Trauma Tak Kasat Mata! Ini 3 Langkah Pertolongan Pertama Psikologis pada Anak Pasca Gempa
Refa - Tuesday, 27 January 2026 | 06:00 PM


Dampak gempa bumi tidak hanya menyisakan kerusakan fisik pada bangunan, tetapi juga guncangan hebat pada mental, terutama bagi anak-anak. Kelompok usia ini seringkali belum memiliki kemampuan verbal yang cukup untuk mengutarakan rasa takut mereka, sehingga trauma sering bermanifestasi dalam bentuk perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, menolak tidur sendiri, atau tantrum tanpa sebab.
Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis menjadi langkah krusial yang harus segera dilakukan oleh orang tua atau pendamping setelah situasi aman. Tujuannya adalah menstabilkan emosi anak agar peristiwa traumatis tidak membekas menjadi gangguan kecemasan jangka panjang.
Berikut adalah 3 teknik dasar menenangkan anak yang mengalami syok pascabencana:
1. Validasi Emosi, Jangan Larang Menangis
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah berusaha menghentikan tangisan anak dengan kalimat "Jangan takut" atau "Sudah, diam, tidak apa-apa". Kalimat tersebut justru memblokir penyaluran emosi mereka.
Langkah yang tepat adalah memvalidasi perasaan tersebut dengan kalimat seperti "Adik takut ya? Iya, tadi memang gempanya kencang sekali, Ibu/Ayah juga kaget". Memberikan ruang bagi anak untuk menangis atau bercerita membantu melepaskan hormon stres dari tubuh dan membuat mereka merasa dipahami, bukan diabaikan.
2. Teknik Stabilisasi "Butterfly Hug"
Jika anak terlihat gemetar hebat (tremor) atau syok hingga tidak bisa bicara, teknik pelukan kupu-kupu atau Butterfly Hug sangat efektif untuk meredakan kecemasan akut. Caranya adalah dengan menyilangkan kedua tangan anak di depan dada (seperti posisi memeluk diri sendiri), lalu ajak mereka menepuk-nepuk bahu kanan dan kiri secara bergantian dengan irama perlahan sambil menarik napas panjang. Stimulasi ritmis ini membantu menyeimbangkan sistem saraf dan memberi sinyal "aman" ke otak, sehingga detak jantung yang memburu bisa perlahan kembali normal.
3. Beri Penjelasan Logis dan Kembali ke Rutinitas
Setelah kondisi anak mulai tenang, berikan penjelasan sederhana dan logis mengenai apa yang baru saja terjadi. Hindari menakut-nakuti dengan mistis atau ancaman. Katakan bahwa bumi sedang "menggeliat" atau "batu di dalam tanah sedang bergeser" sehingga rumah bergoyang.
Setelah itu, sebisa mungkin segera kembalikan anak pada rutinitas kecil atau aktivitas yang familiar, seperti bermain mainan kesukaan atau menggambar. Rutinitas memberikan rasa kendali (sense of control) dan kepastian di tengah situasi yang serba tidak pasti.
Next News

Sengkarut Hukum Roy Suryo dan Teka-Teki Ijazah Jokowi yang Memasuki Babak Baru Penuh Ketegangan
in 10 minutes

Spider-Noir dan Perang Estetika Antara Hitam Putih Klasik Lawan Warna Modern
7 days ago

Met Gala: Arisan Sosialita Level Dewa atau Sekadar Karnaval Baju Aneh?
7 days ago

Rahasia di Balik Guling: Dari "Istri Belanda" Hingga Jadi Teman Tidur Wajib Orang Indonesia
8 days ago

Dinamika Reshuffle: Antara Raport Merah, Catur Politik, dan Kebutuhan Zaman
8 days ago

Skena Lari Surabaya: Kenapa Harus Terbelah Jadi Banyak Komunitas? Kok Nggak Satu Saja?
19 days ago

Dollar, Militer, dan Big Mac: Alasan Kenapa Kita Semua Masih Hidup di 'Dunia Amerika
20 days ago

Bukan Cuma Modal Pede! Kenapa Kamu Wajib Jadi 'Bunglon' Saat Public Speaking
20 days ago

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
22 days ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
24 days ago





