Merasa Left Behind Ketika Teman-Teman Mayoritas Sudah Menikah?
Refa - Wednesday, 24 December 2025 | 09:30 AM


Akhir pekan sering kali menjadi momen yang paling menguji mental bagi para lajang di usia dewasa muda. Bukan karena beban pekerjaan, melainkan karena serbuan notifikasi media sosial. Foto cincin di jari manis, video lamaran estetik, hingga undangan resepsi digital yang datang bertubi-tubi di grup WhatsApp.
Di satu sisi, ada rasa bahagia yang tulus untuk sahabat yang menemukan pelabuhan hati. Namun, di sisi lain yang lebih gelap dan sunyi, muncul perasaan asing yang menyakitkan, seperti rasa cemas, kesepian, dan keyakinan irasional bahwa diri ini sedang "kalah" dalam sebuah perlombaan tak kasat mata.
Inilah fenomena Left Behind Syndrome dalam konteks relasi sosial. Perasaan ini valid, nyata, dan dialami oleh jutaan orang, meskipun jarang dibicarakan secara terbuka karena rasa gengsi.
Bukan Iri, Melainkan Duka (Grief)
Kesalahpahaman terbesar mengenai perasaan ini adalah melabelinya sebagai "iri dengki". Padahal, emosi yang dirasakan sebenarnya lebih dekat dengan duka cita atau kehilangan.
Ketika seorang sahabat menikah, alam bawah sadar menyadari bahwa dinamika persahabatan akan berubah selamanya. Prioritas sahabat tersebut akan bergeser drastis ke pasangan dan (kelak) anak-anaknya. Momen "nongkrong" dadakan di kedai kopi, panggilan telepon larut malam, atau perjalanan spontan ke luar kota tidak akan lagi mudah dilakukan. Rasa sesak di dada saat melihat teman menikah sebenarnya adalah proses berduka atas matinya sebuah era kebebasan masa muda bersama sahabat tersebut.
Tekanan "Jam Dinding Sosial"
Masyarakat sering kali menetapkan standar waktu (timeline) yang kaku dan seragam. Lulus kuliah usia 22, bekerja usia 23, menikah usia 25-28, dan punya anak sebelum 30. Siapa pun yang melenceng dari jadwal ini akan dianggap "terlambat" atau "bermasalah".
Tekanan inilah yang menciptakan ilusi ketertinggalan. Padahal, hidup bukanlah lintasan lari dengan garis start dan finish yang sama bagi semua orang. Menikah cepat bukanlah prestasi, dan menikah lambat (atau tidak menikah) bukanlah kegagalan. Setiap individu memiliki zona waktu sendiri. Ada yang menikah di usia 21 tapi bercerai di usia 25. Ada pula yang baru menikah di usia 35 namun mendapatkan kematangan emosional dan finansial yang stabil. Membandingkan "bab 1" kehidupan seseorang dengan "bab 10" orang lain adalah resep utama penderitaan batin.
Jebakan Media Sosial: Etalase Kebahagiaan Semu
Rasa tertinggal diperparah oleh kurasi konten di media sosial. Instagram dan TikTok hanya menampilkan highlight atau momen terbaik dari kehidupan pernikahan. Foto pre-wedding yang mesra, pesta mewah, atau momen manis bulan madu.
Layar ponsel tidak pernah menampilkan perdebatan sengit tentang cicilan rumah, kompromi sulit dengan mertua, atau kelelahan mengurus rumah tangga. Konsumsi konten yang tidak seimbang ini membuat kehidupan lajang terasa menyedihkan dan kehidupan pernikahan terlihat sempurna tanpa cela. Padahal, status pernikahan hanyalah perpindahan dari satu set masalah ke set masalah yang lain. Menikah tidak secara otomatis menghilangkan rasa sepi, sama seperti melajang tidak otomatis berarti menderita.
Revaluasi Definisi Bahagia
Momen ketika teman-teman mulai "menghilang" ke dalam kehidupan rumah tangga sebenarnya adalah panggilan bangun (wake-up call) untuk melakukan revaluasi diri. Selama ini, kebahagiaan mungkin terlalu digantungkan pada keberadaan teman atau validasi eksternal.
Fase ini adalah kesempatan emas untuk membangun keintiman dengan diri sendiri. Waktu luang dan sumber daya finansial yang dimiliki seorang lajang adalah kemewahan yang sering dirindukan oleh mereka yang sudah berkeluarga. Ini adalah waktu terbaik untuk mengejar karier, melanjutkan pendidikan, traveling solo, atau menekuni hobi yang mahal. Mengubah narasi dari "saya kesepian" menjadi "saya memiliki kebebasan penuh" dapat mengubah rasa minder menjadi rasa syukur.
Kualitas di Atas Kuantitas
Semakin bertambah usia, lingkaran pertemanan secara alami akan mengecil. Ini adalah seleksi alam. Teman-teman yang hanya ada untuk hura-hura akan berguguran, menyisakan segelintir sahabat sejati yang berkualitas.
Hubungan dengan teman yang sudah menikah memang akan berubah bentuk, namun bukan berarti berakhir. Interaksi mungkin menjadi jarang, tetapi bisa menjadi lebih bermakna (deep talk). Selain itu, ini juga momen untuk membuka diri terhadap lingkaran sosial baru yang memiliki minat atau status yang sama, sehingga tidak terpaku pada lingkaran lama yang sudah berbeda fase kehidupan.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
3 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
3 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






