Ceritra
Ceritra Olahraga

Strategi Olahraga Tepat Saat Ramadan Agar Tubuh Tetap Bugar dan Ideal

Nisrina - Thursday, 12 February 2026 | 07:15 AM

Background
Strategi Olahraga Tepat Saat Ramadan Agar Tubuh Tetap Bugar dan Ideal
Ilustrasi (Freepik/drazen zigic)

Bulan suci Ramadan sering kali dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk berhenti total dari rutinitas olahraga. Rasa lapar haus dan lemas di siang hari menjadi hambatan utama untuk bergerak aktif. Banyak yang beranggapan bahwa berolahraga saat puasa justru akan membahayakan kesehatan atau membatalkan puasa karena dehidrasi.

Padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Justru berhenti berolahraga selama satu bulan penuh dapat menurunkan massa otot memperlambat metabolisme dan membuat tubuh terasa lebih berat saat Lebaran tiba. Kuncinya bukanlah berhenti melainkan menyesuaikan strategi. Tubuh kita memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa asalkan kita tahu cara mengaturnya.

Merujuk pada ulasan kesehatan dari Media Indonesia Humaniora menjaga kebugaran saat Ramadan sangatlah mungkin dilakukan dengan penyesuaian intensitas dan waktu. Artikel ini akan membahas secara mendalam strategi olahraga yang aman waktu terbaik untuk melakukannya serta pengaturan nutrisi agar Anda tetap bugar dan produktif menjalani ibadah puasa.

Ubah Pola Pikir dari Prestasi ke Pemeliharaan

Hal pertama yang harus dilakukan sebelum menyusun jadwal olahraga adalah mengubah mindset atau pola pikir. Saat bulan biasa mungkin target Anda adalah memecahkan rekor angkatan terberat berlari maraton atau membentuk otot secara ekstrem. Namun saat Ramadan target utamanya harus digeser menjadi maintenance atau pemeliharaan.

Tujuannya adalah menjaga agar otot tidak menyusut dan kardiovaskular tetap terlatih. Jangan memaksakan diri untuk mencapai performa puncak atau personal best di saat asupan energi terbatas. Dengarkan tubuh Anda. Jika merasa pusing atau berkunang kunang segera hentikan aktivitas. Ramadan adalah tentang disiplin diri termasuk disiplin dalam mengenali batas kemampuan fisik sendiri agar tidak memudaratkan kesehatan.

Waktu Emas untuk Berolahraga Saat Puasa

Pemilihan waktu adalah faktor paling krusial. Salah memilih waktu bisa berakibat fatal seperti dehidrasi berat atau hipoglikemia. Para ahli kebugaran merekomendasikan tiga jendela waktu terbaik untuk berolahraga selama bulan puasa.

Waktu pertama adalah sesaat sebelum berbuka puasa atau ngabuburit. Ini adalah waktu favorit banyak orang. Anda bisa mulai berolahraga sekitar 30 hingga 60 menit sebelum adzan Maghrib. Keuntungan utamanya adalah begitu Anda selesai dan merasa haus waktu berbuka sudah tiba. Pada fase ini cadangan gula darah sudah menipis sehingga tubuh akan dipaksa membakar cadangan lemak sebagai sumber energi. Ini sangat efektif bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan.

Waktu kedua adalah setelah berbuka puasa. Ini adalah waktu terbaik jika Anda ingin melakukan olahraga dengan intensitas yang lebih berat seperti angkat beban. Tubuh sudah mendapatkan kembali asupan energi dan cairan dari makanan berbuka. Namun pastikan memberi jeda sekitar satu sampai dua jam setelah makan besar agar perut tidak kram dan makanan dapat dicerna dengan baik sebelum mulai bergerak.

Waktu ketiga adalah sebelum sahur. Ini mungkin opsi yang paling sulit bagi sebagian orang karena harus bangun lebih awal. Namun secara fisiologis ini cukup baik karena tubuh masih memiliki sisa energi dari makan malam dan Anda bisa segera mengisi ulang cairan dan nutrisi saat makan sahur setelahnya.

Jenis Olahraga yang Direkomendasikan

Tidak semua jenis olahraga cocok dilakukan saat perut kosong. Pilihlah olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang atau low to moderate impact. Hindari olahraga intensitas tinggi atau HIIT (High Intensity Interval Training) di siang hari bolong karena akan memicu keringat berlebih dan dehidrasi.

Jalan cepat atau brisk walking adalah pilihan paling aman dan mudah. Anda bisa melakukannya di sekitar kompleks rumah atau di atas treadmill. Bersepeda santai di sore hari juga bisa menjadi pilihan menyenangkan sambil menunggu waktu berbuka.

Bagi pecinta olahraga ketenangan yoga dan pilates sangat disarankan. Kedua olahraga ini fokus pada pernapasan fleksibilitas dan kekuatan inti tubuh tanpa membuat detak jantung melonjak terlalu tinggi. Gerakan peregangan pada yoga juga membantu melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi rasa pegal akibat kurang gerak.

Jika Anda tetap ingin latihan beban fokuslah pada compound movement seperti squat push up dan plank dengan repetisi yang tidak terlalu banyak. Latihan resistensi ini penting untuk memberi sinyal pada otot agar tetap bertahan dan tidak dipecah menjadi energi.

Rumus Hidrasi 2 4 2 untuk Cegah Dehidrasi

Dehidrasi adalah musuh utama saat berolahraga di bulan puasa. Karena kita tidak bisa minum di siang hari maka manajemen cairan di malam hari menjadi sangat vital. Terapkan pola minum 2 4 2 untuk memastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi.

Polanya adalah 2 gelas air saat berbuka puasa 4 gelas air yang dibagi sepanjang malam (setelah shalat Maghrib setelah makan malam setelah tarawih) dan 2 gelas air saat sahur.

Hindari minuman yang bersifat diuretik atau memicu buang air kecil seperti teh dan kopi dalam jumlah banyak saat sahur. Minuman ini justru akan membuat cairan tubuh cepat keluar dan Anda akan merasa haus lebih cepat di siang harinya. Pilihlah air mineral air kelapa murni atau infused water yang kaya elektrolit alami.

Asupan Nutrisi Pendukung Performa

Olahraga tanpa didukung nutrisi yang tepat akan sia sia. Saat sahur pilihlah karbohidrat kompleks yang lambat dicerna seperti nasi merah oatmeal roti gandum atau ubi. Karbohidrat jenis ini memberikan pelepasan energi yang bertahap sehingga Anda tidak mudah lemas di siang hari.

Protein juga wajib ada dalam setiap menu makan baik sahur maupun berbuka. Protein dari telur dada ayam ikan atau tempe tahu berfungsi untuk memperbaiki sel otot yang rusak setelah berolahraga.

Hindari makanan yang terlalu manis atau gorengan berlebih saat berbuka. Gula sederhana memang memberikan energi instan namun juga menyebabkan lonjakan insulin yang membuat tubuh cepat lemas dan mengantuk setelahnya. Gorengan yang kaya lemak jenuh juga memperlambat pengosongan lambung yang bisa membuat Anda merasa begah dan malas bergerak.

Kualitas Tidur yang Sering Terabaikan

Terakhir jangan lupakan istirahat. Bulan Ramadan sering kali mengubah pola tidur kita secara drastis. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres atau kortisol yang memicu penimbunan lemak dan penguraian otot.

Usahakan untuk tidur lebih awal setelah shalat tarawih. Jika memungkinkan lakukan power nap atau tidur siang singkat selama 20 menit di siang hari untuk mengembalikan kesegaran tubuh. Tidur yang cukup adalah kunci pemulihan atau recovery yang optimal bagi orang yang aktif berolahraga.

Dengan menerapkan strategi yang tepat puasa bukanlah halangan untuk tetap aktif. Justru kombinasi antara puasa dan olahraga ringan dapat mendetoksifikasi tubuh secara maksimal. Jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk membentuk versi terbaik dari diri Anda baik secara spiritual maupun fisik.

Logo Radio
🔴 Radio Live