Period Craving, Ketika Tubuh Menuntut Cokelat dan Makanan Asin
Nisrina - Wednesday, 24 December 2025 | 11:34 AM


Pernahkah Anda merasa heran dengan perubahan nafsu makan yang drastis menjelang tamu bulanan datang? Tiba-tiba saja bayangan sepotong cokelat manis, semangkuk mi instan pedas, atau sekantong keripik asin terus menari-nari di pelupuk mata. Rasanya perut seolah memiliki kemauannya sendiri yang sulit untuk ditolak. Jika Anda pernah atau sering mengalaminya, tenang saja karena Anda tidak sendirian. Fenomena ini sangat lumrah dialami oleh banyak perempuan di dunia dan dikenal secara medis sebagai period craving.
Sering kali kita merasa bersalah karena menganggap diri kita lemah terhadap godaan makanan. Padahal di balik hasrat menggebu untuk mengunyah kudapan tersebut, ada alasan biologis yang sangat logis. Tubuh Anda sebenarnya sedang tidak mencari masalah, melainkan sedang berusaha menyeimbangkan diri di tengah badai hormon.
Gejolak Hormon dan Rindu Kebahagiaan
Dalang utama di balik rasa lapar yang spesifik ini adalah orkestra hormon yang sedang memainkan perannya dalam tubuh. Saat memasuki fase pra-menstruasi, kadar hormon estrogen dan progesteron mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Perubahan ini ternyata turut menyeret turun kadar serotonin di dalam otak.
Perlu diketahui bahwa serotonin adalah zat kimia neurotransmiter yang bertugas mengatur suasana hati dan rasa bahagia. Ketika stok serotonin menipis, perasaan kita cenderung menjadi lebih sensitif, mudah sedih, atau bad mood. Otak yang cerdas secara insting akan mencari cara cepat untuk menaikkan kembali level kebahagiaan tersebut.
Di sinilah letak jawabannya. Makanan yang mengandung karbohidrat dan gula, seperti cokelat, kue, atau pasta, adalah sumber energi instan yang mampu memicu pelepasan serotonin dengan cepat. Jadi keinginan kuat untuk menyantap makanan manis sebenarnya adalah upaya alami tubuh (self-medicating) untuk memperbaiki suasana hati yang sedang berantakan.
Tubuh yang Sedang Lembur
Selain faktor kimia otak, ada juga faktor kebutuhan energi fisik. Menstruasi adalah proses peluruhan dinding rahim yang cukup menguras tenaga. Pada fase ini, tingkat metabolisme basal tubuh cenderung sedikit meningkat karena tubuh sedang bekerja keras. Wajar jika tubuh kemudian mengirimkan sinyal lapar lebih sering dari biasanya untuk memenuhi kebutuhan kalori ekstra tersebut.
Belum lagi jika ditambah dengan lonjakan hormon stres atau kortisol. Kombinasi antara kelelahan fisik dan tekanan stres membuat otak mendambakan comfort food. Makanan yang gurih dan berlemak sering kali dipilih karena memberikan rasa nyaman dan kepuasan psikologis yang instan.
Berdamai dengan Keinginan Tubuh
Lantas bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya? Kuncinya ada pada kompromi yang bijak. Melarang diri sendiri secara ketat untuk tidak makan enak justru sering kali menjadi bumerang yang memicu stres tambahan. Hal ini bisa berujung pada binge eating atau makan kalap yang tak terkendali.
Cobalah untuk mendengarkan tubuh Anda dengan tetap menjaga keseimbangan. Jika Anda sangat menginginkan cokelat, pilihlah cokelat hitam atau dark chocolate. Selain memuaskan lidah, jenis ini kaya akan magnesium yang sangat ampuh untuk meredakan kram otot dan nyeri haid. Jika ingin yang asin, pastikan Anda juga mengimbanginya dengan minum air putih yang banyak untuk mencegah perut kembung atau bloating.
Pada akhirnya, period craving adalah cara unik tubuh berkomunikasi dengan kita. Dengarkan sinyal tersebut tanpa perlu merasa bersalah yang berlebihan. Tubuh Anda sedang bekerja keras melewati siklus bulanannya, jadi memberikan sedikit hadiah lezat tentu bukanlah sebuah kesalahan.
Next News

Jangan Sampai Perut Kenyang Tapi Otak "Busung Lapar": Membedah Prioritas Pendidikan Selain MBG
19 hours ago

Soft saving vs YOLO spending: nabung pelan atau nikmatin hidup sekarang?
3 days ago

Doomscrolling economy: kebiasaan scroll berita bikin makin cemas soal masa depan
3 days ago

Adaptasi cepat: "survival skill" utama Gen Z di dunia yang terus berubah
3 days ago

Self-preparedness: skill penting yang jarang diajarkan di Sekolah!
4 days ago

Bukan Sekadar Tinta: Membedah Ritual Rasa Sakit dan Komitmen di Balik Seni Tato
a day ago

Shortcut Menuju Melarat: Membongkar Algoritma dan Manipulasi Psikologi di Balik Slot Gacor
a day ago

FOMO vs realita: tekanan sosial di era semua serba update
4 days ago

Climate Anxiety: Kenapa Berita Lingkungan Bikin Kita Sesak?
4 days ago

Kenapa Petinggi Korporat Sekarang Lebih Pilih Ransel daripada Pakai Koper?
5 days ago





