Ceritra
Ceritra Warga

Nastar dan Opor Melambai? Ini Cara Bijak Makan di Hari Raya

Nisrina - Thursday, 19 March 2026 | 07:45 AM

Background
Nastar dan Opor Melambai? Ini Cara Bijak Makan di Hari Raya
Ilustrasi (Freepik/)

Lebaran itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ada euforia kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar, haus, dan emosi (termasuk emosi ngelihat chat mantan). Di sisi lain, Lebaran adalah jebakan Batman yang bernama "makanan enak tanpa batas". Begitu gema takbir berkumandang, mendadak meja makan berubah jadi medan perang yang penuh dengan ranjau kolesterol: opor ayam yang santannya sekental kuah ramen premium, rendang yang bumbunya meresap sampai ke sanubari, hingga nastar yang kalau dimakan satu nggak cukup, tapi kalau dimakan satu toples ya bikin nyesel di timbangan.

Masalahnya, momen Lebaran seringkali bikin kita jadi kaum rebahan-syariah. Alurnya ketebak banget: makan besar, ngobrol bentar, lalu terkapar di sofa karena food coma alias ngantuk berat sehabis makan karbo berlebih. Kalau siklus ini dibiarkan selama seminggu penuh masa liburan, jangan kaget kalau pas balik ke kantor, kancing celana tiba-tiba minta cerai atau pipi jadi makin chubby melampaui batas kewajaran. Nah, biar kamu nggak bertransformasi jadi 'rendang berjalan', ada beberapa tips receh tapi ampuh biar tetap aktif di tengah gempuran ketupat.

Jadikan 'Berbenah Rumah' Sebagai Pengganti Gym

Mari kita jujur, saat Lebaran biasanya asisten rumah tangga atau orang yang biasa bantu-bantu di rumah lagi mudik. Ini sebenarnya berkah terselubung buat kamu yang malas ke pusat kebugaran. Daripada ngeluh capek karena harus nyapu, ngepel, atau nyuci piring tumpukan tamu, coba ubah mindset kamu. Anggap saja gerakan menggosok piring itu sebagai latihan otot trisep, dan gerakan mengepel lantai sebagai low-impact cardio.

Coba deh rasakan sensasi keringat yang bercucuran pas lagi beresin ruang tamu setelah diserbu keponakan-keponakan yang energinya setara baterai nuklir. Itu kalori dari dua butir nastar mungkin sudah terbakar tuntas cuma dengan angkat-angkat kursi atau mindahin meja. Intinya, jangan biarkan rumah berantakan, dan jangan biarkan badanmu cuma diam mematung nungguin disuapin nastar lagi.

Silaturahmi Versi Jalan Kaki, Bukan 'Gaspol' Kendaraan

Kebiasaan orang kita kalau mau ke rumah tetangga yang jaraknya cuma 500 meter aja kadang masih harus keluarin motor atau mobil. Alasannya klasik: panas atau biar nggak capek. Padahal, momen Lebaran adalah waktu terbaik buat jalan kaki santai. Selain bisa menyapa tetangga di sepanjang jalan (yang mungkin jarang kamu temui karena sibuk kerja), jalan kaki adalah cara paling murah buat tetap aktif.

Kalau rumah saudara masih dalam satu komplek atau satu desa, usahakan jalan kaki saja. Selain sehat, kamu juga terhindar dari keribetan cari parkir yang biasanya bikin emosi di hari kemenangan. Anggap saja ini sesi walking tour versi kearifan lokal. Sambil jalan, kamu bisa update status atau bikin konten estetik suasana Lebaran di kampung halaman. Tubuh gerak, konten aman, silaturahmi pun jalan.

Jadilah 'Volunteer' Pengasuh Keponakan

Punya keponakan kecil yang hobi lari-larian? Jangan malah dijauhi karena berisik. Justru mereka adalah personal trainer paling jujur dan paling sadis yang pernah ada. Coba deh ajak mereka main petak umpet, main bola di halaman, atau sekadar kejar-kejaran. Energinya anak kecil itu nggak ada habisnya, dan kalau kamu meladeni mereka selama satu jam saja, itu sudah setara dengan sesi HIIT (High-Intensity Interval Training) di gym-gym mahal Jakarta.

Selain bikin kamu tetap aktif, jadi 'om' atau 'tante' yang asyik juga bakal menaikkan citramu di mata keluarga besar. Kamu nggak bakal ditanya "Kapan nikah?" atau "Gaji sekarang berapa?" karena mulutmu sibuk ngos-ngosan ngejar bocah yang lagi lari bawa pistol air. Strategi pengalihan isu yang sehat, bukan?

Olahraga Tipis-tipis Sambil Nunggu Tamu

Nggak perlu yang berat-berat sampai angkat beban atau lari maraton. Kamu bisa melakukan stretching ringan atau gerakan simpel seperti squat dan lunges di dalam kamar sambil menunggu tamu berikutnya datang. Atau kalau kamu tipe yang nggak bisa lepas dari HP, coba main game yang melibatkan gerakan fisik, kayak Just Dance atau game olahraga berbasis sensor gerak lainnya.

Poin utamanya adalah jangan biarkan tubuhmu 'membeku' dalam posisi duduk atau tiduran terlalu lama. Setiap 30 menit sekali, usahakan bangun dan bergerak selama 5 menit. Jalan-jalan keliling rumah atau sekadar berdiri sambil merentangkan tangan itu sudah sangat membantu sirkulasi darah yang mungkin agak tersumbat karena kebanyakan makan lemak dan santan.

Tetap Waras dengan Hidrasi yang Benar

Ini terdengar klise, tapi sangat krusial. Di meja Lebaran, biasanya berderet minuman manis mulai dari sirup merah legendaris sampai minuman bersoda. Masalahnya, gula yang tinggi bikin kamu cepat merasa lemas dan malas bergerak (sugar crash). Tipsnya: jangan lupakan air putih. Selalu sediakan botol minum di dekatmu.

Air putih bukan cuma buat menghapus rasa seret setelah makan opor, tapi juga menjaga metabolisme tubuh tetap lancar. Kadang, otak kita salah mengira rasa haus sebagai rasa lapar. Jadi, sebelum kamu nambah piring kedua rendang, coba minum segelas air putih dulu. Siapa tahu itu cuma haus, dan kamu nggak perlu menimbun kalori tambahan yang nggak perlu.

Lebaran memang momen buat bersenang-senang dan merayakan kebersamaan. Nggak ada salahnya makan enak, itu adalah apresiasi buat diri sendiri setelah sebulan berjuang. Tapi, jangan sampai momen kemenangan ini malah jadi awal dari masalah kesehatan di kemudian hari. Tetap aktif itu nggak harus ribet dan nggak harus bikin stres. Yang penting ada niat dan nggak terbawa arus mager yang hakiki. Ingat, baju kantor yang kamu pakai Senin depan nggak bisa melar seelastis sarung Lebaranmu sekarang. Jadi, yuk, gerak dikit biar tetap fit!

Logo Radio
🔴 Radio Live