Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Multitasking Bikin Kamu Gagal Fokus Saat Kejar Deadline

Nisrina - Tuesday, 24 February 2026 | 01:45 PM

Background
Mengapa Multitasking Bikin Kamu Gagal Fokus Saat Kejar Deadline
Ilustrasi multitasking (Pexels/Pixabay)

Bayangkan skenario ini: Kamu lagi duduk di depan laptop, jempol kiri asyik scrolling feeds Instagram, tangan kanan ngetik laporan bulanan yang deadline-nya tinggal dua jam lagi, sementara telinga kanan ketempelan earphone yang lagi muter podcast tentang finansial. Di saat yang sama, ada tab WhatsApp Web yang terus-terusan kedap-kedip minta perhatian. Rasanya? Wah, produktif banget! Kamu merasa kayak CEO muda yang super sibuk atau karakter jenius di film-film thriller teknologi.

Tapi jujur deh, setelah satu jam berlalu, berapa banyak paragraf laporan yang benar-benar selesai? Paling cuma tiga kalimat, itu pun banyak typo-nya. Kenapa bisa begitu? Padahal kan kita merasa sedang melakukan banyak hal sekaligus. Nah, di sinilah letak jebakan betmennya. Dunia medis dan sains saraf punya kabar buruk buat kita semua: multitasking itu mitos, dan kalaupun kita memaksanya, kita sebenarnya cuma lagi menyiksa otak sendiri.

Otak Kita Bukan Prosesor Dual-Core (Apalagi Octa-Core)

Secara sains, otak manusia itu nggak didesain buat mengerjakan dua hal berat di waktu yang bersamaan. Para ahli saraf menjelaskan bahwa apa yang kita sebut sebagai "multitasking" sebenarnya adalah context switching atau perpindahan fokus secara cepat. Jadi, otak kamu nggak benar-benar memproses laporan dan dengerin podcast barengan. Yang terjadi adalah otak kamu lompat dari laporan ke podcast, balik lagi ke laporan, lalu loncat ke WhatsApp, dengan kecepatan sepersekian detik.

Masalahnya, setiap kali otak "lompat" antar tugas, ada harga yang harus dibayar. Istilah kerennya adalah switching cost. Ibarat mobil yang lagi ngebut di jalan tol terus tiba-tiba harus ngerem mendadak karena harus belok ke gang sempit, lalu masuk lagi ke tol, mesinnya pasti cepat panas dan bensinnya boros banget. Otak kita juga gitu. Setiap kali pindah fokus, otak butuh waktu untuk "loading" ulang informasi terkait tugas tersebut. Hasilnya? Kamu malah jadi lebih lambat 40 persen dibandingkan kalau kamu fokus ngerjain satu hal sampai beres.

IQ Turun Lebih Parah Daripada Efek Ganja

Ini mungkin bagian yang paling nakut-nakutin. Ada penelitian dari University of London yang menemukan bahwa orang yang multitasking saat mengerjakan tugas kognitif mengalami penurunan IQ yang cukup signifikan. Penurunannya bisa sampai 10 hingga 15 poin. Skor ini setara dengan orang yang begadang semalaman nggak tidur, atau bahkan lebih parah daripada efek samping mengonsumsi ganja.

Bayangin, kamu yang aslinya pinter dan punya potensi besar, mendadak jadi "lemot" sesaat cuma gara-gara hobi buka banyak tab di browser sambil balesin chat. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex—yang fungsinya buat ambil keputusan dan fokus—itu ibarat pintu gerbang. Kalau kamu paksa banyak orang (tugas) masuk barengan, ya macet total di depan pintu. Nggak ada yang benar-benar masuk dengan mulus.

Jebakan Dopamin yang Bikin Kita Kecanduan "Sibuk"

Terus kalau emang multitasking itu buruk dan bikin lambat, kenapa kita masih suka banget melakukannya? Jawabannya ada di zat kimia bernama dopamin. Otak kita punya sistem reward yang bakal ngelepasin dopamin setiap kali kita ngerasa dapet stimulasi baru. Bales chat? Ceklis satu tugas! Liat notif baru? Ceklis lagi!

Setiap kali kita pindah tugas, otak dapet suntikan dopamin kecil-kecilan yang bikin kita merasa "wah, gue produktif nih." Padahal itu cuma perasaan semu. Kita terjebak dalam dopamine loop yang membuat kita merasa sibuk tapi sebenarnya nggak menghasilkan apa-apa (low value work). Kita jadi kecanduan sama distraksi. Akhirnya, kemampuan kita untuk fokus mendalam atau deep work jadi tumpul. Kita jadi gampang bosen kalau harus baca buku lebih dari lima menit tanpa ngecek HP.

Stres yang Numpuk Tanpa Disadari

Pernah nggak ngerasa capek banget di sore hari padahal kerjaan nggak seberapa banyak yang kelar? Itu karena multitasking memicu produksi hormon kortisol alias hormon stres. Otak yang terus-menerus dipaksa pindah jalur bakal merasa terancam dan kelelahan kronis. Belum lagi risiko kesalahan yang meningkat. Satu koma yang salah ditaruh karena kamu lagi fokus bales grup kantor bisa berakibat fatal buat laporan keuangan, kan?

Selain itu, multitasking bikin memori jangka pendek kita jadi kacau. Informasi yang masuk saat kita nggak fokus nggak bakal tersimpan dengan baik di memori jangka panjang. Jadi jangan heran kalau besoknya kamu lupa tadi ngerjain apa aja atau lupa tadi di meeting bahas apa, padahal kamu ada di sana (tapi sambil bales e-mail).

Solusinya: Belajar "Ngerem" dan Single-Tasking

Terus gimana dong caranya biar nggak terjebak? Jawabannya sederhana tapi susah dipraktekkan: Single-tasking. Cobalah buat kerja secara blok waktu. Misalnya, 25 menit fokus total ke satu kerjaan tanpa buka HP sama sekali (pake teknik Pomodoro kalau perlu), baru setelah itu kasih diri sendiri hadiah 5 menit buat buka sosmed.

Emang sih, di zaman sekarang yang serba cepat ini, fokus itu jadi barang mewah. Tapi inget, orang-orang hebat kayak penulis buku terkenal atau programmer handal nggak dapet hasil karya mereka sambil dengerin lagu galau sambil balesin komen netizen. Mereka fokus. Jadi, yuk mulai kurang-kurangin merasa bangga karena bisa multitasking. Karena faktanya, otak kamu lagi menjerit minta tolong setiap kali kamu buka tab ke-20 di Chrome sambil dengerin meeting Zoom.

Pelan-pelan aja. Satu per satu. Biar lambat asal selamat, daripada sok cepat tapi otaknya boncos duluan.

Logo Radio
🔴 Radio Live