gangguan hormon lainnya.
Tenaga kesehatan seharusnya berhenti melanggengkan mitos bahwa pernikahan dan kehamilan adalah obat segala penyakit kandungan. Himpunan Fertilitas dan Endokrinologi Indonesia dalam konsensus tahun 2024 telah mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menyatakan bahwa pasien tidak perlu dimotivasi hamil untuk mengobati endometriosis karena kehamilan tidak selalu memperbaiki gejala. Rekomendasi ini bersifat kuat dan harus menjadi pedoman bagi seluruh dokter di Indonesia.
Sudah saatnya dunia kesehatan kita berbenah dan memisahkan bias gender dari praktik pengobatan profesional. Sakitnya perempuan adalah fakta medis yang harus ditangani dengan prosedur klinis bukan dengan anjuran menikah. Menjaga keperawanan tidak boleh lebih prioritas daripada menyelamatkan nyawa seorang manusia. Kita butuh ruang aman di rumah sakit di mana perempuan didengar dan dirawat dengan bermartabat.
Next News

Film Tunggu Aku Sukses Nanti Angkat Realita Pahit Generasi Muda Saat Lebaran
11 hours ago

Film The Devil Wears Prada Tayang April 2026
a day ago

Kini Ojol dan Kurir Dapat Diskon Iuran BPJS Ketenagakerjaan
a day ago

Deretan Tokoh Dunia dan Fakta Mengejutkan dalam Dokumen Terbaru Jeffrey Epstein
a day ago

Danielle Resmi Hilang dari Profil NewJeans dan Digugat ADOR
a day ago

Era Baru Pariwisata Indonesia Tanpa Atraksi Gajah Tunggang
a day ago

Fenomena AI Slop yang Mulai Merusak Media Sosial Kita
a day ago

Panduan Lengkap Reaktivasi BPJS Kesehatan Nonaktif Agar Bisa Digunakan Lagi
2 days ago

Justin Bieber Guncang Panggung Grammy 2026 Usai Vakum
2 days ago

Sejarah Baru! Golden Sukses Bawa Pulang Piala Grammy
2 days ago






