Ceritra
Ceritra Warga

Tidur dengan Lampu Terang Ternyata Mengancam Kesehatan Jantung Anda!

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 11:45 AM

Background
Tidur dengan Lampu Terang Ternyata Mengancam Kesehatan Jantung Anda!
Ilustrasi (Freepik/)

Tidur adalah kebutuhan biologis mendasar yang berfungsi untuk mengistirahatkan tubuh dan memulihkan energi setelah seharian beraktivitas. Banyak orang memiliki preferensi tersendiri mengenai kondisi kamar saat tidur, ada yang menyukai kegelapan total namun tidak sedikit pula yang merasa lebih nyaman atau aman jika tidur dengan lampu menyala terang. Kebiasaan membiarkan lampu menyala sepanjang malam sering kali dianggap sepele atau sekadar masalah selera pribadi. Namun, penelitian medis terbaru mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan bahwa paparan cahaya buatan saat tidur ternyata memiliki korelasi langsung dengan peningkatan risiko penyakit serius, khususnya penyakit jantung dan gangguan metabolisme.

Penemuan ini menyoroti bagaimana cahaya memengaruhi ritme sirkadian atau jam biologis tubuh kita. Secara alami, tubuh manusia dirancang untuk beristirahat saat gelap dan aktif saat terang. Keberadaan cahaya terang di malam hari, baik itu dari lampu kamar, lampu tidur, maupun pantulan cahaya dari televisi yang menyala, mengirimkan sinyal yang salah ke otak. Otak akan menerjemahkan cahaya tersebut sebagai tanda bahwa hari masih siang atau waktu untuk waspada. Akibatnya, produksi hormon melatonin yang berfungsi mengatur rasa kantuk dan menurunkan tekanan darah menjadi terhambat. Kekurangan melatonin ini bukan hanya membuat tidur menjadi tidak nyenyak, tetapi juga mengacaukan proses pemulihan sel-sel tubuh yang seharusnya terjadi secara optimal saat kita terlelap.

Dampak paling krusial dari paparan cahaya malam hari ini menyerang sistem kardiovaskular. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan terkemuka menunjukkan bahwa tidur hanya satu malam dengan pencahayaan ruangan yang moderat atau terang sudah cukup untuk meningkatkan detak jantung dan resistensi insulin keesokan paginya. Mekanismenya berkaitan dengan aktivasi sistem saraf simpatik. Sistem ini bertanggung jawab atas respons "lawan atau lari" atau fight or flight yang membuat tubuh dalam kondisi siaga tinggi. Seharusnya saat tidur, sistem saraf parasimpatik yang mengambil alih untuk menenangkan tubuh dan menurunkan detak jantung. Namun, cahaya terang justru menjaga sistem saraf simpatik tetap aktif, sehingga jantung terus bekerja keras memompa darah meskipun tubuh sedang berbaring diam.

Beban kerja jantung yang tidak berkurang saat tidur ini dalam jangka panjang akan mengakibatkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hipertensi adalah pintu gerbang utama menuju berbagai penyakit kardiovaskular mematikan, seperti serangan jantung dan strok. Jantung yang tidak mendapatkan istirahat yang cukup di malam hari akan mengalami keausan lebih cepat dibandingkan jantung yang beristirahat dalam kondisi gelap total. Selain itu, gangguan pada regulasi glukosa akibat resistensi insulin yang dipicu oleh cahaya malam juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2, yang mana diabetes sendiri merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner.

Selain aspek fisik, kualitas tidur yang buruk akibat lampu terang juga berdampak pada kesehatan mental dan fungsi kognitif. Orang yang tidur dengan lampu menyala cenderung bangun dengan perasaan kurang segar, mudah lelah, dan mengalami kesulitan konsentrasi. Gangguan tidur kronis ini dapat memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik di seluruh tubuh, yang lagi-lagi memperburuk kondisi kesehatan jantung. Lingkaran setan antara kurang tidur, stres, dan penyakit metabolisme ini sering kali bermula dari sakelar lampu yang lupa dimatikan.

Mengingat besarnya risiko yang mengintai, para ahli kesehatan sangat menyarankan untuk mulai mengubah kebiasaan tidur demi melindungi jantung. Langkah paling sederhana adalah dengan mematikan semua sumber cahaya utama di kamar tidur. Jika Anda termasuk orang yang takut akan kegelapan total atau perlu bangun di malam hari untuk ke kamar mandi, pertimbangkan untuk menggunakan lampu tidur redup dengan spektrum warna hangat seperti oranye atau merah. Hindari cahaya berwarna biru atau putih terang (LED) karena jenis cahaya ini paling kuat dalam menekan produksi melatonin dan merangsang otak.

Menggunakan penutup mata atau sleep mask juga bisa menjadi solusi praktis dan murah jika Anda tidak bisa mengontrol pencahayaan lingkungan, misalnya karena lampu jalan yang masuk lewat jendela. Memasang tirai tebal atau blackout curtains juga efektif untuk memblokir polusi cahaya dari luar. Perubahan kecil dalam rutinitas malam hari ini mungkin terasa tidak nyaman di awal, namun tubuh akan segera beradaptasi. Menjaga kamar tidur tetap gelap gulita bukan hanya soal kenyamanan, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga detak jantung tetap sehat dan memperpanjang usia harapan hidup Anda.

Logo Radio
🔴 Radio Live