Ceritra
Ceritra Warga

Pusing & Emosi Meledak di Awal Puasa? Bisa Jadi Ini Bukan Karena Lapar

Refa - Sunday, 01 February 2026 | 11:00 AM

Background
Pusing & Emosi Meledak di Awal Puasa? Bisa Jadi Ini Bukan Karena Lapar
Ilustrasi perempuan dengan sakit kepala (Freepik/Freepik)

Hari pertama puasa sering kali menjadi momen yang berat. Bukan karena perut keroncongan menahan lapar, melainkan karena kepala terasa berdenyut hebat, tubuh lemas seperti zombi, dan emosi mudah meledak-ledak. Banyak orang mengira ini adalah efek dehidrasi atau lapar biasa. Padahal, bagi Anda yang rutin menyeruput kopi atau teh setiap pagi, tersangka utamanya adalah Caffeine Withdrawal.

Secara medis, ini adalah reaksi tubuh akibat putus zat kafein secara mendadak. Kafein adalah stimulan yang bekerja menyempitkan pembuluh darah di otak. Ketika asupan ini berhenti tiba-tiba saat puasa dimulai, pembuluh darah di otak akan melebar drastis (vasodilatasi) dan memicu aliran darah berlebih. Tekanan inilah yang dirasakan sebagai sakit kepala berdenyut yang menyiksa.

Agar ibadah puasa Anda di minggu pertama tidak terganggu oleh drama "sakau" kopi, Anda perlu melakukan strategi detoks. Jangan menunggu H-1 Ramadan! Mulailah 1-2 minggu sebelumnya dengan 3 Strategi Detoks Kafein berikut ini.

1. Hindari Cold Turkey (Berhenti Total Seketika)

Kesalahan terbesar pencinta kopi adalah berniat berhenti minum kopi sama sekali tepat di hari pertama puasa. Ini ide buruk. Tubuh yang terbiasa mendapat stimulan akan kaget (shock) dan merespons dengan gejala fisik yang menyiksa: mual parah, tangan gemetar, hingga sulit berkonsentrasi.

Strategi terbaik adalah Tapping Down atau penurunan dosis secara bertahap.

  • Minggu ini: Jika biasanya minum dua cangkir (gelas besar) sehari, pangkas menjadi satu cangkir saja mulai hari ini.
  • 3 Hari Kemudian: Kurangi lagi menjadi setengah cangkir.
  • Trik Jitu: Campurkan kopi biasa Anda dengan kopi Decaf (tanpa kafein). Rasanya tetap kopi, sugesti otak terpenuhi, tapi asupan zat stimulannya berkurang 50%. Ini cara cerdas "menipu" tubuh agar tidak kaget.

2. Geser Jam Biologis (Circadian Rhythm)

Tubuh manusia memiliki jam internal yang merekam kebiasaan harian. Jika kopi selalu masuk ke lambung jam 07.00 pagi, maka tubuh akan menagih jatahnya (memunculkan rasa craving) tepat di jam tersebut. Jika saat itu Anda sedang puasa, tubuh akan "memberontak".

Mulailah melatih ulang jam biologis Anda:

  • Tahap 1: Tunda jam minum kopi pagi Anda menjadi jam 10.00 atau 11.00 siang.
  • Tahap 2: Geser lagi ke sore hari.
  • Target Akhir: Biasakan tubuh menerima kafein hanya di malam hari.

Dengan menggeser kebiasaan ini sebelum Ramadan, saat bulan puasa tiba, tubuh Anda tidak akan "menjerit" minta kopi di pagi hari. Anda bisa menikmati sahur dengan tenang tanpa ketergantungan kafein.

3. Substitusi dengan Hidrasi Ekstra

Perlu diingat, kafein bersifat diuretik (membuat sering buang air kecil). Mengurangi kafein berarti tubuh akan menahan cairan lebih baik, namun proses detoks tetap butuh bantuan air.

Gantikan ritual memegang cangkir kopi pagi dengan memegang gelas besar berisi air putih hangat atau infused water (air lemon/timun).

  • Manfaat: Hidrasi yang cukup sangat membantu meredakan gejala sakit kepala akibat pelebaran pembuluh darah.
  • Target: Pastikan asupan cairan tetap terpenuhi minimal 2 liter sehari selama masa transisi ini. Darah yang encer akan membawa oksigen lebih lancar ke otak, mengurangi risiko pusing dan lemas.

Kesimpulan

Ramadan adalah bulan untuk melatih hawa nafsu, termasuk ketergantungan kita pada zat stimulan. Jangan biarkan segelas kopi mengendalikan mood ibadah Anda.

Mulailah program pengurangan kafein ini sekarang juga. Dengan persiapan yang matang, Anda bisa memasuki hari pertama Ramadan dengan tubuh yang segar, kepala yang ringan, dan fokus ibadah yang tajam tanpa gangguan sakau.

Logo Radio
🔴 Radio Live