Ceritra
Ceritra Cinta

Mengapa Kita Selalu Jatuh Cinta pada Orang yang Salah? Membedah Psikologi Attachment Style

Refa - Wednesday, 24 December 2025 | 09:00 AM

Background
Mengapa Kita Selalu Jatuh Cinta pada Orang yang Salah? Membedah Psikologi Attachment Style
Ilustrasi Pasangan Jatuh Cinta (Pinterest/)

Pernahkah merasa bingung mengapa kisah asmara selalu berakhir dengan skenario yang mirip, seolah-olah hanya pemerannya saja yang berganti? Seseorang mungkin berjanji tidak akan lagi berkencan dengan sosok yang dingin dan cuek, namun entah bagaimana, hatinya kembali tertambat pada profil manusia yang sama. Atau sebaliknya, seseorang merasa pasangannya terlalu menuntut perhatian hingga membuatnya sesak napas dan ingin kabur.

Dalam psikologi, fenomena ini bukanlah kebetulan atau kutukan nasib buruk, melainkan manifestasi dari Attachment Style atau Gaya Kelekatan. Ini adalah "cetak biru" emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak, menentukan bagaimana seseorang memberi dan menerima cinta saat dewasa. Memahami teori ini adalah kunci untuk memutus rantai hubungan yang toxic.

Akar Masalah pada Pengasuhan Masa Kecil

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh psikolog John Bowlby dan Mary Ainsworth. Premisnya sederhana, yaitu cara orang tua atau pengasuh merespons kebutuhan bayi akan membentuk pola pikir si anak terhadap hubungan di masa depan. Jika tangisan bayi selalu direspons dengan hangat dan konsisten, anak tumbuh dengan rasa aman. Namun, jika respons orang tua tidak konsisten (kadang ada, kadang abai) atau justru dingin dan menolak, anak akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang terbawa hingga dewasa. Mekanisme inilah yang kemudian menjadi gaya kelekatan seseorang dalam hubungan romantis.

Si Cemas (Anxious)

Tipe pertama adalah Anxious Attachment atau Si Cemas. Individu dengan gaya ini memiliki "radar" yang sangat sensitif terhadap perubahan suasana hati pasangannya. Mereka sering merasa tidak aman dan membutuhkan validasi konstan. Jika pasangan terlambat membalas pesan teks selama satu jam saja, otak Si Cemas akan langsung memproduksi skenario terburuk: "Dia marah," "Dia selingkuh," atau "Dia akan meninggalkanku."

Dalam hubungan, mereka cenderung menjadi pihak yang mengejar. Mereka sangat penyayang dan rela berkorban, namun sering kali rasa takut akan pengabaian membuat mereka terlihat posesif atau "lengket" (clingy). Bagi mereka, keintiman adalah segalanya, dan sedikit saja jarak emosional dianggap sebagai ancaman bahaya.

Si Penghindar (Avoidant)

Di kutub yang berlawanan, terdapat Avoidant Attachment atau Si Penghindar. Tipe ini menyamakan keintiman dengan hilangnya kebebasan. Mereka sering kali tumbuh dalam lingkungan di mana ekspresi emosi dianggap sebagai kelemahan, sehingga mereka belajar untuk memadamkan perasaan mereka sendiri dan menjadi sangat mandiri.

Saat hubungan mulai menjadi serius dan intim, alarm bahaya di kepala Si Penghindar akan berbunyi. Mereka akan secara tidak sadar melakukan sabotase, seperti tiba-tiba menjauh (pulling away), fokus berlebihan pada kekurangan kecil pasangan, atau menutup diri saat terjadi konflik. Bagi mereka, tidak bergantung pada siapa pun adalah cara terbaik untuk tidak terluka. Kalimat favorit mereka biasanya adalah "Saya butuh ruang sendiri."

Si Aman (Secure)

Di tengah kekacauan dua tipe di atas, ada tipe Secure Attachment atau Si Aman. Ini adalah populasi yang memiliki pandangan positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Mereka nyaman dengan keintiman, namun tidak panik saat berjauhan. Mereka tidak bermain kode-kodean; jika ada masalah, mereka mengkomunikasikannya dengan jelas tanpa drama. Sayangnya, tipe ini sering kali dianggap "membosankan" oleh mereka yang terbiasa dengan drama percintaan, karena tidak ada roller coaster emosi dalam hubungan bersama Si Aman.

Jebakan Anxious-Avoidant

Tragedi terbesar dalam percintaan modern sering terjadi ketika Si Cemas bertemu dengan Si Penghindar. Ironisnya, kedua tipe ini sering kali saling tertarik bak magnet. Si Cemas tertarik pada kemandirian Si Penghindar yang terlihat "misterius" dan kuat. Sebaliknya, Si Penghindar awalnya menikmati perhatian intens dari Si Cemas.

Namun, ketertarikan ini segera berubah menjadi siklus yang menyiksa. Semakin Si Cemas mengejar dan meminta kepastian, semakin Si Penghindar merasa tercekik dan berlari menjauh. Semakin Si Penghindar menjauh, semakin panik Si Cemas dan semakin keras ia mengejar. Siklus "kejar-lari" ini menciptakan gejolak emosi yang sering disalahartikan sebagai chemistry atau gairah yang berapi-api. Padahal, jantung yang berdebar kencang dan rasa gelisah itu bukanlah tanda cinta sejati, melainkan tanda sistem saraf yang sedang stres menghadapi ketidakpastian.

Menuju Earned Secure

Kabar baiknya, gaya kelekatan bukanlah vonis mati. Seseorang bisa berubah menjadi Secure melalui proses yang disebut Earned Security. Langkah pertamanya adalah kesadaran diri. Menyadari bahwa "kupu-kupu di perut" saat bertemu orang yang tarik-ulur itu bukanlah cinta, melainkan respons trauma yang aktif.

Belajar memilih pasangan yang Secure yang mungkin terasa "datar" di awal karena tidak ada drama adalah terapi terbaik. Hubungan yang sehat seharusnya terasa tenang, stabil, dan membosankan dalam artian yang baik. Di sanalah sistem saraf bisa beristirahat, tanpa perlu terus-menerus waspada apakah akan ditinggalkan atau dikekang.

Logo Radio
🔴 Radio Live