Ceritra
Ceritra Teknologi

Mengapa Solar Lebih "Keras Kepala" Dibandingkan Bensin?

Nisrina - Monday, 22 December 2025 | 11:03 AM

Background
Mengapa Solar Lebih "Keras Kepala" Dibandingkan Bensin?
Ilustrasi bensin dan solar (Freepik/)

Ketika kita mampir ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), kita akan melihat pemandangan yang sudah sangat akrab. Ada antrean sepeda motor dan mobil pribadi yang mengular di pompa bensin, sementara di sudut lain truk-truk besar dan bus antarkota dengan sabar menanti giliran di pompa solar.

Meskipun keduanya sama-sama berasal dari perut bumi dan berfungsi sebagai "darah" bagi mesin kendaraan, solar dan bensin adalah dua entitas yang sangat berbeda. Perbedaan ini bukan sekadar soal warna cairan atau bau asap knalpotnya saja, melainkan menyangkut karakter kimiawi dasar yang menentukan bagaimana mesin kendaraan bekerja.

Mari kita kenali lebih dekat dua karakter unik ini.

Salah satu pertanyaan sains sederhana yang sering muncul adalah mengenai sifat keterbakaran kedua bahan bakar ini. Jika Anda menyandingkan segelas bensin dan segelas solar, bensin adalah sosok yang sangat temperamental. Ia mudah sekali menguap dan tersulut api. Cukup dengan percikan api sekecil apa pun, uap bensin akan langsung menyambar dan meledak.

Sebaliknya, solar memiliki karakter yang jauh lebih tenang atau bisa dibilang "keras kepala". Secara kimiawi, rantai karbon pada solar lebih panjang dan lebih berat dibandingkan bensin. Hal ini membuat solar tidak mudah menguap di suhu ruangan.

Fakta menariknya, jika Anda melempar korek api yang menyala ke dalam genangan solar di suhu normal, api tersebut kemungkinan besar akan padam seperti dicelupkan ke dalam air. Solar membutuhkan suhu yang sangat tinggi dan tekanan yang kuat untuk bisa terbakar. Sifat inilah yang disebut sebagai titik nyala atau flash point. Bensin memiliki titik nyala yang sangat rendah, bahkan di suhu minus sekalipun ia bisa terbakar. Sementara solar membutuhkan suhu panas tertentu untuk bisa mulai bereaksi dengan api.

Karena perbedaan sifat dasar itulah, mesin yang meminum bensin dan solar dirancang dengan cara yang bertolak belakang.

Mesin bensin bekerja dengan bantuan pemantik. Di dalam ruang mesin, campuran udara dan kabut bensin disemprotkan, lalu sebuah komponen kecil bernama busi akan memercikkan api listrik untuk meledakkan campuran tersebut. Ledakan itulah yang mendorong piston dan membuat roda berputar.

Lain halnya dengan mesin diesel yang meminum solar. Karena solar sulit terbakar, mesin diesel tidak menggunakan busi. Mesin ini menggunakan prinsip kompresi atau tekanan ekstrem. Udara di dalam ruang mesin ditekan sebegitu kuatnya hingga suhunya melonjak drastis. Saat udara sudah sangat panas akibat tekanan tersebut, barulah solar disemprotkan. Panas dari udara itulah yang kemudian "memaksa" solar untuk meledak dan menghasilkan tenaga.

Lantas, mengapa kita butuh dua jenis bahan bakar ini? Jawabannya terletak pada kebutuhan tenaga yang berbeda-beda.

Bensin untuk Kecepatan dan Kenyamanan Bensin menghasilkan pembakaran yang cepat dan halus. Karakter ini sangat cocok untuk kendaraan yang mengutamakan akselerasi, kecepatan tinggi, dan getaran mesin yang minim. Itulah sebabnya mayoritas mobil penumpang, sedan mewah, dan sepeda motor menggunakan mesin bensin. Kita menginginkan kendaraan yang bisa melesat lincah di jalanan kota dengan suara yang tidak bising.

Solar untuk Kekuatan dan Ketangguhan Di sisi lain, solar adalah simbol kekuatan atau torsi. Meskipun akselerasinya tidak secepat bensin, energi yang dihasilkan dari pembakaran solar sangat padat dan bertenaga besar. Mesin diesel dirancang untuk menjadi pekerja keras.

Inilah alasan mengapa kendaraan berat seperti truk kargo, bus pariwisata, alat berat pertambangan, hingga kapal laut lebih memilih mesin diesel. Mereka tidak butuh melesat secepat kilat, tetapi mereka butuh tenaga raksasa untuk menarik beban berton-ton melintasi tanjakan curam dan perjalanan jarak jauh tanpa henti. Selain itu, solar umumnya dinilai lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar untuk perjalanan jauh dibandingkan bensin.

Pada akhirnya, perdebatan mana yang lebih baik antara solar dan bensin tidak akan pernah ada habisnya karena keduanya diciptakan untuk tujuan yang berbeda. Bensin adalah atlet lari sprint yang lincah dan cepat, sedangkan solar adalah atlet angkat besi yang kuat dan tahan banting.

Memahami perbedaan ini membuat kita lebih menghargai teknologi di balik kap mesin kendaraan kita. Entah itu deru halus mesin bensin atau geraman bertenaga mesin diesel, keduanya memiliki peran vital dalam menggerakkan roda perekonomian dan kehidupan kita sehari-hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live