Ceritra
Ceritra Warga

Mikroplastik Tak Hanya dari Plastik: Ancaman Fast Fashion dan Debu Ban yang Masuk ke Laut dan Udara

Refa - Thursday, 29 January 2026 | 05:00 PM

Background
Mikroplastik Tak Hanya dari Plastik: Ancaman Fast Fashion dan Debu Ban yang Masuk ke Laut dan Udara
Ilustrasi fast fashion (Freepik/Freepik)

Di tengah diskusi hangat tentang mikroplastik, kebanyakan orang masih terjebak pada gambaran sederhana dengan botol plastik pecah, kantong kresek berserakan, dan semua itu menetes ke laut. Padahal, ada dua kontributor utama yang sering terlupakan dan mereka datang dari tempat yang paling tidak terduga, yaitu pakaian sintetis yang kita cuci bersih-bersih setiap minggu dan debu ban kendaraan yang mengusik jalanan kota. Inilah kisah tentang bagaimana gaya hidup konsumtif dan kendaraan kita menjerat laut, sekaligus menembus udara yang kita hirup.

Fast Fashion: Baju Murah, Lingkungan Pahit

Katakanlah kamu membeli kaos polyester murah di outlet "low price" dan menggunakannya tiga kali sebelum mengganti dengan yang baru. Setiap kali kamu mencuci, serat sintetis yang beratnya satu milyar kali lebih ringan dibandingkan serat alami meledak keluar dari setiap lipatan pakaian. Perkiraan ilmuwan mengatakan bahwa satu cucian biasa bisa mengeluarkan antara 700 hingga 5.000 partikel mikroplastik. Kalau kamu, sepertinya, mencuci tiga atau empat kali seminggu, jumlahnya sudah menjadi masalah besar. Lebih dari 10 juta partikel mikroplastik di setiap cucian dan itu belum termasuk debu ban.

Masalahnya, microfibers ini tidak terikat di dalam mesin cuci. Mereka terlepas dan menembus sistem drainase, akhirnya menuju sungai, dan kemudian laut. Di laut, mereka menjadi makanan bagi plankton, makhluk kecil yang menjadi dasar rantai makanan. Satu mikroplastik kecil bisa menelan ratusan mikroplastik lain dan sampai akhirnya masuk ke dalam tubuh kita melalui rantai makanan laut. Jadi, bila kamu memakan ikan, kamu tidak hanya memakan protein, tapi juga potongan kecil pakaianmu.

Debu Ban: Uap dari Jalanan ke Hidung

Berbicara tentang kendaraan, debu ban sering jadi komplotan yang kurang mendapat sorotan. Ketika ban mengeras, partikel kecil terlepas ke permukaan aspal. Ketika kendaraan melaju, angin mengangkat partikel itu, memaksa mereka menempel pada udara di sekitarnya. Bahkan di pagi hari, ketika matahari belum memanas, debu ban sudah menetes di jendela mobil.

Dan tahukah kamu? Debu ban ini lebih berat dari mikroplastik biasa, sehingga ia dapat menempel pada tubuh manusia ketika kita bernafas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa debu ban mengandung logam berat seperti kadmium dan arsenik, serta bahan kimia tambahan yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan dan bahkan kanker. Jadi, selain merusak jalan, debu ban juga merusak paru-paru kita.

Rantai Pengaruh Dari Kain ke Laut dan Udara ke Tubuh

Apabila kita melihat lebih jauh, kita akan menemukan bahwa dua fenomena ini saling mempengaruhi. Misalnya, ketika kita mencuci pakaian sintetis, partikel mikroplastik dapat menempel pada ban kendaraan ketika kendaraan melintas di jalanan basah. Kemudian, debu ban yang terbentuk menyeberang ke sungai, menambahkan beban mikroplastik ke sistem perairan. Proses ini menambah tingkat konsentrasi mikroplastik di laut, mempercepat penumpukan di ekosistem perairan.

Di sisi lain, debu ban yang terperangkap di udara mengandung mikroplastik yang berasal dari ban itu sendiri dan ketika ia jatuh ke sungai, ia menambahkan beban lain. Keduanya menjadi bagian dari "kebocoran" polusi mikroplastik yang sebenarnya tidak hanya berasal dari plastik sekali pakai.

Apakah Kita Bisa Mengubah Pola Konsumsi?

Berbicara soal fast fashion, tidak ada salahnya untuk memulai dengan satu langkah kecil, yaitu cuci pakaian setengah kapasitas, gunakan suhu rendah, dan gunakan tas pencuci yang dirancang khusus untuk mengendalikan mikrofiber. Ada juga alternatif alami seperti katun organik, linen, atau bahkan hemp, yang tidak mengeluarkan mikroplastik. Bagi mereka yang memang ingin tetap trendy, pilih produk lokal atau yang menggunakan teknologi slow fashion yang menonjolkan kualitas daripada kuantitas.

Selanjutnya, debu ban bisa dikurangi dengan memilih kendaraan listrik atau setidaknya kendaraan yang memiliki sistem filter ban. Pemerintah juga dapat memperketat standar emisi ban dan memperkenalkan teknologi penyerap debu ban di jalan. Namun, di tingkat pribadi, kita dapat menunda mobil untuk berkeliling lebih jauh, memilih transportasi umum, atau bersepeda. Mengurangi jarak tempuh kendaraan berarti mengurangi jumlah debu ban yang terlepas ke udara.

Kesimpulan: Air Bersih, Udara Bersih, Pakaian Bersih

Saat ini, kita hidup di dunia yang terhubung, dimana satu tindakan kecil dapat menambah atau mengurangi beban lingkungan. Jadi, di saat kamu memutuskan untuk membeli baju baru, pikirkan apakah itu benar-benar perlu atau hanya fast fashion lagi. Dan ketika kamu menyalakan mobil, ingatlah bahwa setiap partikel ban yang terlepas adalah bagian dari rantai yang lebih besar.Inilah tantangan besar bagi generasi muda: menjaga laut tetap bersih, udara tetap segar, dan tetap fashionable tanpa harus membayar harga bumi. Semoga dengan informasi ini, kita semua bisa mengambil langkah kecil menuju dunia yang lebih berkelanjutan.

  • Cuci pakaian dengan suhu rendah dan gunakan tas pencuci.
  • Pilih bahan alami atau slow fashion.
  • Kurangi jarak tempuh kendaraan, gunakan transportasi umum atau sepeda.
  • Periksa filter ban dan dukung regulasi pengendalian debu ban.
  • Bagikan informasi ini kepada teman-teman, agar kesadaran menjadi lebih luas.
Logo Radio
🔴 Radio Live