Ceritra Pulse
Terjebak dalam Jaring Narsisis: Kenapa Kita Sering Jadi Sasaran Empuk?
Hilmy - Friday, 21 November 2025 | 06:00 PM


Terjebak dalam Jaring Narsisis: Kenapa Kita Sering Jadi Sasaran Empuk?
Pernahkah kamu merasa terkuras habis dalam sebuah hubungan? Rasanya seperti memberikan segalanya, tapi yang didapat cuma kelelahan dan rasa tidak berharga? Atau mungkin kamu sering bertanya-tanya, kenapa sih ada orang yang seolah-olah magnet bagi para manipulator ulung? Nah, kalau pertanyaan-pertanyaan itu sering mondar-mandir di kepala, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan fenomena yang disebut narsisis dan korbannya. Artikel Popbela.com sendiri pernah mengupas tuntas soal "Ciri-Ciri Victim Narcissists yang Sering Jadi Targetnya", dan jujur saja, isinya itu bikin kita menghela napas panjang. Bukan karena menakutkan, tapi karena seringkali kita, atau orang-orang terdekat kita, punya beberapa ciri tersebut. Hubungan itu kan seharusnya jadi tempat kita bertumbuh, saling mendukung, dan berbagi kebahagiaan. Tapi, kalau ada narsisis di dalamnya, dinamikanya bisa berubah 180 derajat. Alih-alih mendapatkan kehangatan, yang ada malah drama tak berkesudahan, manipulasi, dan perasaan seperti sedang berjalan di atas pecahan kaca. Ironisnya, orang-orang baik dengan hati yang tulus seringkali justru jadi sasaran empuk mereka. Kenapa ya begitu? Yuk, kita bedah satu per satu ciri-ciri yang bikin seseorang rentan jadi "mangsa" para narsisis ini.Empati Tinggi: Pedang Bermata Dua
Poin pertama yang sering banget jadi highlight adalah empati yang tinggi. Coba bayangkan, kamu adalah seseorang yang gampang merasakan apa yang orang lain rasakan. Melihat orang sedih, kamu ikut merasakan kesedihannya. Mendengar keluhan, kamu langsung tergerak untuk membantu atau setidaknya mendengarkan dengan sepenuh hati. Sifat ini mulia, lho! Dunia butuh lebih banyak orang berempati. Tapi, buat narsisis, empati kita ini kayak sinyal lampu hijau yang menyala terang. Narsisis itu, mereka minim empati. Jadi, mereka melihat orang berempati tinggi sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kita bisa jadi pendengar setia mereka tanpa batas, penyedia dukungan emosional, atau bahkan penyelamat dari semua drama yang mereka ciptakan sendiri. Mereka tahu betul bagaimana memainkan emosi kita, memanfaatkan rasa iba, dan memanipulasi kebaikan hati kita untuk kepentingan mereka semata. Rasanya kayak lagi nyedot sari-sari kehidupan, tapi kita baru sadar setelah kering kerontang.Percaya Diri Minim dan Validasi yang Dicari-cari
Siapa sih yang nggak suka dipuji? Semua orang pasti senang kalau usahanya dihargai. Tapi, ada perbedaan antara senang dengan pujian dan *sangat bergantung* pada pujian itu. Korban narsisis seringkali punya rasa percaya diri yang rendah. Mereka mungkin meragukan nilai diri mereka sendiri, selalu merasa tidak cukup baik, atau butuh konfirmasi eksternal untuk merasa berharga. Dan tebak siapa yang jago banget kasih validasi palsu di awal hubungan? Betul sekali, sang narsisis! Awalnya, narsisis akan menghujani kita dengan pujian setinggi langit, membuat kita merasa istimewa dan paling sempurna di mata mereka. Itu namanya fase "love bombing". Tapi, begitu kita mulai bergantung pada validasi itu, mereka perlahan menarik ulur, bahkan sengaja menjatuhkan kita. Tujuannya? Agar kita terus-menerus mencari persetujuan dan pengakuan dari mereka, membuat kita makin terikat dan sulit lepas. Kita jadi merasa nggak lengkap tanpa 'izin' dari mereka, sebuah siklus yang sangat melelahkan jiwa.Si Pengejar Senyum: People Pleaser Sejati
"Nggak enak kalau nolak." "Aku nggak mau bikin dia kecewa." "Mungkin aku aja yang terlalu sensitif." Pernah dengar atau bahkan sering mengatakan kalimat-kalimat ini? Kalau iya, ada kemungkinan kamu punya jiwa "people pleaser" alias si pencari senyum semua orang. Keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain, menghindari konflik, dan menjaga perdamaian seringkali jadi ciri khas korban narsisis. Sifat ini lagi-lagi jadi "karpet merah" bagi para narsisis. Mereka akan dengan mudah meminta ini itu, melanggar janji, bahkan bersikap semena-mena, karena tahu kita akan memaafkan atau setidaknya tidak akan melawan. Kita rela mengorbankan waktu, energi, bahkan kebahagiaan kita sendiri demi menjaga mood mereka atau mencegah meledaknya konflik. Padahal, seringkali konflik itu muncul bukan karena kita, tapi karena perilaku problematik si narsisis.Sulitnya Berkata "Tidak" dan Batasan yang Kabur
Punya batasan diri itu penting, lho, ibarat pagar rumah. Kalau pagarnya nggak jelas atau bahkan nggak ada sama sekali, ya semua orang bisa seenaknya keluar masuk, bahkan merusak. Nah, karena sifat people pleaser dan rasa percaya diri yang rendah, korban narsisis seringkali kesulitan menetapkan batasan yang jelas dan tegas. Mereka ragu untuk bilang "tidak", atau kalaupun bilang, mudah banget luluh dan akhirnya "iya" juga. Narsisis sangat pintar dalam "cek ombak" batasan kita. Mereka akan terus mendorong, menguji seberapa jauh mereka bisa melangkah tanpa konsekuensi. Begitu mereka tahu kita punya batasan yang lemah, mereka akan melanggarnya berulang kali tanpa ragu. Ini bukan cuma soal hal-hal besar, tapi juga hal-hal kecil sehari-hari yang lama-lama mengikis rasa hormat kita terhadap diri sendiri dan orang lain terhadap kita.Maaf yang Kebablasan dan Lingkaran Setan Menyalahkan Diri
"Semua orang berhak dapat kesempatan kedua." Kalimat ini memang benar, tapi bagaimana kalau kesempatan kedua, ketiga, keempat, sampai puluhan kali tetap disia-siakan? Korban narsisis seringkali terlalu pemaaf. Mereka cenderung melihat kebaikan sekecil apa pun dan berpegang teguh pada harapan bahwa narsisis akan berubah. Mereka terus memaafkan perilaku buruk, alasan-alasan palsu, dan janji-janji kosong. Parahnya lagi, narsisis itu jago banget putar balik fakta. Mereka akan membuat kita merasa bersalah atas masalah yang sebenarnya mereka ciptakan. "Kamu sih memancing", "Kalau kamu nggak begitu, aku nggak akan marah", "Ini semua salah kamu". Narasi ini terus-menerus dijejalkan sampai korban akhirnya percaya dan menyalahkan diri sendiri atas semua keruwetan dalam hubungan. Lingkaran setan ini sangat merusak mental dan membuat korban makin sulit lepas.Jaring Isolasi: Senjata Rahasia Narsisis
Salah satu taktik paling kejam narsisis adalah mengisolasi korbannya. Mereka akan berusaha menjauhkanmu dari teman-teman, keluarga, atau siapa pun yang bisa memberikanmu dukungan atau perspektif objektif. Mungkin awalnya dengan alasan "cemburu", "mau berdua saja", atau "mereka itu nggak baik buat kamu". Lama-kelamaan, kita jadi terputus dari jaringan sosial yang sehat. Tujuan isolasi ini jelas: agar kita hanya bergantung pada mereka. Ketika dunia kita hanya berputar di sekitar narsisis, kita jadi tidak punya tempat lain untuk berlindung, mencari nasihat, atau bahkan sekadar menyadari bahwa ada yang tidak beres. Ini membuat korban merasa sangat sendirian dan terperangkap, membuat keputusan untuk meninggalkan hubungan terasa jauh lebih sulit dan menakutkan.Jejak Luka di Jiwa: Dampak Buruk bagi Korban
Semua hal di atas punya efek domino yang mengerikan bagi kesehatan mental korban. Hidup dalam hubungan yang penuh manipulasi, gaslighting, dan drama emosional secara terus-menerus akan menguras habis energi dan jiwa. Akibatnya, para korban seringkali mengalami masalah kesehatan mental yang serius, seperti kecemasan yang parah (anxiety), depresi, hingga trauma kompleks. Kecemasan bisa muncul karena selalu merasa waspada, takut salah bicara atau bertindak, dan memprediksi ledakan emosi narsisis. Depresi datang dari perasaan tidak berharga, putus asa, dan kehilangan jati diri. Proses penyembuhan dari hubungan narsistik ini bisa memakan waktu lama dan membutuhkan dukungan profesional. Mengenali ciri-ciri ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Sebaliknya, ini adalah lampu peringatan yang bisa membantu kita lebih waspada. Jika kamu menemukan ciri-ciri ini pada dirimu atau orang terdekatmu dalam sebuah hubungan, jangan ragu untuk mencari bantuan atau setidaknya mulai mendengarkan intuisimu yang mungkin sudah berteriak minta tolong sejak lama. Ingat, kamu berhak mendapatkan hubungan yang sehat, bahagia, dan penuh hormat.Next News

Video Podcast Pacu Lonjakan Pengguna Spotify, Tembus 390 Juta Streaming
24 days ago

7 Jenis Teh yang Bisa Turunkan Tekanan Darah Secara Alami
24 days ago

Duh! Doyoung & Jungwoo NCT Dikabarkan Wamil Desember
a month ago

Antara Hak dan Privasi: Pelari Protes Difoto Tanpa Izin, Fotografer Sebut itu Haknya
a month ago

Momen Kebangkitan! Juventus Primavera Taklukkan Lawan.
a month ago

Glamour, Film, dan Solidartias: Pesona Vogue World "Hollywood" 2025
a month ago

Dunia Heboh! Trump Puji Prabowo, Janjikan Damai Abadi!
a month ago

Netizen Heboh! Wicked: For Good Akan Tayang, Tapi Wajah Dorothy Masih Menjadi Misteri
a month ago

Selebgram Jule Jadi Sorotan, Isu Perselingkuhan Bikin Netizen Geram
a month ago
Popular Article






