Mengungkap Ketimpangan Beban Kontrasepsi yang Masih Timpang Tindih di Indonesia
Nisrina - Thursday, 29 January 2026 | 07:45 AM


Program Keluarga Berencana atau KB sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rumah tangga masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Sayangnya ada kenyataan pahit yang sering luput dari perhatian kita di balik suksesnya jargon dua anak cukup. Beban pencegahan kehamilan ini ternyata hampir sepenuhnya ditanggung oleh kaum perempuan seorang diri.
Data statistik dari BKKBN terus menunjukkan ketimpangan partisipasi yang sangat mencolok antara suami dan istri setiap tahunnya. Angka penggunaan kontrasepsi oleh laki-laki tercatat sangat rendah dan sulit beranjak naik secara signifikan. Mayoritas metode KB seperti suntik, pil, implan, atau spiral secara mutlak digunakan oleh para istri.
Padahal metode kontrasepsi hormonal maupun non-hormonal pada perempuan memiliki sederet efek samping yang tidak main-main. Mulai dari siklus haid yang berantakan, perubahan suasana hati yang drastis, pusing, hingga kenaikan berat badan yang sulit dikontrol. Perempuan dipaksa berdamai dengan rasa sakit dan ketidaknyamanan fisik ini seumur hidup demi menunda kehamilan.
Fenomena ketimpangan ini tidak bisa dilepaskan dari cengkeraman budaya patriarki yang masih mengakar kuat di masyarakat kita. Ada anggapan kuno bahwa urusan reproduksi, mengasuh anak, dan ranah domestik adalah wilayah kekuasaan mutlak perempuan. Laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah dianggap tidak boleh "diganggu" kenyamanannya dengan urusan alat kontrasepsi.
Kondisi ini menciptakan standar ganda yang merugikan kesehatan reproduksi perempuan dalam jangka panjang. Tubuh perempuan seolah dijadikan objek eksperimen hormon demi menjaga kestabilan ekonomi dan jumlah anggota keluarga. Sementara itu pihak laki-laki bisa bebas melenggang tanpa beban fisik maupun mental terkait perencanaan keluarga.
Mitos keliru seputar kontrasepsi pria juga turut memperparah ketidakadilan gender yang terjadi di kamar tidur ini. Banyak laki-laki yang masih salah kaprah menyamakan metode vasektomi dengan pengebirian yang bisa menghilangkan kejantanan. Ketakutan tidak berdasar akan hilangnya libido membuat opsi kontrasepsi medis pria menjadi sangat tidak populer.
Bahkan penggunaan kondom yang merupakan metode paling sederhana dan minim risiko kesehatan pun sering kali ditolak mentah-mentah. Alasan utamanya biasanya sangat egois yaitu karena dianggap mengurangi sensitivitas dan kenikmatan seksual saat berhubungan. Lagi-lagi kenyamanan seksual laki-laki ditempatkan di atas kesehatan dan beban tubuh pasangannya sendiri.
Kurangnya edukasi yang menyasar kaum pria membuat mereka merasa bahwa KB bukanlah tanggung jawab mereka. Iklan layanan masyarakat dan penyuluhan kesehatan selama ini juga cenderung lebih banyak menargetkan ibu-ibu. Akibatnya tercipta pola pikir kolektif bahwa jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan maka itu adalah kelalaian istri.
Padahal hubungan seksual dilakukan atas dasar keinginan dua belah pihak secara bersama-sama. Sangat tidak logis jika risiko dan beban pencegahan kehamilan hanya dibebankan pada pundak satu pihak saja. Konsep keluarga berencana seharusnya dimaknai sebagai perencanaan bersama yang melibatkan tubuh suami dan istri secara adil.
Ego laki-laki yang enggan berbagi peran dalam kesehatan reproduksi adalah bentuk nyata penindasan patriarki yang halus namun menyakitkan. Membiarkan istri menanggung efek samping obat-obatan sendirian sementara suami menolak memakai pengaman adalah tindakan yang tidak empatik. Cinta seharusnya juga berarti melindungi pasangan dari rasa sakit yang tidak perlu.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma usang bahwa KB adalah kewajiban istri semata di dalam rumah tangga. Diskusi terbuka dan setara antara suami istri mengenai metode kontrasepsi yang paling minim risiko harus mulai dibudayakan. Laki-laki harus mulai berani mengambil peran entah itu dengan menggunakan kondom atau melakukan vasektomi jika jumlah anak sudah cukup.
Mewujudkan kesetaraan gender tidak harus selalu lewat orasi besar di jalanan atau podium politik. Kesetaraan bisa dimulai dari keputusan sederhana di dalam kamar tidur tentang siapa yang akan memakai alat kontrasepsi. Keluarga yang harmonis dan sehat seharusnya dibangun di atas kesepakatan yang adil dan rasa tanggung jawab bersama tanpa mengorbankan tubuh siapa pun.
Next News

Bahaya Nasi yang Salah Masak: Bisa Melumpuhkan Pencernaan
20 hours ago

Ketemu Kucing Hitam Saat Berkendara? Simak Fakta dan Mitosnya
a day ago

Budaya Makan Visual: Ketika Kamera Lebih Lapar dari Perut
a day ago

Dilema Rak Dekorasi: Tanaman Hidup vs Palsu Mana yang Lebih Oke?
3 days ago

Alasan Mengapa Kamu Harus Selalu Bawa Tas Belanja Sendiri
4 days ago

Bekal Cepat Basi? Ini 5 Rahasia Packing Bekal Makan Siang Agar Tetap Enak
4 days ago

Mengenal Sejarah Teddy Bear: Kenapa Harus Pakai Nama Teddy?
5 days ago

Misteri Earworm: Kenapa Lagu yang Kita Benci Malah Susah Hilang?
8 days ago

Membedah Lebih Dalam: Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dalam Kepercayaan Diri Individu
9 days ago

Bukan Kebetulan, Ini Asal Usul Nama Makanan Berawalan Bak
10 days ago





