Mengapa Harga Emas Selalu Berubah? Ini Faktor Ekonomi Pemicunya
Refa - Sunday, 11 January 2026 | 06:30 PM


Bagi masyarakat yang rutin memantau grafik harga logam mulia, pergerakan naik dan turunnya harga emas adalah pemandangan sehari-hari. Pada periode tertentu, harga emas bisa melonjak tinggi (bullish), namun di waktu lain bisa mengalami penurunan tajam (bearish).
Perubahan harga ini tidak terjadi secara acak. Emas adalah komoditas global yang harganya ditentukan oleh mekanisme pasar dan kondisi ekonomi makro dunia.
Berikut adalah empat faktor utama yang menyebabkan harga emas selalu mengalami fluktuasi.
1. Nilai Tukar Dolar Amerika Serikat (AS)
Harga emas dunia dipatok menggunakan mata uang Dolar AS (USD/Troy Ounce). Terdapat hubungan terbalik (negatif) yang kuat antara kekuatan Dolar AS dan harga emas.
Ketika nilai tukar Dolar AS menguat terhadap mata uang negara lain, harga emas cenderung turun. Hal ini terjadi karena emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang non-Dolar (seperti Rupiah atau Euro), sehingga permintaan menurun.
Sebaliknya, jika nilai Dolar AS melemah, harga emas biasanya akan naik karena menjadi lebih murah bagi investor internasional, sehingga permintaan meningkat.
2. Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral (The Fed)
Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve atau The Fed) memiliki pengaruh besar terhadap harga emas. Emas adalah aset yang tidak memberikan bunga atau dividen rutin kepada pemiliknya.
Jika Bank Sentral menaikkan suku bunga acuan, investor cenderung memindahkan dananya ke instrumen investasi yang memberikan imbal hasil bunga pasti, seperti obligasi pemerintah atau deposito Dolar. Akibatnya, terjadi aksi jual pada emas, dan harganya turun.
Namun, jika Bank Sentral menurunkan suku bunga, daya tarik obligasi berkurang. Investor akan kembali membeli emas, sehingga harganya naik.
3. Hukum Permintaan dan Penawaran
Seperti barang dagangan lainnya, harga emas tunduk pada hukum dasar ekonomi: permintaan dan penawaran.
Pada sisi permintaan, emas datang dari industri perhiasan (terutama dari India dan Tiongkok), industri elektronik, bank sentral negara-negara yang ingin menambah cadangan emas, dan investor ritel. Jika permintaan dari sektor-sektor ini meningkat sementara stok terbatas, harga akan naik.
Di sisi penawaran, pasokan emas berasal dari hasil tambang baru dan daur ulang emas bekas. Jika produksi tambang dunia menurun atau terhambat, pasokan berkurang, dan harga berpotensi naik.
4. Ketidakstabilan Geopolitik dan Krisis
Emas berfungsi sebagai aset pelindung nilai atau aset aman saat terjadi krisis. Nilai emas tetap terjaga dan diakui secara global meskipun sistem keuangan suatu negara runtuh.
Oleh karena itu, ketika terjadi perang, ketegangan politik antarnegara, atau pandemi global, pelaku pasar merasa khawatir memegang aset berisiko seperti saham atau uang tunai. Mereka akan beralih membeli emas dalam jumlah besar untuk mengamankan kekayaan. Aksi beli massal ini menyebabkan harga emas melonjak drastis saat situasi dunia sedang tidak aman.
Next News

IHSG 15 Januari 2026 Hijau di Awal Perdagangan, Investor Mulai Berani Masuk
in 2 hours

Rupiah 15 Januari 2026 Menguat Tipis, Pasar Dunia Masih Risk-Off
in 2 hours

Harga Emas Antam 15 Januari 2026 Meroket! Rupiah dan Gejolak AS Jadi Biang Kerok
in 2 hours

Gejolak Harga Pangan: Membaca Pola Naik Turunnya Harga Cabai dan Telur di Pasaran
18 hours ago

IHSG Comeback ke 9.000! Transaksi Triliunan Rupiah Sejak Pembukaan
a day ago

Rupiah 14 Januari 2026 Hijau Sesaat, Tekanan Global Tak Bisa Diabaikan
21 hours ago

Harga Emas Antam Hari Ini Makin Mahal, Cek Angka Terbarunya!
a day ago

Bukan Pelit, Tapi Realistis! Mengapa Menolak Ajakan Nongkrong Justru Bikin Kamu Cepat Kaya
a day ago

Awas Jebakan QR Code Palsu! Ini Cara Cek Biar Saldo dan Data Nggak Lenyap
20 hours ago

Modal 10 Ribu Bisa Jadi Investor? Ini Bukan Hoaks
21 hours ago






