Ceritra
Ceritra Cinta

Pacarku Seorang Superstar Mengapa Kita Bisa Jatuh Cinta pada Idol yang Tak Kita Kenal?

Refa - Monday, 15 December 2025 | 11:20 AM

Background
Pacarku Seorang Superstar Mengapa Kita Bisa Jatuh Cinta pada Idol yang Tak Kita Kenal?
Ilustrasi Hubungan Parasosial (Pinterest/)

Ponsel bergetar. Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi Bubble atau Weverse. Nama pengirimnya adalah bias (idola) kesayanganmu. Pesannya berbunyi: "Kamu sudah makan belum? Jangan lupa istirahat ya, aku memikirkanmu hari ini."

Jantung berdesir, senyum merekah. Rasanya seperti mendapat pesan dari pacar sendiri. Padahal, logika kita tahu bahwa pesan itu dikirim secara massal ke jutaan orang sekaligus. Namun, perasaan diperhatikan dan disayang itu terasa begitu nyata.

Selamat datang di dunia Hubungan Parasosial (Parasocial Relationship), sebuah ikatan cinta satu arah yang menjadi tulang punggung industri K-Pop.

Ilusi Keintiman yang Dijual Mahal

Berbeda dengan selebriti barat yang cenderung menjaga jarak, industri K-Pop dibangun di atas fondasi "fantasi kepemilikan". Agensi tidak hanya menjual musik, mereka menjual ilusi keintiman.

Konsep idola dibentuk sebagai sosok boyfriend/girlfriend material. Melalui konten vlog keseharian, live streaming sambil makan malam, hingga aplikasi pesan berbayar, batas antara fans dan idola sengaja dibuat kabur. Fans tidak diposisikan sebagai penonton, melainkan sebagai "orang terdekat" yang diajak curhat.

Strategi ini menciptakan rasa kedekatan emosional yang intens. Otak kita, yang secara evolusi belum sepenuhnya beradaptasi dengan era digital, sering kali gagal membedakan antara interaksi virtual yang intens dengan hubungan sosial nyata. Akibatnya, otak melepaskan hormon dopamin dan oksitosin (hormon cinta) saat melihat idol, sama seperti saat kita melihat gebetan di dunia nyata.

Ruang Aman Tanpa Penolakan

Mengapa banyak orang lebih nyaman "bucin" ke idol daripada mencari pasangan nyata? Jawabannya adalah keamanan.

Mencintai idol adalah hubungan yang aman dari risiko penolakan. Idol tidak akan pernah memutus pesanmu (selama kamu berlangganan), tidak akan mengkritik penampilanmu, dan selalu tampil sempurna dengan kata-kata manis. Di tengah dunia kencan modern yang penuh ghosting dan ketidakpastian, idol menjadi pelabuhan emosional yang stabil dan selalu ada. Mereka adalah "pacar sempurna" yang tidak menuntut apa-apa selain dukungan.

Ketika Fantasi Bertabrakan dengan Realita

Namun, cinta parasosial ini memiliki sisi gelap yang menyakitkan ketika terjadinya dating scandal.

Ketika seorang idol ketahuan berkencan dengan orang lain di dunia nyata, reaksi fans sering kali bukan sekadar kecewa, melainkan merasa dikhianati. Rasanya seperti diselingkuhi oleh pasangan sendiri.

Ini bukan karena fans gila atau delusi. Ini adalah konsekuensi logis dari investasi emosional yang mereka tanam selama bertahun-tahun. Ketika agensi menjual narasi "Aku cuma punya fans" dan fans mempercayainya dengan hati tulus, kabar kencan dianggap sebagai pelanggaran kontrak emosional tersebut. Runtuhnya fantasi bahwa "dia milik kita bersama" memaksa fans menghadapi realita pahit: Kita hanyalah konsumen, dan dia punya kehidupan nyata yang tak bisa kita sentuh.

Menikmati Tanpa Tersesat

Jatuh cinta pada idol itu wajar dan bisa menjadi sumber semangat (mood booster) yang hebat. Tidak ada salahnya menjadikan mereka standar tipe ideal atau sumber kebahagiaan.

Kuncinya adalah Sadar Batas. Menyadari bahwa getaran di hati saat melihat notifikasi mereka adalah produk hiburan yang didesain dengan jenius. Cintai karyanya, dukung karirnya, tapi sisakan ruang di hati untuk seseorang yang nyata, yang bisa benar-benar membalas genggaman tanganmu, bukan sekadar membalas komentar di layar kaca.

Logo Radio
🔴 Radio Live