Menelusuri Jejak Cancel Culture di Tengah Amukan Netizen
Nisrina - Thursday, 02 April 2026 | 06:15 PM


Pernahkah kamu bangun pagi, menyeduh kopi, lalu iseng membuka media sosial dan mendapati satu nama figur publik tiba-tiba sedang "digoreng" habis-habisan? Tagar boikot di mana-mana, kolom komentar penuh caci maki, dan dalam hitungan jam, brand-brand besar yang tadinya bekerja sama dengannya langsung memutus kontrak sepihak. Selamat datang di era cancel culture, sebuah fenomena yang bikin banyak orang—terutama mereka yang punya panggung—merasa seperti sedang berjalan di atas kulit telur yang tipis banget.
Secara sederhana, cancel culture adalah bentuk boikot massal di dunia digital. Kalau dulu kita cuma bisa ngomel di depan TV kalau ada artis yang bermasalah, sekarang kita punya senjata pamungkas bernama jempol. Tapi, pernah kepikiran nggak sih, kenapa fenomena ini bisa muncul dan sebegitu masifnya? Apakah ini murni gerakan keadilan, atau cuma ajang pelampiasan rasa haus akan drama?
Suara Si Kecil yang Akhirnya Punya Toa
Dulu, kalau ada penguasa atau orang kaya yang bertindak semena-mena, orang biasa kayak kita cuma bisa elus dada. Mau lapor? Prosesnya lama. Mau teriak? Suaranya hilang ditelan angin. Cancel culture muncul karena adanya pergeseran kekuatan. Media sosial memberikan "toa" alias pengeras suara kepada siapa pun, tanpa memandang status sosial.
Munculnya gerakan ini sering kali didasari oleh rasa haus akan keadilan yang nggak didapatkan di dunia nyata. Ada semacam rasa puas kolektif ketika netizen berhasil "menghukum" seseorang yang dianggap rasis, seksis, atau melakukan pelecehan. Di sini, cancel culture berperan sebagai pengadilan rakyat. Saat hukum formal terasa tumpul atau tebang pilih, netizen merasa mereka punya tanggung jawab moral untuk memberikan sanksi sosial. Istilahnya, kalau hukum nggak bisa menyentuhmu, maka sanksi sosial yang akan mengejarmu sampai ke lubang semut.
Haus Akan Standar Moral yang Tinggi (Atau Sekadar Validasi?)
Kita hidup di era di mana citra adalah segalanya. Kita menuntut figur publik untuk tampil sempurna tanpa cela. Begitu mereka melakukan kesalahan—baik itu ucapan sepuluh tahun lalu yang baru viral sekarang atau tindakan ceroboh kemarin sore—kita merasa dikhianati. Ini ada hubungannya dengan hubungan parasosial, di mana kita merasa kenal dekat dengan sang idola, padahal aslinya mereka nggak tahu kita ada.
Selain itu, ikut serta dalam gerakan "cancel" juga sering kali menjadi cara bagi seseorang untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah orang baik. Dengan menghujat pelaku kesalahan, secara tidak langsung kita ingin bilang ke dunia, "Eh, lihat nih, gue nggak kayak dia. Gue punya moral yang lebih bener." Sayangnya, batas antara menegakkan keadilan dan sekadar merasa lebih suci (moral signaling) sering kali jadi abu-abu banget.
Kecepatan Informasi dan Budaya Klik
Kenapa cancel culture kerasa kencang banget sekarang? Jawabannya jelas: algoritma. Media sosial didesain untuk memicu emosi. Berita tentang seseorang yang berbuat baik biasanya kalah cepat viral dibandingkan berita tentang seseorang yang "kepleset". Kita lebih suka mengonsumsi drama karena itu memberikan dopamin instan.
Sifat informasi yang serba cepat ini bikin kita sering kali malas melakukan cek dan ricek. Begitu ada utas atau thread yang menjatuhkan seseorang, kita langsung ikut ngegas tanpa tahu konteks lengkapnya. Akibatnya, cancel culture sering berubah jadi mentalitas massa atau mob mentality. Kalau semua orang melempar batu, rasanya aman-aman aja kalau kita ikut lempar satu, kan? Padahal, satu batu dari jutaan orang bisa menghancurkan hidup seseorang selamanya.
Keadilan atau Sekadar Hukuman Seumur Hidup?
Tentu saja, ada sisi positifnya. Cancel culture bikin orang-orang berkuasa jadi lebih hati-hati. Mereka tahu bahwa ada mata yang selalu mengawasi. Gerakan seperti #MeToo adalah contoh nyata bagaimana "membatalkan" orang-orang bermasalah bisa membawa perubahan sistemik yang positif. Tapi, masalah muncul ketika nggak ada ruang untuk permintaan maaf atau pertumbuhan.
Di dunia digital, kesalahan itu abadi. Kamu bisa saja sudah berubah jadi orang yang lebih baik, tapi jejak digitalmu akan selalu ditarik kembali ke permukaan untuk menghakimimu. Ini yang bikin ngeri. Kita jadi hidup di masyarakat yang nggak memaafkan. Seolah-olah kalau kamu sekali salah, kariermu harus tamat, hidupmu harus hancur, dan kamu nggak boleh punya masa depan lagi. Padahal, ya namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa, kan?
Menemukan Titik Tengah
Jadi, apakah cancel culture itu buruk? Jawabannya nggak hitam putih. Fenomena ini muncul sebagai respons alami manusia terhadap ketidakadilan di tengah kemajuan teknologi. Namun, yang perlu kita asah adalah kebijakan kita dalam menggunakan jempol. Menuntut pertanggungjawaban itu perlu, tapi menghancurkan hidup seseorang demi kesenangan sesaat itu yang bahaya.
Mungkin ke depannya kita perlu lebih sering bertanya: "Apakah gue menyerang idenya, atau gue menyerang orangnya?" atau "Apakah orang ini memang jahat secara sistemik, atau dia cuma manusia biasa yang lagi sial dan salah langkah?". Karena pada akhirnya, jangan sampai niat kita buat memperbaiki dunia malah bikin kita jadi monster baru yang nggak kalah menyeramkan. Yuk, lebih bijak lagi berselancar di internet, biar nggak cuma jago nge-cancel, tapi juga jago memanusiakan manusia.
Next News

Bye-Bye Mata Berat! Tips Tetap Segar Hadapi Jam Kritis di Kantor
4 minutes ago

Apakah Deodoran Alami Benar-benar Ampuh Menahan Bau Badan di Cuaca Terik?
in 4 hours

Bye Noda Kuning! Tips Pilih Deodoran Untuk Jaga Kemeja Putih Tetap Clean Aesthetic
in 5 hours

Menghindari Bau Ketiak di Baju Kerja, Tips untuk Pekerja Urban
in 2 hours

Kenapa Udara Tak Terlihat Mata? Yuk Simak Penjelasan Uniknya
in 7 hours

Pernah Lupa Nama Teman Sendiri? Ini Solusi Paling Ampuh
in 6 hours

Mengenal Kebiasaan Menunda Balas Chat dan Cara Mengakhirinya
in 4 hours

Alasan Gigi Sensitif Ngilu Setelah Mengunyah Permen Karet
4 hours ago

Mengenal Burnout: Kenapa Hal Kecil Jadi Pemicu Marah?
in 3 hours

Apa Itu Aerofagia? Kenali Pemicu Perut Kembung Berlebih
34 minutes ago






