Ceritra
Ceritra Warga

Lelah Lihat Kesuksesan Orang Lain? Yuk Fokus ke Proses Diri Sendiri

Nisrina - Monday, 16 March 2026 | 09:45 AM

Background
Lelah Lihat Kesuksesan Orang Lain? Yuk Fokus ke Proses Diri Sendiri
Ilustrasi (Freepik/jcomp)

Pernah nggak sih lo lagi rebahan tengah malem, niatnya cuma mau scroll TikTok atau Instagram bentar sebelum tidur, eh malah berakhir ngerasa jadi manusia paling gagal sedunia? Lo baru aja liat temen SMA lo posting foto pake toga di luar negeri, atau temen kantor lama yang tiba-tiba pamer kunci mobil baru lengkap dengan caption bersyukur yang bikin hati lo mencelos. Rasanya kayak semua orang lagi lari maraton dengan kecepatan penuh, sementara lo masih sibuk nyari tali sepatu yang ilang sebelah.

Selamat datang di era di mana "minder" adalah hobi kolektif kita semua. Membandingkan hidup dengan orang lain itu ibarat lo lagi ngebakar diri sendiri cuma buat ngelihat seberapa terang api orang lain. Masalahnya, di zaman serba digital ini, godaan buat membanding-bandingkan itu ada di mana-mana, nempel di jempol kita masing-masing. Tapi tenang, lo nggak sendirian, dan ada cara-cara biar kita nggak gampang kena mental gara-gara liat pencapaian orang lain.

Sosial Media Itu Cuma Trailer, Bukan Film Utuhnya

Hal pertama yang perlu kita tanem di otak dalam-dalam: apa yang lo liat di layar HP itu cuma "highlight reel". Nggak ada orang yang posting momen pas mereka lagi nangis bombay karena saldo ATM tinggal dua puluh ribu, atau pas lagi berantem hebat sama pasangan gara-gara lupa jemput. Semua orang pengen kelihatan keren, sukses, dan bahagia. Itu sifat dasar manusia.

Bayangin kayak gini, lo lagi nonton trailer film aksi yang isinya ledakan dan adegan keren semua. Lo nggak bakal tau kalau di balik layar, aktornya mungkin lagi kena diare atau sutradaranya lagi pusing mikirin utang produksi. Nah, hidup orang lain di sosmed itu ya trailernya. Kalau lo bandingin trailer mereka sama "behind the scene" hidup lo yang penuh drama dan cucian numpuk, ya jelas nggak adil dong?

Fokus ke Jalur Sendiri, Bukan Jalur Tetangga

Gue punya temen yang hobi banget ngecek profil LinkedIn mantan gebetannya cuma buat ngelihat si mantan udah promosi jabatan atau belum. Hasilnya? Dia malah jadi stres sendiri dan ngerasa kariernya stagnan. Padahal, definisi sukses tiap orang itu beda-beda. Ada yang merasa sukses kalau udah punya jabatan manajer di usia 25, tapi ada juga yang merasa sukses kalau bisa pulang kantor tepat waktu dan bisa main sama kucingnya.

Dunia ini bukan perlombaan lari seratus meter di mana semua orang start-nya bareng dan finish-nya di tempat yang sama. Hidup itu lebih kayak petualangan open-world. Lo mau fokus nyelesein misi utama boleh, mau keliling-keliling ngeliatin pemandangan dulu juga nggak masalah. Begitu lo mulai fokus ke jalur lo sendiri, lo bakal sadar kalau rumput tetangga itu kelihatan lebih hijau mungkin karena mereka pake filter atau pake rumput sintetis. Intinya, fokus ke progres lo sendiri, sekecil apapun itu.

Kurasi Feed Sosmed Kayak Lo Kurasi Isi Dompet

Kadang kita perlu jadi orang yang sedikit "jahat" demi kesehatan mental. Kalau ada akun temen atau influencer yang isinya cuma pamer kemewahan dan itu bikin lo ngerasa insecure setiap kali lewat di timeline, ya udah, klik tombol mute atau unfollow aja. Nggak usah merasa nggak enak hati. Lo nggak berutang perhatian ke siapapun di dunia maya ini.

Cobalah buat follow akun-akun yang bikin lo merasa terinspirasi, bukan malah terintimidasi. Follow akun hobi, akun meme yang receh, atau akun-akun yang memanusiakan kegagalan. Dengan begitu, lo bakal sadar kalau dunia ini isinya nggak cuma orang-orang yang "glow up" secara instan, tapi juga banyak orang yang lagi berjuang keras kayak lo.

Rayain Kemenangan Kecil (Walaupun Cuma Bisa Bangun Pagi)

Kita sering banget terlalu keras sama diri sendiri. Kita nunggu dapet bonus gede atau naik jabatan baru mau ngerasa bangga. Padahal, bisa konsisten bangun pagi, berhasil masak mie instan yang rasanya pas, atau berani bilang "nggak" ke permintaan temen yang ngerepotin itu adalah kemenangan kecil yang patut dirayain.

Coba deh sesekali bikin daftar apa aja yang udah lo lakuin hari ini. Bukan daftar "pencapaian hebat" ya, tapi daftar "keberlangsungan hidup". "Hari ini gue mandi tepat waktu," "Hari ini gue nggak emosi pas kena macet," "Hari ini gue berhasil hemat nggak jajan kopi susu." Hal-hal receh kayak gini kalau dikumpulin bakal bikin lo sadar kalau lo itu keren dengan cara lo sendiri. Lo nggak butuh validasi dari jumlah like orang lain buat ngerasa berharga.

Belajar Bilang "Ya Udahlah"

Filosofi "Ya udahlah" atau "It is what it is" itu ampuh banget buat ngadepin rasa minder. Ketika lo liat orang lain sukses, coba bilang, "Ya udahlah, emang udah rezekinya dia. Gue juga bakal dapet giliran gue nanti." Kalimat ini bukan berarti kita menyerah atau males, tapi lebih ke arah nerima keadaan tanpa harus menyiksa diri sendiri.

Ingat, setiap orang punya "waktu" masing-masing. Kolonel Sanders baru sukses sama KFC-nya pas umur 60-an, sedangkan Mark Zuckerberg udah jadi miliarder di umur 20-an. Dua-duanya sukses, cuma jam tayangnya aja yang beda. Jadi, kalau sekarang lo ngerasa masih "biasa-biasa aja", ya nggak apa-apa. Nikmatin aja prosesnya, nikmatin kopi sachet lo, dan berhenti ngintipin jendela orang lain.

Kesimpulannya, membandingkan diri itu emang udah jadi insting manusia, tapi bukan berarti kita nggak bisa kontrol. Matikan notifikasi yang nggak perlu, tarik napas dalem-dalem, dan ingat kalau lo itu tokoh utama di cerita lo sendiri, bukan pemain figuran di cerita orang lain. Stay sane, folks!

Logo Radio
🔴 Radio Live