Ceritra
Ceritra Cinta

Mengapa Mantan Terlihat Lebih Baik Setelah Putus?

Refa - Friday, 19 December 2025 | 03:10 AM

Background
Mengapa Mantan Terlihat Lebih Baik Setelah Putus?
Ilustrasi Teringat Mantan (Pinterest/idntimes)

Pernahkah merasa heran, mengapa setelah beberapa bulan putus, sosok mantan yang dulunya sering memicu pertengkaran hebat tiba-tiba terlihat begitu "sempurna" dalam ingatan?

Segala sifat buruknya egois, kasar, atau tidak perhatian seolah menguap begitu saja. Yang tertinggal di kepala hanyalah momen-momen manis: saat ia memberi kejutan ulang tahun, tawa di dalam mobil, atau pelukan hangat saat hujan.

Fenomena ini bukanlah tanda bahwa mantan adalah jodoh yang terlewatkan. Ini adalah trik biologis dan psikologis otak manusia yang disebut Euphoric Recall. Otak sedang melakukan penyuntingan (editing) terhadap memori masa lalu demi melindungi kesehatan mental pemiliknya, meski sering kali justru menjebak seseorang dalam kerinduan yang salah.

Berikut adalah alasan ilmiah mengapa manusia sering "lupa daratan" akan keburukan mantan.

Fading Affect Bias

Otak manusia memiliki sistem pertahanan diri yang canggih bernama Fading Affect Bias (FAB).

Secara alamiah, otak diprogram untuk memudarkan emosi negatif (sedih, marah, kecewa) lebih cepat daripada emosi positif (bahagia, bangga). Tujuannya adalah untuk menjaga kewarasan. Jika manusia mengingat rasa sakit hati sama kuatnya dengan saat kejadian itu berlangsung seumur hidup, trauma itu akan melumpuhkan kemampuan untuk bertahan hidup.

Dampaknya dalam percintaan sangat terasa. Rasa sakit saat dibentak mantan perlahan memudar, namun rasa bahagia saat dipuji tetap bertahan. Akibatnya, timbangan memori menjadi tidak seimbang; masa lalu terlihat jauh lebih indah daripada realitas sebenarnya.

Rosy Retrospection

Saat seseorang merasa kesepian di masa kini, otak cenderung melakukan Rosy Retrospection, kecenderungan menilai masa lalu dengan "kacamata berwarna merah muda".

Otak menayangkan sebuah film dokumenter tentang hubungan masa lalu, namun hanya menampilkan adegan-adegan terbaiknya (highlight reel) dan memotong adegan-adegan membosankan atau menyakitkan.

Ini terjadi karena otak manusia tidak suka dengan "ketidakpastian". Daripada menghadapi masa depan yang gelap sendiri, otak mencoba meyakinkan diri bahwa masa lalu sebenarnya "tidak buruk-buruk amat". Ini adalah bentuk penipuan diri demi mendapatkan rasa aman semu.

Kecanduan Zat Kimia (Dopamin & Oksitosin)

Cinta, secara biologis, sangat mirip dengan kecanduan zat adiktif. Saat jatuh cinta, otak dibanjiri dopamin (kesenangan) dan oksitosin (kenyamanan).

Saat putus, pasokan zat kimia ini terputus mendadak. Otak mengalami gejala putus obat (withdrawal symptoms). Dalam kepanikan mencari "dosis" dopamin berikutnya, otak akan berusaha membenarkan segala cara untuk kembali ke sumbernya (mantan).

Otak akan berbisik: "Dia mungkin temperamental, tapi dia satu-satunya yang mengerti seleramu." Logika tentang sifat buruk mantan sengaja diredam oleh otak primitif (limbic system) yang hanya peduli pada kepuasan instan.

Ego dan Penolakan Kegagalan (Cognitive Dissonance)

Mengakui bahwa seseorang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dengan orang yang salah adalah hal yang menyakitkan bagi ego.

Untuk menghindari rasa sakit akibat kegagalan investasi waktu tersebut, manusia sering mengalami Disonansi Kognitif. Seseorang akan secara tidak sadar mengubah narasi di kepalanya.

Alih-alih berpikir, "Hubungan itu toksik dan buang-buang waktu," pikiran akan mengubahnya menjadi, "Hubungan itu penuh tantangan, tapi kami saling mencintai." Dengan melupakan keburukan mantan, seseorang merasa waktu yang telah dihabiskan tidak sia-sia.

Efek Zeigarnik: Penasaran yang Belum Tuntas

Psikolog Bluma Zeigarnik menemukan bahwa otak manusia cenderung mengingat hal-hal yang belum selesai (unfinished business) lebih kuat daripada hal yang sudah tuntas.

Jika hubungan berakhir tanpa penutupan (closure) yang jelas, misalnya di-ghosting atau putus secara menggantung, maka otak akan terus terobsesi memikirkan orang tersebut. Keburukan mantan menjadi tidak relevan karena otak sibuk mencari jawaban atas pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana jika". Rasa penasaran ini sering disalahartikan sebagai rasa rindu atau cinta yang masih dalam.

Cara Melawan Tipuan Otak Ini

Untuk berhenti meromantisasi mantan yang tidak layak, seseorang perlu melawan Euphoric Recall dengan Negative Recall.

Membaca daftar hitam ini secara rutin akan memaksa logika untuk kembali bekerja dan mengingatkan otak bahwa perpisahan itu terjadi karena alasan yang valid, bukan karena kesalahan.

Logo Radio
🔴 Radio Live