Ceritra
Ceritra Update

Mendaki Bermodal Nekat? Kenali Risiko Dehidrasi dan Hipotermia di Alam Bebas

Shannon - Friday, 10 July 2026 | 03:00 PM

Background
Mendaki Bermodal Nekat? Kenali Risiko Dehidrasi dan Hipotermia di Alam Bebas
Ilustrasi Pendaki (EIGER/Indro)

Mendaki Bukan Sekadar Healing: Jurus Jitu Hadapi Hipotermia dan Dehidrasi Biar Nggak Jadi Beban Tim

Belakangan ini, naik gunung mendadak jadi tren gaya hidup yang nggak ada matinya. Kalau dulu mendaki identik sama aktivis pecinta alam berambut gondrong dan carrier segede gaban, sekarang siapa pun bisa berangkat. Cukup modal sepatu trekking hits, jaket bermerk, dan keinginan kuat buat bikin konten estetik di puncak, berangkatlah kita. Istilah kerennya sih, "healing". Tapi jujurly, banyak dari kita yang berangkat cuma bermodal nekat tanpa tahu kalau alam bebas itu nggak seindah feed Instagram influencer. Di balik kabut yang romantis dan sunrise yang bikin baper, ada bahaya nyata yang siap mengintai kalau kita nggak siap, yaitu hipotermia dan dehidrasi.

Masalahnya, banyak pendaki pemula—atau bahkan yang ngerasa sudah pro—sering menyepelekan hal-hal kecil. Padahal, di gunung, kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Kamu nggak mau kan, niatnya mau self-healing malah berakhir jadi beban tim atau malah masuk berita karena dievakuasi tim SAR? Nah, makanya penting banget buat paham soal pertolongan pertama, terutama soal dua "musuh bebuyutan" pendaki ini.

Hipotermia: Si Pencuri Panas yang Diam-Diam Mematikan

Hipotermia itu bukan sekadar "kedinginan biasa". Ini adalah kondisi di mana suhu inti tubuh kita merosot drastis di bawah 35 derajat Celcius. Bayangkan tubuhmu itu kayak baterai HP; kalau suhunya terlalu drop, sistemnya bakal shutdown satu per satu. Celakanya, serangan hipotermia ini seringkali nggak disadari sama korbannya sendiri karena menyerang kesadaran.

Ciri-cirinya mulai dari yang sepele: menggigil hebat (ini cara tubuh bikin panas), bibir membiru, sampai mulai ngomong nggak jelas atau "ngalor-ngidul". Kalau sudah parah, ada fenomena aneh bernama paradoxical undressing, di mana korban malah merasa kepanasan dan mencoba melepas bajunya, padahal dia lagi membeku. Serem, kan?

Kalau temanmu mulai menunjukkan gejala ini, jangan panik dan jangan malah ditinggal tidur. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengganti baju basahnya. "Tapi kan dingin banget kalau dibuka?" Ya tetap harus diganti! Baju basah itu konduktor dingin yang jahat banget. Ganti dengan baju kering, lalu bungkus pakai emergency blanket atau thermal bivy.

Kasih minuman manis yang hangat, tapi ingat, jangan sekali-kali kasih alkohol dengan alasan "biar anget". Itu mitos menyesatkan. Alkohol malah bikin pembuluh darah melebar dan panas tubuh makin cepat hilang. Kalau kondisinya darurat banget, gunakan metode skin-to-skin di dalam sleeping bag buat mentransfer panas tubuh orang yang sehat ke si korban. Memang kedengarannya agak gimana gitu, tapi ini urusan nyawa, Bro!

Dehidrasi: Bukan Cuma Haus, Tapi Urusan Nyawa

Banyak orang mikir kalau di gunung yang dingin, kita nggak bakal dehidrasi karena nggak ngerasa gerah. Salah besar! Justru karena udaranya dingin dan kering, penguapan dari tubuh kita lewat napas dan keringat yang cepat kering itu tinggi banget. Belum lagi kalau kita malas minum karena takut bolak-balik kencing. Ini nih awal dari bencana.

Dehidrasi di alam liar itu efeknya bisa merembet ke mana-mana. Mulai dari pusing, kram otot yang bikin kaki nggak bisa jalan, sampai halusinasi. Kalau urine kamu sudah warnanya kuning pekat atau bahkan cokelat kayak teh botol, itu tandanya tubuhmu sudah teriak minta tolong. Jangan nunggu haus baru minum. Minumlah sedikit demi sedikit tapi sering, istilahnya sipping.

Kalau sudah ada teman yang kena dehidrasi berat, jangan cuma dikasih air putih. Tubuh dia juga kehilangan elektrolit atau garam-garaman. Kalau punya oralit, itu bagus banget. Kalau nggak ada, air yang dicampur sedikit gula dan garam sudah cukup membantu buat balikin keseimbangan cairan tubuh. Istirahatkan korban di tempat teduh, jangan dipaksa jalan terus karena ego pengen cepat sampai puncak.

Persiapan adalah Kunci: Jangan Jadi Pendaki Karbitan

Sebenarnya, kunci utama biar nggak kena dua masalah di atas adalah persiapan yang matang alias nggak "ngide" tanpa dasar. Pakaian itu krusial. Hindari pakai bahan jeans atau katun pas mendaki. Katun itu sifatnya menyerap air dan lama keringnya. Sekalinya basah kena keringat atau hujan, dia bakal jadi kompres dingin yang nempel di kulitmu sepanjang jalan. Pakailah bahan quick-dry atau polyester yang lebih ramah buat kegiatan outdoor.

Selain itu, jangan pelit buat bawa logistik. Bawa camilan yang tinggi kalori kayak cokelat, kurma, atau madu. Tubuh butuh bahan bakar buat memproduksi panas. Kalau perut kosong, ya wasalam, tubuhmu nggak punya energi buat melawan dinginnya cuaca gunung. Manajemen air juga harus diperhatikan; pastikan cadangan air cukup sampai sumber air berikutnya.

Satu hal lagi yang sering dilupakan: jangan pernah malu buat jujur sama kondisi tubuh sendiri. Kalau merasa sudah nggak kuat, ya bilang. Jangan karena gengsi sama teman-teman yang lain, kamu malah memaksakan diri. Gunung nggak bakal lari ke mana, tapi keselamatanmu itu prioritas utama. Ingat, puncak itu cuma bonus, tujuan utamanya adalah pulang ke rumah dengan selamat dan membawa cerita seru, bukan cerita duka.

Jadi, sebelum packing dan berangkat, pastikan kamu sudah tahu dasar-dasar pertolongan pertama ini. Bawa first aid kit yang lengkap, bukan cuma plester buat luka lecet. Bekali diri dengan pengetahuan, karena di alam liar, pengetahuan adalah senjata paling ampuh buat bertahan hidup. Selamat mendaki, jaga kebersihan, dan tetaplah rendah hati di hadapan semesta!

Logo Radio
🔴 Radio Live