Tsunami 200 Meter di Greenland Jadi Alarm Baru Krisis Iklim
Refa - Friday, 30 January 2026 | 08:30 AM


Dunia sains sempat dibuat bingung pada September 2023. Seismometer (alat pendeteksi gempa) di seluruh dunia, mulai dari Arktik hingga Antartika, mendeteksi sinyal getaran yang aneh. Bukan seperti gempa bumi biasa yang memiliki pola acak dan meledak-ledak, sinyal ini bersifat monokromatik, yaitu satu frekuensi nada dengungan yang konstan dan berlangsung selama sembilan hari berturut-turut.
Awalnya, para ilmuwan mengira ini adalah kerusakan alat atau gangguan atmosfer. Namun, setelah penyelidikan mendalam yang melibatkan puluhan pakar geologi, glasiologi, dan oseanografi dari berbagai negara, misteri itu akhirnya terkuak. Sumbernya adalah sebuah bencana kolosal di antah berantah Greenland: sebuah Mega-Tsunami setinggi 200 meter yang dipicu oleh longsoran gunung es.
Artikel ini akan mengupas tuntas kronologi kejadian, penjelasan ilmiah di balik fenomena langka ini, serta peringatan keras yang dibawa alam mengenai perubahan iklim.
1. USO (Unidentified Seismic Object): Sinyal Misterius yang Mengelilingi Dunia
Kisah ini bermula bukan dari laporan saksi mata, melainkan dari grafik komputer di stasiun pemantauan gempa. Biasanya, gempa bumi menghasilkan gelombang yang kompleks. Ada gelombang primer (P-wave) yang cepat, diikuti gelombang sekunder (S-wave) yang merusak, dan diakhiri dengan gemuruh frekuensi tinggi yang perlahan mereda dalam hitungan menit atau jam.
Namun, sinyal yang muncul pada September 2023 itu berbeda. Sinyal tersebut:
- Berdengung Konstan: Memiliki satu frekuensi getaran (sekitar 10,88 milihertz) yang berulang setiap 90 detik.
- Durasi Ekstrem: Bertahan selama 9 hari penuh tanpa henti.
- Jangkauan Global: Terdeteksi sensor sejauh ribuan kilometer dari kutub utara hingga kutub selatan.
Komunitas ilmiah menjulukinya sebagai USO (Unidentified Seismic Object). Stephen Hicks, seorang seismolog dari University of College London, menyebut fenomena ini sebagai "hal paling aneh yang pernah dilihat dalam seismologi modern." Tidak ada lempeng tektonik yang bergeser, tidak ada letusan gunung berapi. Lantas, apa yang membuat planet ini bergetar seperti lonceng yang baru saja dipukul?
2. Investigasi ke Dickson Fjord: Menemukan Titik Nol
Untuk memecahkan teka-teki ini, tim gabungan ilmuwan menggunakan citra satelit resolusi tinggi dan membandingkan data seismik. Titik triangulasi mengarah ke Dickson Fjord, sebuah wilayah fyord (teluk sempit yang diapit tebing curam) yang sangat terpencil di Greenland Timur.
Apa yang mereka temukan di citra satelit sangat mengejutkan. Sebuah puncak gunung setinggi 1.200 meter telah runtuh ke dalam fyord.
Data Kehancuran:
- Volume Runtuhan: Diperkirakan sekitar 25 juta meter kubik batuan dan es jatuh ke air. Jumlah ini setara dengan volume 10.000 kolam renang Olimpiade yang dijatuhkan sekaligus.
- Penyebab: Penipisan gletser di kaki gunung. Selama ribuan tahun, es menahan dinding tebing gunung. Namun, akibat pemanasan global, es tersebut mencair dan menipis, sehingga tidak mampu lagi menopang beban batuan di atasnya.
Runtuhan masif ini menghantam permukaan air laut di fyord yang sempit, menciptakan ledakan energi kinetik yang luar biasa besar. Inilah awal mula bencana tersebut.
3. Anatomi Mega-Tsunami: Ombak Setinggi Gedung Pencakar Langit
Berbeda dengan tsunami tektonik (seperti Aceh 2004) yang dipicu oleh pergeseran dasar laut dan energinya menyebar luas ke samudra, tsunami di Greenland ini diklasifikasikan sebagai Mega-Tsunami akibat longsoran.
Saat 25 juta meter kubik batuan menghantam air, air tersebut tidak memiliki tempat untuk pergi selain ke atas.
- Tinggi Awal: Percikan awal (splash wave) mencapai ketinggian fantastis 200 meter (650 kaki). Ini lebih tinggi dari Monumen Nasional (Monas) yang hanya 132 meter atau setara dengan gedung 60 lantai.
- Dampak Lokal: Ombak raksasa ini menghancurkan garis pantai di sepanjang Dickson Fjord. Sebuah pangkalan penelitian militer Denmark yang kebetulan kosong saat itu, hancur lebur tersapu ombak. Untungnya, karena lokasi yang sangat terisolasi, tidak ada korban jiwa manusia dalam peristiwa ini.
Namun, yang membuat bumi bergetar selama 9 hari bukanlah ledakan pertamanya, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
4. Fenomena "Seiche": Ketika Air Laut Terjebak dalam Bak Mandi Raksasa
Inilah kunci jawaban dari misteri sinyal seismik global tersebut. Dickson Fjord memiliki bentuk geografis yang unik: panjang, sempit, dan memiliki dinding tebing yang curam, mirip seperti sebuah bak mandi (bathtub) raksasa.
Ketika tsunami terjadi, energi ombak tidak bisa keluar ke lautan terbuka dengan cepat karena terhalang oleh bentuk fyord yang berliku dan dasar laut yang dangkal di mulut teluk. Akibatnya, terjadilah fenomena fisika yang disebut Seiche (dibaca: saysh).
Bagaimana Seiche Bekerja?
Bayangkan kamu membawa nampan berisi air penuh, lalu Anda tersandung. Air di dalam nampan tidak langsung tumpah habis, melainkan akan bergoyang bolak-balik (sloshing) dari kiri ke kanan dengan ritme yang teratur.
Itulah yang terjadi di Dickson Fjord:
- Osilasi: Air laut "berkocok" bolak-balik di antara dua dinding tebing fyord.
- Ketinggian Gelombang: Bahkan setelah beberapa hari, gelombang "kocokan" ini masih setinggi 7 meter (setara bus tingkat).
- Transfer Energi: Gerakan air yang masif dan berirama ini (setiap 90 detik) menghantam dasar laut dan dinding tebing dengan kekuatan yang cukup besar untuk mengirimkan gelombang energi melalui kerak bumi.
Inilah sebabnya mengapa seismometer di seluruh dunia merekam sinyal "dengungan" yang konstan. Bumi sedang merekam suara air yang "mengocok" di fyord Greenland selama 9 hari berturut-turut hingga akhirnya energi tersebut habis.
5. Peringatan Iklim: "Gunung Tidak Lagi Stabil"
Peristiwa di Dickson Fjord bukan sekadar fenomena geologi yang unik, melainkan sebuah alarm darurat terkait krisis iklim.
Kristian Svennevig, peneliti utama dari Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS), menyatakan bahwa peristiwa ini adalah preseden baru. Belum pernah tercatat sebelumnya sebuah seiche bertahan begitu lama dan terdeteksi secara global. Ini menunjukkan bahwa sistem alam di wilayah kutub sedang berubah drastis.
Rangkaian Sebab-Akibat Pemanasan Global:
- Suhu Meningkat: Arktik memanas empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
- Gletser Mencair: Es yang berfungsi sebagai "lem" atau penopang dinding gunung meleleh.
- Permafrost Hilang: Tanah beku yang mengikat batuan mencair, membuat struktur tanah menjadi labil.
- Longsor & Tsunami: Gunung runtuh memicu bencana sekunder seperti tsunami.
Stabilitas lereng gunung di wilayah Arktik kini dipertanyakan. Area yang dulunya dianggap "beku dan abadi", kini menjadi zona bahaya yang aktif.
6. Bahaya Mengintai Industri Pariwisata dan Pelayaran
Implikasi dari kejadian ini sangat nyata bagi kehidupan manusia, terutama bagi industri pariwisata kapal pesiar (cruise ships) yang semakin marak menawarkan paket wisata ke Greenland dan wilayah kutub.
Kapal pesiar sering kali memasuki fyord-fyord sempit untuk menyajikan pemandangan gletser yang dramatis kepada wisatawan. Bayangkan skenarionya:
- Jika kapal pesiar berada di Dickson Fjord saat longsor terjadi, dampaknya akan katastrofik.
- Ombak setinggi 200 meter, atau bahkan sisa gelombang seiche setinggi 7 meter, mampu membalikkan kapal atau menghempaskannya ke tebing.
Kejadian ini memaksa otoritas pelayaran dan pemerintah setempat untuk memetakan ulang zona aman. Area-area yang memiliki tebing curam dengan gletser yang menyusut kini harus dianggap sebagai Zona Merah berisiko tinggi tsunami longsoran.
7. Studi Kasus Serupa: Lituya Bay 1958
Untuk memahami betapa dahsyatnya kekuatan air yang terperangkap, kita bisa melihat sejarah Mega-Tsunami Lituya Bay, Alaska (1958).
- Kejadian: Gempa bumi memicu longsoran batu ke teluk tertutup (mirip Dickson Fjord).
- Dampak: Tercipta ombak pemecah rekor setinggi 524 meter (lebih tinggi dari Empire State Building).
- Kesamaan: Keduanya membuktikan bahwa di perairan sempit, longsoran tanah bisa menciptakan gelombang yang jauh lebih tinggi daripada tsunami gempa laut lepas.
Bedanya, peristiwa Greenland 2023 membuktikan bahwa tanpa gempa bumi pun, murni karena es mencair, bencana skala raksasa bisa terjadi.
Kesimpulan: Bumi Sedang "Berbicara", Apakah Kita Mendengar?
Fenomena getaran bumi selama 9 hari akibat Mega-Tsunami Greenland adalah bukti nyata interkoneksi sistem bumi. Pemanasan global yang mencairkan es di satu titik terpencil, mampu mengirimkan getaran fisik yang dirasakan oleh sensor di seluruh planet.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak selalu berupa kenaikan suhu perlahan atau naiknya permukaan laut setahap demi setahap. Kadang, dampaknya bisa datang tiba-tiba, eksplosif, dan membingungkan logika sains.
Poin Penting untuk Diingat:
- Penyebab: Penipisan gletser akibat perubahan iklim menyebabkan gunung runtuh.
- Efek: Tsunami 200 meter terjebak di fyord, menciptakan gelombang berdiri (seiche) yang bertahan 9 hari.
- Risiko Masa Depan: Peningkatan ancaman bagi jalur pelayaran dan wisata di wilayah kutub seiring makin tidak stabilnya lapisan es.
Kita tidak bisa lagi memandang es yang mencair hanya sebagai statistik. Ia adalah bom waktu geologis yang sewaktu-waktu bisa meledak, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Mega-Tsunami Greenland
Q: Apakah Mega-Tsunami ini berdampak ke negara lain? A: Secara fisik airnya tidak sampai ke negara lain karena terjebak di fyord. Namun, getaran seismiknya terdeteksi di seluruh dunia.
Q: Apakah peristiwa ini bisa terjadi di Indonesia? A: Indonesia tidak memiliki gletser (selain di Puncak Jaya yang sangat kecil), namun potensi tsunami akibat longsoran gunung (seperti kejadian Anak Krakatau 2018) tetap ada, terutama di wilayah vulkanik.
Q: Bagaimana cara ilmuwan tahu itu bukan ulah manusia atau alien? A: Pola gelombang yang sangat konsisten dan lokasi sumber yang terpencil, ditambah bukti visual dari satelit sebelum dan sesudah kejadian, mengonfirmasi bahwa ini adalah fenomena alam murni.
Next News

Jangan Pakai Filter! Gunakan 5 Teknik Ini Agar Foto Produkmu Terlihat Premium
32 minutes ago

Cuma 5 Menit! Resep Smoothie Pemulihan Otot Setelah Olahraga Malam
3 hours ago

Jangan Asal Lari! Taktik Menghindari Lubang dan Kendaraan Saat Olahraga Malam
an hour ago

Makan Apa Setelah Olahraga Malam? Panduan Nutrisi Agar Tidur Nyenyak & Otot Kuat
2 hours ago

Panduan Lengkap Peta Persebaran Empat Madzhab Fikih di Dunia Islam
an hour ago

Bahaya Memendam Stres Kerja yang Sering Dianggap Tanda Mental Kuat
2 hours ago

Misteri Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Laut Selatan
3 hours ago

Misteri Bunga Wijaya Kusuma Mekar Tengah Malam yang Dianggap Sakral
4 hours ago

Cukup Sudah! 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Mengharuskanmu Segera Resign
4 hours ago

Terbangun Lapar Tengah Malam Sebaiknya Makan Dulu atau Paksa Tidur
5 hours ago






