Ceritra
Ceritra Update

Segarnya Es Jadul Indonesia Tak Sesegar Sepatu Lars & Bogeman Aparat

Nisrina - Thursday, 29 January 2026 | 09:15 AM

Background
Segarnya Es Jadul Indonesia Tak Sesegar Sepatu Lars & Bogeman Aparat
Es gabus warna-warni yang terbuat dari tepung hunkwe, santan, gula dan cukup diaduk, bukan dipukul atau ditendang. (Pinterest/)

Terik matahari Indonesia memang paling nikmat jika dilawan dengan segarnya deretan es jadul yang legendaris. Kita dimanjakan dengan beragam pilihan seperti es doger yang gurih santan atau es mambo yang penuh warna kenangan masa kecil. Belum lagi kenikmatan es selendang mayang, es cincau, es potong, es cendol, hingga legitnya es pisang ijo yang selalu menggoda selera.

Di antara banyaknya varian tersebut ada satu primadona yang memiliki tekstur unik yaitu es gabus atau sering juga disebut es kue. Jajanan ini dinamakan es gabus bukan karena terbuat dari gabus styrofoam atau limbah spons kasur. Teksturnya yang padat namun empuk saat digigit memang memberikan sensasi seperti memakan gabus yang lembut dan dingin.

Berdasarkan fakta kuliner yang sebenarnya es gabus terbuat dari bahan-bahan pangan yang sangat aman dan alami. Bahan utamanya adalah tepung hunkwe yang berasal dari sari pati kacang hijau. Tepung ini kemudian dimasak dengan santan, gula pasir, dan sedikit pewarna makanan hingga mengental sebelum dibekukan di lemari pendingin.

Sayangnya pengetahuan dasar mengenai kuliner rakyat ini tampaknya tidak diajarkan di akademi tempat para aparat menimba ilmu. Ketidaktahuan ini berujung fatal bagi seorang pedagang es gabus di Kemayoran yang harus babak belur dihakimi aparat. Ia dituduh menjual es berbahan spons padahal ia hanya menjajakan tepung hunkwe beku demi menyambung hidup.

Bapak penjual yang malang itu mengaku dadanya ditonjok dan tubuhnya disabet menggunakan selang air. Ia juga merasakan kerasnya tendangan sepatu lars dan dipaksa mengaku melakukan kejahatan yang tidak pernah ia buat. Meski sudah memohon dan menjelaskan bahwa itu adalah es beneran bogeman mentah tetap mendarat di tubuh rentanya.

Di negeri ini orang miskin seolah memang layak untuk dihajar dan dipermalukan di depan umum tanpa proses pembuktian yang jelas. Aparat bisa bergerak main hakim sendiri tanpa dasar bukti kuat yang sah secara hukum. Kualitas aparat kita tampaknya memang hanya galak dan beringas ketika berhadapan dengan rakyat jelata yang tidak punya kuasa.

Padahal bapak penjual es itu tidak pernah mencuri uang rakyat sepeser pun seperti para koruptor yang sering lolos dari hukum. Ia tidak menebang pohon di hutan lindung dan tidak merusak alam dengan tambang ilegal yang menyebabkan banjir. Ia hanya ingin mencari uang receh yang bahkan sering kali tidak cukup untuk hidup layak di ibu kota.

Kasus ini kemudian berakhir dengan pola penyelesaian yang sudah bisa ditebak yaitu permintaan maaf dan pemberian ganti rugi berupa sepeda motor. Seolah-olah trauma fisik dan harga diri yang diinjak-injak bisa lunas dibayar dengan sebuah kendaraan roda dua. Hukum harusnya tetap tegak berdiri meski korban sudah memberikan maaf karena intimidasi relasi kuasa.

Fenomena damai ini mengingatkan kita pada kasus pembunuhan Afif Maulana yang pelakunya hanya dijatuhi hukuman disiplin ringan. Pola ini menunjukkan betapa murahnya nyawa dan keselamatan rakyat kecil di mata penegak hukum. Korban yang tidak punya kekuatan finansial dan politik sering kali tidak memiliki opsi lain selain menerima kata damai.

Bapak penjual es gabus itu kini mungkin sudah kehilangan mata pencahariannya karena dipecat usai viral. Ia menjadi contoh nyata bahwa menjadi orang miskin di sini berarti harus siap menderita dan seolah tidak punya negara yang melindungi. Kita hanya bisa berharap semoga rasa es gabus yang kita makan tidak terasa sepahit keadilan di negeri ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live