Ceritra
Ceritra Warga

Membongkar Alasan Psikologis Remaja Haus Validasi di Sosmed

Refa - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM

Background
Membongkar Alasan Psikologis Remaja Haus Validasi di Sosmed
Ilustrasi perempuan merasa sedih dengan likes di media sosial (pexels.com/Andre Moura )

Dibalik Like dan Love: Kenapa Remaja Sekarang Haus Validasi Digital?

Bayangin skenario ini: Kamu baru aja posting foto di Instagram. Udah diedit pakai filter paling estetik, caption-nya udah dipikirin matang-matang biar kelihatan effortless tapi tetep keren, terus kamu klik 'Post'. Lima menit pertama, kamu bolak-balik ngecek layar HP. Sepuluh menit kemudian, belum ada notifikasi masuk. Tiba-tiba ada perasaan aneh di perut semacam rasa cemas, ngerasa ada yang salah, atau jangan-jangan fotonya emang jelek?

Kedengarannya akrab? Kalau iya, selamat, kamu nggak sendirian. Fenomena ini bukan cuma soal "lebay" atau "kurang kerjaan". Bagi remaja zaman sekarang, dunia digital bukan lagi sekadar pelengkap, tapi udah jadi rumah kedua. Dan di rumah itu, mata uang yang paling berharga bukan rupiah, melainkan validasi yang wujudnya bisa berupa like, komentar, view, sampai jumlah followers.

Kenapa Sih Angka Itu Berasa Penting Banget?

Secara psikologis, otak kita itu sebenernya masih punya sistem yang mirip sama manusia purba. Bedanya, kalau dulu manusia purba butuh validasi dari kelompoknya supaya nggak ditinggal sendirian di hutan dan dimakan harimau, sekarang remaja butuh validasi digital supaya nggak ngerasa "dibuang" dari pergaulan sosial. Istilah kerennya, social belonging.

Pas ada notifikasi masuk, otak kita ngelepasin dopamin, yaitu zat kimia yang bikin perasaan senang dan puas. Rasanya mirip kayak dapet nilai bagus atau nemu uang di saku celana lama. Masalahnya, dopamin dari media sosial itu sifatnya nagih. Begitu dapet 100 likes, besoknya kita pengen 200. Begitu dapet pujian "cakep banget!", kita bakal terus-terusan haus buat denger kata-kata itu lagi. Ini yang bikin banyak remaja terjebak dalam lingkaran setan yang melelahkan.

Perangkap High-Light Reel dan Rasa Insecure

Satu hal yang sering kita lupa adalah media sosial itu panggung sandiwara. Jarang banget ada orang yang posting foto pas lagi baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan muka bantal kecuali kalau itu emang konsepnya aesthetic mess. Kebanyakan dari kita cuma nampilin momen-momen terbaik atau yang biasa disebut highlight reel.

Nah, dampak psikologis yang paling berasa buat remaja adalah kebiasaan membandingkan behind the scenes hidup kita yang berantakan dengan highlight reel orang lain yang sempurna. Kita ngelihat temen lagi nongkrong di kafe fancy, sementara kita lagi rebahan di kamar sambil nugas. Akhirnya muncul perasaan insecure. "Kenapa hidup dia lebih asik ya?", "Kenapa kulit dia mulus banget?", "Kenapa aku nggak bisa sesukses dia?". Padahal, bisa jadi orang yang di foto itu juga lagi ngerasa kesepian atau malah ngutang demi bisa nongkrong di sana.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan Kereta

Dampak lain yang nggak kalah nyata adalah FOMO alias Fear of Missing Out. Pernah nggak kamu ngerasa gelisah cuma gara-gara nggak tahu tren apa yang lagi rame di TikTok hari ini? Atau ngerasa sedih pas ngelihat Insta Story temen-temen lagi kumpul tapi kamu nggak ada di sana? Itu adalah FOMO yang lagi kerja.

Buat remaja, eksistensi itu penting banget. Ada anggapan kalau kamu nggak posting, berarti kamu nggak ada. Kalau kamu nggak ikut tren, berarti kamu kudet. Tekanan buat selalu update ini bikin kesehatan mental jadi taruhannya. Kita jadi nggak bisa bener-bener menikmati momen sekarang karena sibuk mikirin gimana cara mendokumentasikannya biar kelihatan keren di mata orang lain.

Sisi Gelap Validasi: Saat Angka Menentukan Harga Diri

Yang paling bahaya adalah pas harga diri (self-esteem) seseorang mulai digantungin sama angka-angka di layar. Banyak remaja yang ngerasa dirinya berharga cuma kalau postingannya dapet interaksi tinggi. Begitu postingan sepi, mereka ngerasa gagal, nggak menarik, atau bahkan depresi. Padahal, algoritma media sosial itu kadang random banget, nggak mencerminkan siapa kamu sebenernya.

Belum lagi soal fenomena cyberbullying atau komentar jahat. Karena di dunia digital orang bisa bersembunyi di balik akun anonim, mereka jadi lebih berani ngetik hal-hal kasar. Bagi mental remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri, satu komentar negatif itu efeknya bisa lebih nancep dibanding seribu pujian.

Gimana Caranya Biar Nggak "Gila" Karena Sosmed?

Kita nggak mungkin nyuruh semua remaja buat hapus akun sosmed dan balik ke zaman batu. Itu nggak realistis. Tapi, ada beberapa cara biar kita tetep waras di tengah gempuran validasi digital ini:

  • Sadar kalau itu cuma kurasi: Inget terus kalau apa yang kamu lihat itu cuma potongan kecil yang sudah difilter sedemikian rupa.
  • Batasi waktu: Coba deh sesekali digital detox. Mulai dari satu jam sebelum tidur nggak pegang HP, atau seharian pas weekend fokus ke hobi di dunia nyata.
  • Cari validasi internal: Belajar buat bilang "Aku keren" ke diri sendiri tanpa nunggu jempol dari orang lain. Validasi paling jujur itu datangnya dari pencapaian diri sendiri, bukan dari jumlah followers.
  • Unfollow yang bikin toxic: Kalau ada akun yang cuma bikin kamu ngerasa rendah diri atau iri, jangan ragu buat klik unfollow atau mute. Peace of mind is priority.

Intinya, media sosial itu cuma alat. Kayak pisau, bisa dipake buat masak yang enak, bisa juga buat ngelukain diri sendiri. Validasi digital emang enak rasanya, tapi jangan sampai itu jadi satu-satunya oksigen buat kamu bernapas. Kamu itu lebih dari sekadar feed yang rapi atau angka di profil. Duniamu jauh lebih luas dari layar 6 inci di tanganmu.

Jadi, habis baca artikel ini, coba deh taruh HP-mu sebentar. Lihat ke jendela, ambil napas dalam-dalam, dan sadari kalau kamu berharga tanpa butuh satu pun like tambahan.

Logo Radio
🔴 Radio Live