Ceritra
Ceritra Cinta

Sindrom "I Can Fix Him", Berhenti Berharap Pasangan Toxic Bisa Berubah karena Cintamu

Refa - Tuesday, 30 December 2025 | 11:45 AM

Background
Sindrom "I Can Fix Him", Berhenti Berharap Pasangan Toxic Bisa Berubah karena Cintamu
Ilustrasi Pasangan Bertengkar (Pinterest/finejonic637)

Pernahkah kamu bertemu seseorang yang jelas-jelas bermasalah alias walking red flag, tapi bukannya lari menjauh, kamu justru merasa tertantang mendekat? Ada suara kecil di kepalamu yang berbisik, "Dia kasar karena masa lalunya pahit. Kalau aku sabar dan sayang sama dia, dia pasti berubah."

Selamat datang di klub "I Can Fix Him". Ini adalah sebuah pola pikir romantis yang berbahaya, di mana seseorang percaya bahwa cinta yang tulus mampu menyembuhkan trauma atau memperbaiki karakter buruk pasangannya. Film dan novel sering mendramatisir kisah seperti ini, seolah mencintai "si jahat" sampai dia menjadi "baik" adalah bentuk cinta tertinggi.

Padahal di dunia nyata, mentalitas seperti ini bukanlah kisah romantis, melainkan resep hancurnya kesehatan mentalmu sendiri. Mari kita bicara jujur kenapa kamu harus segera pensiun dari pekerjaan sebagai "tukang bengkel" karakter orang lain.

Kamu Pacar, Bukan Pusat Rehabilitasi

Tanamkan kalimat ini baik-baik. Pasanganmu adalah manusia dewasa yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bukan proyek renovasi rumah yang bisa kamu perbaiki sesuka hati.

Sering kali kita lupa membedakan antara "mendukung" dan "memperbaiki". Mendukung berarti kamu ada di sampingnya saat dia berusaha menjadi lebih baik atas kemauannya sendiri. Sementara memperbaiki (atau fixing) berarti kamu yang mengambil inisiatif, kamu yang berjuang, dan kamu yang lelah, sementara dia tidak melakukan apa-apa. Kamu bukan psikolog pribadinya, dan hubungan asmara bukanlah klinik rehabilitasi gratis. Mengambil peran sebagai penyembuh hanya akan menguras energimu sampai kering.

Ego Terselubung di Balik "Savior Complex"

Tanpa sadar, sindrom ini sering kali bukan murni tentang cinta, melainkan tentang ego kita sendiri. Ada kepuasan tersendiri ketika merasa dibutuhkan. Kita merasa menjadi manusia "spesial" atau "terpilih" karena menjadi satu-satunya orang yang bisa menaklukkan atau memahami sisi gelap pasangan.

Ini disebut Savior Complex atau sindrom penyelamat. Kita merasa heroik saat mencoba menyelamatkan seseorang. Padahal, keinginan mengubah seseorang sering kali adalah bentuk kontrol, bukan kasih sayang. Kita mencintai potensi dia di masa depan (versi imajinasi kita), bukan mencintai dia apa adanya saat ini. Dan mencintai sebuah potensi adalah cara paling cepat untuk mematahkan hati sendiri.

Perubahan Harus Datang dari Dalam, Bukan dari Luar

Fakta pahitnya adalah: Cinta tidak bisa mengubah karakter seseorang. Kesadaran diri dan kemauan keraslah yang bisa mengubahnya.

Sebesar apa pun kamu mencurahkan perhatian, memaafkan kesalahannya, atau memaklumi sifat toksiknya, dia tidak akan berubah kalau dia sendiri tidak melihat ada yang salah dengan dirinya. Selama dia masih nyaman dengan sifat buruknya dan kamu terus-menerus memaafkan (atas nama cinta), dia justru tidak punya alasan untuk berubah. Kamu secara tidak sadar sedang menjadi enabler atau pendukung perilaku buruknya karena tidak pernah memberikan konsekuensi tegas.

Pilihlah Seseorang yang Sudah "Siap"

Berhentilah mencari "bahan baku" untuk dibentuk, dan mulailah mencari pasangan yang sudah "jadi". Maksudnya bukan mencari manusia sempurna tanpa celah, tapi carilah seseorang yang memiliki kesadaran emosional.

Cari pasangan yang menyadari kekurangannya dan sedang berusaha memperbaikinya sendiri, bukan seseorang yang menjadikan trauma masa lalu sebagai alasan untuk menyakitimu hari ini. Hubungan yang sehat itu membosankan dalam artian positif: minim drama, stabil, dan aman. Jangan korbankan kedamaian hidupmu hanya demi sensasi menjadi pahlawan bagi orang yang bahkan tidak ingin diselamatkan.

Logo Radio
🔴 Radio Live