Ceritra
Ceritra Warga

Sering Makan Tapi Tetap Kurus? Waspadai 5 Kondisi Medis yang Menyabotase Berat Badanmu

Refa - Friday, 30 January 2026 | 09:30 PM

Background
Sering Makan Tapi Tetap Kurus? Waspadai 5 Kondisi Medis yang Menyabotase Berat Badanmu
Ilustrasi orang lagi timbang berat badan (Pinterest/herstoryofficiel)

"Saya sudah makan porsi kuli, ngemil martabak tiap malam, dan minum susu, tapi timbangan tidak bergerak satu gram pun."

Kalimat di atas adalah keluhan klasik yang sering terdengar dari mereka yang memiliki tipe tubuh hardgainer. Sering kali, lingkungan sosial memberikan stigma negatif, menuduh mereka "kurang bersyukur" atau "pilih-pilih makanan". Padahal, perjuangan menaikkan berat badan bagi sebagian orang sama beratnya atau bahkan lebih —daripada perjuangan orang gemuk untuk kurus.

Dalam mayoritas kasus, kesulitan menambah berat badan memang disebabkan oleh kurangnya asupan kalori (defisit kalori yang tidak disadari) atau aktivitas fisik yang terlalu tinggi. Namun, bagaimana jika Anda sudah menghitung kalori dengan benar, makan melebihi kebutuhan harian, rutin angkat beban, tetapi tubuh tetap kurus kering?

Jika ini terjadi, kemungkinan besar ada "sabotase" yang terjadi di dalam tubuh Anda. Ada kondisi medis tersembunyi yang membuat tubuh membakar energi terlalu cepat atau gagal menyerap nutrisi yang masuk. Artikel ini akan mengajak Anda menyelami sisi medis dari berat badan rendah (underweight) dan mengenali tanda-tanda kapan saatnya Anda berhenti makan sembarangan dan mulai pergi ke dokter.

Mekanisme Tubuh: Mengapa Makanan Tidak Menjadi Daging?

Sebelum membahas nama-nama penyakit, kita perlu memahami dua mekanisme dasar mengapa seseorang bisa tetap kurus meski banyak makan.

Pertama adalah Hipermetabolisme. Bayangkan tubuh Anda adalah sebuah mobil. Orang normal mungkin berjalan dengan kecepatan sedang yang hemat bensin. Namun, tubuh Anda menginjak pedal gas dalam-dalam setiap saat, bahkan saat Anda tidur. Akibatnya, bensin (makanan) yang masuk langsung habis terbakar sebelum sempat disimpan menjadi cadangan (lemak/otot).

Kedua adalah Malabsorpsi (Gangguan Penyerapan). Bayangkan Anda mengisi air ke dalam ember yang bocor. Seberapa banyak pun air (makanan) yang Anda tuang, ember tidak akan pernah penuh karena airnya bocor keluar sebelum sempat tertampung. Dalam kasus ini, nutrisi hanya "numpang lewat" di usus dan keluar lagi melalui kotoran.

Berikut adalah 5 gangguan medis utama yang menjadi dalang di balik kedua mekanisme tersebut.

1. Hipertiroidisme: Ketika Mesin Tubuh Bekerja Terlalu Keras

Ini adalah penyebab medis paling umum dari berat badan rendah yang tidak wajar. Kelenjar tiroid, yang terletak di leher (berbentuk seperti kupu-kupu), berfungsi sebagai "pedal gas" metabolisme tubuh dengan memproduksi hormon tiroksin.

Pada penderita Hipertiroidisme, kelenjar ini terlalu aktif dan memproduksi hormon berlebih. Akibatnya, metabolisme tubuh melonjak drastis ke level yang tidak normal. Tubuh membakar kalori dengan kecepatan sangat tinggi, bahkan memecah cadangan otot dan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi yang menggila tersebut.

Gejala Khas Selain Kurus:

  • Jantung berdebar kencang (palpitasi) meski sedang istirahat.
  • Tangan sering gemetar halus (tremor).
  • Sering merasa kepanasan dan berkeringat berlebih (tidak tahan panas).
  • Mata terlihat melotot atau menonjol (pada penyakit Graves).
  • Leher terlihat bengkak (gondok).
  • Mudah cemas, gelisah, dan sulit tidur.

Jika Anda makan sangat banyak tapi berat badan justru turun drastis disertai jantung berdebar, segera periksakan kadar hormon T3, T4, dan TSH ke dokter penyakit dalam.

2. Masalah Kesehatan Usus dan Pencernaan (Malabsorpsi)

Apa gunanya makan makanan bergizi jika usus Anda tidak bisa menyerapnya? Gangguan pada saluran cerna sering kali menjadi "pencuri" nutrisi yang diam-diam mematikan progres kenaikan berat badan Anda. Ada beberapa kondisi spesifik di kategori ini:

Penyakit Celiac dan Intoleransi Gluten

Penyakit Celiac adalah kondisi autoimun serius di mana konsumsi gluten (protein dalam gandum, roti, pasta, mie) memicu sistem imun menyerang dinding usus halus. Serangan ini merusak vili (rambut-rambut halus usus) yang bertugas menyerap nutrisi. Akibatnya, penderita Celiac bisa makan roti sebanyak apapun tapi tetap kurus dan kekurangan gizi karena ususnya rusak.

Inflammatory Bowel Disease (IBD)

Penyakit radang usus kronis, seperti Crohn's Disease atau Ulcerative Colitis, menyebabkan peradangan terus-menerus di saluran cerna. Peradangan ini menghabiskan banyak energi tubuh dan menyebabkan diare kronis, sehingga nutrisi terbuang percuma. Penderita sering mengalami nyeri perut hebat dan buang air besar berdarah.

Infeksi Parasit (Cacingan)

Jangan remehkan kondisi ini, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Cacing pita atau cacing tambang yang hidup di usus akan memakan sari-sari makanan yang seharusnya diserap tubuh Anda. Cacingan pada orang dewasa sering kali tidak bergejala jelas selain tubuh yang kurus kering, perut buncit, dan wajah pucat (anemia).

3. Diabetes Tipe 1 (dan Tipe 2 yang Tidak Terkontrol)

Banyak orang mengira diabetes identik dengan kegemukan (obesitas). Padahal, salah satu gejala awal diabetes—terutama Tipe 1—adalah penurunan berat badan yang drastis dan nafsu makan yang meningkat (polifagia).

Mekanismenya sederhana namun berbahaya. Insulin adalah kunci yang membuka pintu sel agar gula (glukosa) dari makanan bisa masuk dan diubah menjadi energi atau lemak. Pada penderita diabetes, tubuh kekurangan insulin atau tidak bisa menggunakannya.

Karena gula tidak bisa masuk ke dalam sel, gula tersebut menumpuk di darah (gula darah tinggi) dan akhirnya dibuang lewat urin (sering pipis). Sel-sel tubuh yang "kelaparan" karena tidak mendapat gula kemudian mengirim sinyal darurat untuk memecah cadangan lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif. Inilah sebabnya penderita diabetes bisa makan banyak yang manis-manis tapi badannya semakin habis.

Gejala Penyerta:

  • Sering buang air kecil, terutama malam hari (poliuria).
  • Sering merasa haus yang luar biasa (polidipsia).
  • Luka sulit sembuh.
  • Lemas dan mudah lelah.

4. Infeksi Kronis (TBC dan HIV)

Berat badan yang sulit naik atau turun tanpa sebab juga bisa menjadi indikator adanya infeksi jangka panjang yang sedang dilawan oleh tubuh.

Tuberkulosis (TBC)

Indonesia adalah salah satu negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Bakteri TBC tidak hanya menyerang paru-paru tetapi juga menggerogoti cadangan energi tubuh. Sistem imun bekerja sangat keras untuk melokalisir bakteri, yang menyebabkan pembakaran kalori meningkat tajam (hiperkatabolisme). Gejala khas: Batuk lebih dari 2 minggu (bisa berdarah), keringat dingin di malam hari tanpa aktivitas, demam sumer-sumer (tidak terlalu tinggi tapi konstan), dan nafsu makan hilang.

HIV/AIDS

Virus HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh. Pada stadium lanjut, tubuh mengalami kesulitan menyerap nutrisi dan metabolisme berubah drastis, menyebabkan kondisi yang disebut HIV Wasting Syndrome (hilangnya massa otot dan lemak secara signifikan).

5. Masalah Psikologis dan Stres Berat

Koneksi antara otak dan perut sangatlah kuat. Gangguan kesehatan mental dapat memengaruhi berat badan melalui dua jalur: perilaku makan dan respons hormon.

Stres dan Depresi

Bagi sebagian orang, stres memicu emotional eating (makan berlebih). Namun bagi tipe lainnya, stres justru mematikan sinyal lapar total. Hormon stres (kortisol dan adrenalin) yang tinggi menekan fungsi pencernaan dan memicu pembakaran energi. Orang yang mengalami depresi berat sering kali kehilangan minat pada makanan, merasa makanan tidak berasa, atau merasa terlalu lelah untuk mengunyah.

Gangguan Makan (Eating Disorders)

Tidak semua gangguan makan adalah anoreksia (takut gemuk). Ada kondisi seperti ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder), di mana seseorang menghindari makanan bukan karena takut gemuk, tapi karena takut tersedak, tidak suka teksturnya, atau fobia muntah. Hal ini membuat variasi dan jumlah makanan yang masuk sangat terbatas sehingga kebutuhan gizi tidak pernah tercapai.

Kapan Harus Pergi ke Dokter? (Red Flags)

Jika Anda hanya sekadar "susah gemuk" sejak kecil tapi merasa sehat, bugar, dan jarang sakit, kemungkinan besar itu hanyalah faktor genetika dan metabolisme cepat. Namun, Anda wajib waspada dan segera ke rumah sakit jika kondisi kurus Anda disertai tanda bahaya berikut:

  1. Penurunan Berat Badan Tiba-tiba: Berat badan turun lebih dari 5% dalam 6 bulan tanpa diet atau olahraga.
  2. Kelelahan Ekstrem: Merasa lelah sepanjang waktu meski sudah tidur cukup.
  3. Gangguan Pencernaan Kronis: Diare berkepanjangan, tinja berminyak/mengapung (tanda lemak tidak diserap), atau ada darah di tinja.
  4. Perubahan Fisik Lain: Rambut rontok parah, kulit sangat kering, atau gangguan siklus menstruasi pada wanita.
  5. Demam dan Keringat Malam: Tanda khas adanya infeksi tersembunyi.

Pemeriksaan Apa yang Harus Diminta?

Saat berkonsultasi dengan Dokter Penyakit Dalam atau Dokter Spesialis Gizi Klinik, jangan hanya minta "obat penggemuk". Mintalah pemeriksaan menyeluruh (Medical Check-Up) untuk mencari akar masalah. Berikut beberapa tes yang relevan:

  • Panel Tiroid: Cek kadar TSH, T3, dan T4 untuk mendeteksi Hipertiroid.
  • Gula Darah: Gula darah puasa dan HbA1c untuk skrining Diabetes.
  • Darah Lengkap (CBC): Untuk melihat adanya anemia atau tanda infeksi (leukosit tinggi).
  • Analisis Tinja (Feses): Untuk mengecek adanya telur cacing, darah samar, atau sisa lemak yang tidak terserap.
  • Rontgen Thorax: Untuk skrining TBC paru.

Kesimpulan

Kesulitan menaikkan berat badan bukanlah sekadar masalah estetika atau penampilan. Sering kali, itu adalah cara tubuh berteriak bahwa ada sesuatu yang salah di dalam sistemnya. Jangan memaksakan diri minum susu gainer mahal atau obat penggemuk ilegal jika "mesin" tubuh Anda sedang rusak.

Langkah paling bijak adalah berhenti menyalahkan diri sendiri, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, dan mulailah mendengarkan tubuh Anda. Lakukan pemeriksaan medis profesional. Setelah akar masalah medisnya ditemukan dan diobati—apakah itu tiroid, diabetes, atau masalah usus—biasanya berat badan akan naik dengan sendirinya menuju angka ideal yang sehat.

Logo Radio
🔴 Radio Live