Ceritra
Ceritra Olahraga

Siklus Tren Digital: Naik Daun, Lalu Tenggelam Cepat

Nuryadi - Wednesday, 03 December 2025 | 04:00 PM

Background
Siklus Tren Digital: Naik Daun, Lalu Tenggelam Cepat
Ketika Hype Adalah Raja: Mengenang 5 Olahraga Viral yang Kini Tinggal Cerita (atau Komunitas Kecil)

Ketika Hype Adalah Raja: Mengenang 5 Olahraga Viral yang Kini Tinggal Cerita (atau Komunitas Kecil)

Manusia itu, entah kenapa, kok doyan banget sih sama yang namanya tren? Apalagi di era digital sekarang ini, di mana sebuah video pendek bisa bikin satu negara ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Dari kuliner, gaya rambut, sampai olahraga, semua bisa tiba-tiba meledak, viral, dan bikin kita merasa FOMO (Fear of Missing Out) kalau nggak ikut mencoba. Tapi ya namanya juga tren, ada masanya naik daun, ada pula masanya tenggelam dan digantikan yang baru.

Fenomena ini paling kentara di dunia olahraga. Beberapa tahun terakhir, kita sudah menyaksikan banyak sekali olahraga yang mendadak jadi primadona, seolah semua orang wajib mencobanya. Gym-gym penuh, toko alat olahraga panen, sampai-sampai jalanan pun jadi "lapangan" baru. Namun, seiring waktu berjalan, hype itu perlahan meredup, menyisakan segelintir penggemar setia, dan kita pun sibuk mencari tren baru lagi. Rasanya kayak pacaran, di awal panas-panasnya, lama-lama ya dingin juga.

Yuk, mari kita nostalgia sejenak dan mengenang lima olahraga trendi yang sempat bikin geger seantero jagat maya dan nyata, tapi kini sudah nggak se-viral dulu. Kira-kira olahraga apa saja ya?

1. Sepeda Lipat dan Fenomena "Gowes Sehat" di Era Pandemi

Kita mulai dari yang paling segar di ingatan, ya. Masih ingat betul bagaimana di awal pandemi COVID-19, saat semua orang terkurung di rumah, tiba-tiba sepeda, terutama sepeda lipat, jadi raja jalanan? Waktu itu, rasanya aneh kalau nggak punya sepeda. Harga sepeda lipat macam Brompton, Element, sampai Polygon bisa meroket gila-gilaan, bahkan ada yang sampai puluhan juta rupiah cuma buat sepeda yang bisa dilipat! Toko sepeda kebanjiran order, jalur-jalur sepeda dadakan penuh sesak, dan setiap pagi atau sore, jalanan kota berubah jadi lautan pesepeda dengan outfit warna-warni yang nggak kalah stylish dari model majalah.

Fenomena ini nggak cuma soal olahraga, tapi juga gaya hidup dan status sosial. Ada yang bilang "gowes sehat biar imun kuat", ada yang sekadar ingin "nongkrong cantik" sambil foto-foto di spot Instagramable. Komunitas-komunitas sepeda bermunculan kayak jamur di musim hujan, lengkap dengan seragam tim dan jadwal gowes bareng yang bikin iri. Siapa pun yang nggak ikut gowes, rasanya kayak ketinggalan peradaban.

Tapi coba deh lihat sekarang. Jalanan memang masih ada pesepeda, tapi nggak se-massif dan se-heboh dua tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, mobilitas kembali normal, kantor-kantor buka lagi, dan waktu buat gowes pun jadi terbatas. Belum lagi, banyak yang sadar kalau gowes itu butuh biaya perawatan, rentan kecelakaan, dan kadang bikin dengkul nggak bersahabat. Ujung-ujungnya, sepeda yang dulunya dibeli mahal-mahal sekarang cuma jadi pajangan di pojokan rumah, atau bahkan dijual lagi dengan harga yang jauh dari ekspektasi. Hiks.

2. Fixie Bike: Simbol Anak Muda Urban yang Penuh Gaya

Jauh sebelum demam sepeda lipat, ada satu jenis sepeda yang sempat jadi ikon anak muda urban di awal tahun 2010-an: sepeda fixie. Dengan desain minimalis, tanpa rem (atau cuma satu rem depan), dan warna-warna neon yang mencolok, fixie sukses mencuri perhatian. Sepeda ini bukan cuma alat transportasi, tapi juga pernyataan gaya hidup. Mereka yang pakai fixie itu kesannya keren, edgy, dan anti-mainstream.

Fixie jadi viral karena keunikannya. Pengendara harus terus mengayuh karena girnya mati (fixed gear), dan untuk mengerem, mereka harus menahan putaran pedal atau melakukan "skid". Tantangan ini yang bikin banyak anak muda tertantang. Komunitas-komunitas fixie pun menjamur, sering adain balapan ilegal di jalanan atau sekadar kumpul-kumpul pamer sepeda. Kaos, topi, dan aksesori bertema fixie pun laris manis. Jalanan kota seolah jadi catwalk bagi para pemakai fixie dengan celana ketat dan sepatu sneakers.

Namun, popularitas fixie perlahan meredup. Isu keamanan jadi salah satu penyebab utama; sepeda tanpa rem jelas berbahaya di lalu lintas padat. Banyak juga yang kesulitan beradaptasi dengan cara mengendarai fixie yang memang butuh skill khusus. Belum lagi, harga sepeda fixie yang "bermerk" juga nggak murah-murah amat. Seiring munculnya tren sepeda lain yang lebih praktis dan aman, fixie pun mulai ditinggalkan. Sekarang, fixie mungkin hanya menjadi pilihan bagi segelintir purist atau kolektor yang memang benar-benar mencintai estetika dan tantangannya.

3. Zumba: Pesta Kardio yang Menggoyang Pinggul Sejuta Umat

Siapa yang nggak kenal Zumba? Olahraga dansa ala Latin ini sempat jadi primadona di kalangan ibu-ibu muda, mbak-mbak kantoran, sampai anak kuliahan yang pengen bakar kalori tapi nggak mau ngerasa lagi olahraga. Musiknya yang upbeat, gerakan yang mudah diikuti (meskipun kadang bikin ngos-ngosan), dan instruktur yang enerjik bikin kelas Zumba selalu penuh sesak. Rasanya kayak lagi pesta, tapi badan jadi sehat dan keringetan.

Zumba meledak karena menawarkan kombinasi yang sempurna: menyenangkan, efektif, dan sosial. Nggak perlu skill dansa khusus, cukup ikutin gerakan instruktur, dan kamu sudah bisa bakar ratusan kalori. Kelas-kelas Zumba pun bermunculan di mana-mana, dari sanggar senam, gym, sampai halaman kantor kelurahan. DVD latihan Zumba laris manis, dan baju-baju olahraga warna-warni jadi identik dengan para "Zumba addict". Ini adalah surganya konten TikTok dan Instagram Stories bagi mereka yang suka pamer aktivitas sehat.

Tapi ya, lagi-lagi, namanya juga tren. Setelah beberapa tahun, kehebohan Zumba mulai mereda. Beberapa faktor mungkin jadi penyebabnya. Ada yang mulai bosan dengan rutinitas gerakan yang itu-itu saja, ada yang mencari tantangan baru, dan tentu saja, munculnya alternatif lain. Kini, Zumba memang masih ada dan punya penggemar setia, tapi nggak se-massif dulu yang sampai bikin antrean panjang di depan studio. Sekarang, pilihan olahraga dansa atau kardio sudah banyak banget, dari Pound Fit, Body Combat, sampai K-Pop Dance Workout. Kompetisinya ketat!

4. CrossFit: Ketika Latihan Jadi Arena Perang Fisik

Pernah lihat orang-orang angkat beban, lompat kotak, dan lari-lari kayak lagi kesetanan di satu sesi latihan? Nah, itu dia CrossFit. Olahraga intens ini sempat bikin heboh karena klaimnya bisa bikin badan kekar, stamina baja, dan komunitasnya yang super solid. CrossFit bukan cuma olahraga, tapi juga gaya hidup, lengkap dengan diet ketat (biasanya Paleo atau Keto) dan jargon-jargon yang cuma dimengerti sesama CrossFitter.

CrossFit viral berkat filosofinya yang menantang dan hasil yang relatif cepat (kalau konsisten). Setiap sesi latihan, yang disebut WOD (Workout of the Day), selalu berbeda dan menguji berbagai aspek kebugaran: kekuatan, stamina, kecepatan, kelincahan. Ini bikin banyak orang penasaran dan tertantang untuk mencobanya. "Box" (sebutan untuk gym CrossFit) menjamur di kota-kota besar, dan para membernya bangga pamer "PB" (Personal Best) atau cerita perjuangan mereka menaklukkan WOD yang super berat. Media sosial jadi ajang pamer otot dan keringat.

Meski begitu, hype CrossFit perlahan mereda dari puncaknya. Mengapa? Pertama, intensitasnya yang super tinggi membuat CrossFit nggak cocok untuk semua orang. Risiko cedera juga cukup besar kalau nggak didampingi pelatih profesional atau teknik yang benar. Kedua, biayanya yang cenderung mahal bikin banyak orang mikir dua kali. Dan ketiga, sifatnya yang "cult-like" kadang bikin orang awam merasa terintimidasi. Sekarang, CrossFit memang masih punya basis penggemar yang sangat loyal dan komunitas yang kuat, tapi gaungnya di ranah mainstream sudah nggak sekeras dulu. Mayoritas yang bertahan memang sudah mendedikasikan hidupnya untuk olahraga ini, bukan cuma ikut-ikutan.

5. Parkour/Freerunning: Aksi Manusia Laba-laba yang Bikin Takjub (dan Deg-degan)

Terakhir, ada Parkour atau Freerunning. Ingat nggak dulu sering banget nonton video orang-orang lompat dari gedung ke gedung, panjat tembok tinggi, atau salto di tengah kota seolah-olah mereka ini manusia laba-laba? Nah, itu dia Parkour, seni bergerak efisien melintasi rintangan, atau Freerunning, versi yang lebih ekspresif dengan tambahan akrobatik.

Parkour viral di awal era YouTube dan DailyMotion karena efek visualnya yang sangat memukau dan bikin takjub. Aksi-aksi para traceur (sebutan pelaku Parkour) ini terasa seperti di film laga, tapi dilakukan di kehidupan nyata. Sensasi adrenalin dan kebebasan bergerak yang ditawarkan menarik banyak anak muda untuk mencoba. Komunitas-komunitas kecil pun terbentuk, berlatih di taman-taman kota atau gedung-gedung kosong yang dianggap punya "spot" bagus.

Namun, popularitas Parkour sebagai olahraga massa ternyata nggak bertahan lama. Masalah utamanya adalah risiko cedera yang sangat tinggi. Butuh latihan fisik dan mental yang luar biasa keras untuk bisa menguasai gerakan Parkour dengan aman. Selain itu, kegiatan ini sering kali dianggap "mengganggu" atau "merusak" fasilitas umum, sehingga kadang bentrok dengan pihak berwenang. Akhirnya, Parkour pun kembali ke habitat aslinya sebagai seni gerak yang sangat niche, digeluti oleh mereka yang memang punya dedikasi tinggi dan pemahaman mendalam akan filosofinya, bukan sekadar ikut-ikutan demi konten semata.

Hype Datang dan Pergi, Dedikasi Tetap Abadi

Dari lima olahraga di atas, kita bisa belajar satu hal: tren itu sifatnya angin-anginan. Sebuah olahraga bisa tiba-tiba meledak karena faktor X (pandemi, media sosial, endorsement selebriti, atau sekadar novelty), tapi untuk bisa bertahan dan memiliki komunitas yang solid, dibutuhkan lebih dari sekadar hype. Butuh dedikasi, konsistensi, dan tentu saja, manfaat nyata yang dirasakan oleh para pelakunya.

Pada akhirnya, mereka yang tetap bertahan dengan sepeda lipatnya, fixie-nya, kelas Zumba-nya, sesi CrossFit-nya, atau latihan Parkour-nya, bukanlah karena ikut-ikutan tren, melainkan karena memang menemukan passion dan manfaat di dalamnya. Jadi, pelajaran moralnya adalah: jangan cuma ikut-ikutan, cari yang sesuai dengan hati dan kemampuanmu. Karena kalau cuma demi konten atau gengsi, cepat atau lambat, kamu juga akan pindah ke lain hati. Betul?

Logo Radio
🔴 Radio Live