Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Stunting Masih Membayangi Anak Indonesia?

Refa - Wednesday, 28 January 2026 | 11:30 AM

Background
Mengapa Stunting Masih Membayangi Anak Indonesia?
Ilustrasi bayi yang sedang ditimbang berat badannya (Pinterest/Jenniferesla)

Bayangkan kamu sedang menonton film drama yang penuh plot twist. Tahu? Satu-satu saja yang terjadi di lapangan: kurang gizi, kurang perawatan, dan kebijakan yang belum tentu terpakai. Itulah kisah di balik angka stunting di Indonesia.

Tak peduli kamu tinggal di kota berskala megah atau di desa terpencil, efeknya menempel pada generasi yang akan menelusuri masa depan.

Apa Sih Stunting Itu?

Stunting bukan sekadar "kurang tinggi" pada anak. Ini lebih ke kondisi kronis di mana berat badan dan tinggi badan anak kurang sesuai dengan standar umur. Secara sederhana, jika diukur, mereka berada di bawah garis 3% dari median tinggi anak setara usia.

Sementara di Indonesia, sekitar 24,3% anak berusia 0-5 tahun tercatat stunting. Angka ini menakutkan karena mewakili hampir 5 juta anak yang potensi otak, fisik, dan sosialnya diibaratkan berkurang.

Gizi, Perawatan, dan Kebijakan: 3 Pilar Yang Saling Taut

Gizi buruk, misalnya kekurangan vitamin A, zat besi, dan protein, seringkali menjadi penyebab utama stunting. Di sisi lain, perawatan kesehatan rutin, sanitasi, dan kebijakan pemerintah juga memegang peran. Kalau gizi buruk itu "bumbu" yang hilang, perawatan adalah "dapur" yang tidak memadai, dan kebijakan? Itu "menu" yang belum disusun rapih.

  • Gizi: Bayangkan tubuh anak seperti mobil, dan gizi adalah bahan bakar. Tanpa bahan bakar yang cukup, mobil tidak akan menempuh jarak jauh. Begitu juga, tubuh anak yang kekurangan nutrisi akan tumbuh dengan berat badan dan tinggi badan yang rendah.
  • Perawatan: Rutin memeriksakan anak ke dokter, imunisasi, serta kebersihan lingkungan adalah kunci menjaga tubuh tetap berfungsi optimal.
  • Kebijakan: Program-program pemerintah seperti Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program bantuan makanan, dan peningkatan akses air bersih harus terintegrasi dan terjaga.

Stunting dan Potensi Masa Depan Anak

Stunting bukan sekadar "kurang tinggi". Lebih jauh, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas kerja, dan bahkan kesehatan mental. Menurut studi WHO, anak dengan stunting cenderung memiliki IQ rata-rata 2-3 poin lebih rendah dibanding anak sehat. Hasilnya, generasi berikutnya berpotensi kehilangan kesempatan yang lebih besar dalam pendidikan dan karier.

Di sisi lain, ekonomi keluarga juga dipengaruhi. Keluarga yang mengangkat anak stunting biasanya memiliki pendapatan rendah, kurang akses informasi kesehatan, dan keterbatasan fasilitas kesehatan. Hal ini menciptakan siklus yang sulit diputus: stunting → produktivitas rendah → pendapatan menurun → stunting berikutnya.

Peran Masyarakat dan Media

Media juga punya peran penting. Seperti yang kita lihat di publikasi populer, Mojok, Vice Indonesia, Kumparan, cerita tentang stunting sering dikemas ringan tapi tetap berdampak. Dalam format narasi yang mudah dicerna, pembaca diajak melihat fakta, mendengarkan suara terdalam, dan menyadari bahwa setiap anak punya hak atas pertumbuhan optimal.

Kesimpulan: Bersama Mencegah Stunting, Bukan Sekadar Menangani

Stunting bukanlah masalah tunggal, melainkan sinergi antara gizi, perawatan, dan kebijakan. Untuk mencegahnya, kita perlu:

  • Berinvestasi pada edukasi gizi sejak dini.
  • Meningkatkan akses sanitasi dan fasilitas kesehatan.
  • Menjalin kerja sama antara pemerintah, LSM, dan komunitas lokal.
  • Memanfaatkan teknologi digital untuk pemantauan dan edukasi.
  • Menumbuhkan kesadaran bahwa setiap anak adalah investasi masa depan.

Berbeda dengan "menangani" stunting yang hanya berfokus pada perawatan medis, pencegahan memerlukan aksi holistik. Kita semua, dari pemerintah, masyarakat, dan individu harus bersinergi agar generasi berikutnya tidak lagi menempuh jalan panjang berkarat. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa bukanlah tentang angka statistik, melainkan tentang kualitas kehidupan setiap anak yang tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya.

Logo Radio
🔴 Radio Live