Ceritra
Ceritra Warga

Mengungkap Kisah Pilu di Balik Asbabun Nuzul Surat Al Maun dan Ciri Pendusta Agama

Nisrina - Friday, 30 January 2026 | 10:45 AM

Background
Mengungkap Kisah Pilu di Balik Asbabun Nuzul Surat Al Maun dan Ciri Pendusta Agama
Ilustrasi (Freepik/)

Surat Al Maun merupakan salah satu surat pendek dalam Al Quran yang sangat sering kita dengar dan baca dalam salat sehari hari. Surat ke 107 ini memiliki nama lain seperti Surat Ad Din atau Surat Al Yatim karena isinya yang sangat spesifik membahas dua hal tersebut. Meskipun hanya terdiri dari tujuh ayat namun kandungan maknanya sangat menohok hati nurani kita sebagai umat Islam.

Banyak orang mungkin sudah hafal di luar kepala bacaan surat ini sejak masih kecil di bangku taman pendidikan Al Quran. Namun tidak banyak yang benar benar memahami sejarah kelam atau Asbabun Nuzul yang melatarbelakangi turunnya wahyu ini. Padahal memahami konteks sejarah sangat penting agar kita tidak salah dalam menafsirkan maksud ayat per ayatnya.

Allah SWT menurunkan surat ini sebagai teguran keras bagi mereka yang mengaku beragama namun perilakunya justru bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Surat ini membongkar kedok kepalsuan orang orang yang rajin beribadah ritual namun abai terhadap masalah sosial di sekitarnya. Mari kita telusuri kisah nyata di zaman Nabi yang menjadi sebab turunnya surat penuh peringatan ini.


Kisah Abu Sufyan dan Anak Yatim

Para ulama tafsir memiliki beberapa riwayat mengenai siapa sosok yang disindir secara keras dalam awal surat ini. Riwayat yang paling masyhur menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perilaku Abu Sufyan bin Harb. Tokoh Quraisy ini dikenal sebagai orang yang kaya raya dan terpandang di kalangan masyarakat Mekkah saat itu.

Dikisahkan bahwa Abu Sufyan memiliki kebiasaan menyembelih unta yang gemuk setiap pekannya untuk dikonsumsi bersama teman temannya. Suatu hari datanglah seorang anak yatim yang kelaparan ke rumahnya saat pesta makan sedang berlangsung. Anak yatim tersebut memberanikan diri meminta sedikit daging unta hanya untuk mengganjal perutnya yang kosong.

Alih alih memberikan bantuan atau sisa makanan Abu Sufyan justru marah besar kepada anak kecil tersebut. Ia menghardik dan memukul anak yatim itu dengan tongkat serta mengusirnya secara kasar dari hadapannya. Perilaku kejam dan tidak manusiawi inilah yang kemudian diabadikan Allah dalam kalimat "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim."

Kesombongan Abu Jahl dan Walid bin Mughirah

Selain Abu Sufyan ada juga riwayat lain yang dikaitkan dengan tokoh antagonis Islam lainnya yaitu Abu Jahl. Sosok ini dikenal sebagai wali atau pengasuh dari seorang anak yatim yang memiliki harta warisan cukup banyak. Namun bukannya menjaga amanah Abu Jahl justru menahan harta tersebut dan membiarkan anak asuhnya hidup dalam kekurangan.

Suatu ketika anak yatim tersebut datang kepada Abu Jahl dalam keadaan telanjang alias tidak memiliki pakaian yang layak. Ia memohon agar diberikan sebagian dari harta warisannya sendiri sekadar untuk membeli pakaian penutup tubuh. Namun dengan sombongnya Abu Jahl menolak permintaan tersebut dan mengusirnya tanpa belas kasihan.

Riwayat lain juga menyebut nama Walid bin Mughirah sebagai salah satu sebab turunnya surat ini. Ketiga tokoh ini mewakili sifat manusia yang kikir dan tidak memiliki empati terhadap kaum lemah. Kisah kisah inilah yang menjadi tamparan keras bahwa kesalehan sosial adalah tolok ukur utama kebenaran iman seseorang.

Definisi Pendusta Agama yang Sebenarnya

Istilah "Pendusta Agama" dalam Surat Al Maun memberikan definisi baru yang sangat revolusioner pada masa itu. Biasanya orang menganggap pendusta agama adalah mereka yang tidak mau menyembah Tuhan atau orang kafir. Namun surat ini menegaskan bahwa orang Islam pun bisa disebut pendusta agama jika ia pelit dan jahat kepada sesama.

Allah SWT tidak hanya melihat berapa banyak rakaat salat yang kita kerjakan di masjid. Allah juga menilai bagaimana perlakuan kita terhadap anak yatim dan orang miskin yang ada di lingkungan sekitar. Mengabaikan rasa lapar tetangga atau menindas anak yatim sama artinya dengan mendustakan hari pembalasan.

Ayat ini mengajarkan kita bahwa ibadah vertikal kepada Allah atau Hablum Minallah tidak akan sempurna tanpa ibadah horizontal atau Hablum Minannas. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Tidak ada gunanya beribadah jika hati kita keras membatu melihat penderitaan orang lain.

Ancaman Bagi Orang yang Lalai Dalam Salat

Bagian kedua dari surat ini menyoroti perilaku orang orang munafik yang celaka dalam salatnya. Ayat "Maka celakalah bagi orang orang yang salat" sering kali membuat orang terkejut jika berhenti membacanya sampai di situ saja. Namun lanjutannya menjelaskan bahwa yang celaka adalah mereka yang lalai dari tujuan salatnya.

Konteks Asbabun Nuzul pada bagian ini merujuk pada orang orang munafik di Madinah yang salat hanya untuk dilihat orang lain atau Riya. Mereka rajin salat ketika berada di tengah keramaian bersama Nabi namun malas malasan saat sendirian. Salat bagi mereka hanyalah topeng pencitraan sosial dan bukan kebutuhan spiritual.

Lalai di sini juga bisa diartikan sebagai orang yang menunda nunda waktu salat hingga habis waktunya tanpa alasan syar'i. Mereka yang tidak khusyuk dan tidak memahami apa yang dibaca juga masuk dalam kategori peringatan ini. Salat seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar namun bagi mereka salat tidak memberikan dampak apa pun pada perbaikan akhlak.

Makna Al Maun Barang yang Berguna

Nama surat ini diambil dari ayat terakhir yang berbunyi Wa yamna'unal ma'un. Kata Al Maun sendiri memiliki arti barang barang yang berguna atau bantuan kecil. Dalam konteks sosial masyarakat Arab saat itu Al Maun merujuk pada barang pinjaman sehari hari seperti panci kapak timba air atau jarum.

Orang yang celaka menurut surat ini adalah mereka yang enggan meminjamkan barang barang sepele tersebut kepada tetangganya. Padahal meminjamkan barang tersebut tidak akan mengurangi harta mereka sedikit pun. Sifat kikir yang mendarah daging membuat mereka menahan kebaikan sekecil apa pun dari orang lain.

Ini adalah sindiran tajam bagi kita yang hidup bertetangga namun bersikap individualis dan pelit. Islam mengajarkan semangat berbagi mulai dari hal yang paling sederhana. Menutup diri dari kebutuhan sosial tetangga adalah ciri ciri orang yang mendustakan agama menurut surat ini.

Relevansi di Kehidupan Modern

Pesan Surat Al Maun terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang hedonis dan materialistis saat ini. Banyak orang berlomba lomba memamerkan ibadah umrah atau sedekah di media sosial demi konten semata. Sifat Riya yang dulu disembunyikan kini justru dipertontonkan secara terang terangan.

Di sisi lain ketimpangan sosial semakin lebar di mana si kaya makin kaya dan si miskin makin terpinggirkan. Kita sering melihat fenomena orang yang rajin ke masjid namun abai terhadap anak yatim piatu di panti asuhan sebelah rumahnya. Surat ini hadir sebagai alarm peringatan agar kita segera mengevaluasi kualitas keberagamaan kita.

Mari jadikan Asbabun Nuzul Surat Al Maun ini sebagai cermin diri untuk memperbaiki akhlak sosial kita. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang yang celaka padahal kita merasa sudah banyak beramal. Santuni anak yatim beri makan orang miskin dan ikhlaslah dalam beribadah hanya karena Allah SWT.

Logo Radio
🔴 Radio Live