Langkah Tepat Menolong Teman yang Kecanduan Melukai Diri
Nisrina - Tuesday, 10 February 2026 | 08:15 PM


Menemukan fakta bahwa seorang teman dekat atau sahabat ternyata memiliki kebiasaan menyakiti diri sendiri atau self harm adalah pengalaman yang sangat mengejutkan. Mungkin Anda tidak sengaja melihat bekas luka di pergelangan tangannya saat lengan bajunya tersingkap atau mungkin Anda menemukan benda benda tajam yang disembunyikan di kamarnya.
Perasaan pertama yang muncul biasanya adalah campur aduk antara kaget takut bingung dan sedih. Anda mungkin ingin langsung berteriak memintanya berhenti atau memeluknya erat erat. Namun di sisi lain ada ketakutan bahwa jika Anda salah bicara ia justru akan semakin menutup diri atau melakukan hal yang lebih nekat.
Kecanduan self harm adalah masalah serius yang membutuhkan penanganan hati hati. Ini bukanlah sekadar "mencari perhatian" seperti anggapan orang awam. Ini adalah teriakan minta tolong dari jiwa yang sedang kesakitan. Sebagai teman peran Anda sangat vital dalam jembatan pemulihannya. Artikel ini akan menjadi panduan lengkap bagi Anda tentang apa yang harus dilakukan apa yang tidak boleh diucapkan dan bagaimana menjaga diri sendiri saat mendampingi teman yang sedang berjuang melawan dorongan untuk melukai diri.
Kelola Reaksi Anda Terlebih Dahulu
Sebelum Anda mengonfrontasi atau berbicara dengan teman Anda langkah pertama yang paling krusial justru ada pada diri Anda sendiri. Anda harus mengelola reaksi syok Anda.
Jangan pernah menunjukkan ekspresi jijik ngeri atau marah yang meledak ledak saat melihat luka atau bekas lukanya. Reaksi yang dramatis hanya akan membuat teman Anda merasa dihakimi dan malu. Ingatlah bahwa rasa malu dan benci pada diri sendiri biasanya adalah akar dari perilaku self harm itu sendiri. Jika Anda menambah rasa malu tersebut ia akan semakin terpuruk.
Tarik napas dalam dalam. Berusahalah untuk tetap tenang dan netral. Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa teman Anda sedang sakit bukan sedang melakukan kejahatan. Sikap tenang Anda akan menjadi sinyal bagi dia bahwa Anda adalah tempat yang aman untuk bercerita.
Pilih Waktu dan Tempat yang Privat
Pembicaraan mengenai self harm adalah sesuatu yang sangat sensitif dan personal. Jangan pernah membahas hal ini di depan umum di depan teman teman lain atau melalui kolom komentar media sosial.
Ajaklah dia berbicara empat mata di tempat yang tenang dan privat di mana kalian tidak akan diganggu. Pastikan kalian berdua memiliki waktu luang yang cukup sehingga pembicaraan tidak terburu buru.
Mulailah percakapan dengan nada yang lembut dan tidak menuduh. Hindari pertanyaan interogatif seperti "Kenapa kamu melakukan ini" atau "Sejak kapan kamu begini". Pertanyaan "kenapa" sering kali sulit dijawab karena mereka sendiri mungkin tidak tahu alasan pastinya.
Gunakan kalimat "aku" atau I statement. Contohnya "Aku perhatikan ada luka di tanganmu dan aku khawatir sama kamu. Aku cuma mau kamu tahu kalau aku ada di sini buat kamu". Pendekatan ini menunjukkan kepedulian tanpa menyudutkan.
Fokus pada Rasa Sakit Bukan Lukanya
Kesalahan umum yang sering dilakukan orang adalah terlalu fokus pada lukanya. Misalnya bertanya "Itu pakai silet apa" atau "Lukanya dalam banget nggak". Pertanyaan teknis seperti ini tidak membantu dan justru bisa memicu trigger.
Alihkan fokus Anda pada rasa sakit emosional yang melatarbelakangi tindakan tersebut. Tanyakan bagaimana perasaannya apa yang sedang membebaninya akhir akhir ini atau apa yang membuatnya merasa sangat tertekan.
Validasi perasaannya adalah kunci. Katakan hal hal seperti "Pasti berat banget ya menanggung semua itu sendirian" atau "Aku sedih dengernya tapi aku hargai banget kamu mau cerita sama aku". Validasi membuat dia merasa didengar dan dimengerti yang mana merupakan kebutuhan dasar manusia yang sering kali tidak terpenuhi pada pelaku self harm.
Hindari Kalimat yang Menghakimi atau Menggurui
Ada beberapa kalimat yang pantang diucapkan kepada orang yang melakukan self harm karena bisa memperburuk keadaan.
Jangan pernah berkata "Berhenti melakukan itu demi aku ya". Ini menciptakan beban rasa bersalah baru. Dia akan merasa gagal menjadi teman yang baik jika dia kambuh lagi. Self harm adalah mekanisme koping yang kompleks dan tidak bisa berhenti hanya demi orang lain.
Hindari juga kalimat "Itu dosa lho" atau "Kamu kurang bersyukur". Menceramahi dengan nilai moral atau agama saat seseorang sedang depresi berat sering kali tidak efektif dan justru membuat mereka merasa semakin tidak layak hidup.
Jangan mengancam atau memberi ultimatum seperti "Kalau kamu nggak berhenti aku nggak mau temenan sama kamu lagi". Ancaman hanya akan membuatnya menyembunyikan lukanya lebih rapat lagi dari Anda.
Jangan Paksa untuk Langsung Berhenti
Meskipun tujuan akhirnya adalah berhenti namun memaksa teman Anda untuk membuang semua alatnya saat itu juga atau berjanji tidak akan pernah melukai diri lagi detik ini juga adalah hal yang tidak realistis.
Self harm bagi mereka adalah "obat penenang". Jika "obat" itu diambil paksa tanpa ada penggantinya mereka bisa mengalami kejanggalan emosional atau withdrawal yang parah.
Sebaliknya tawarkan alternatif koping yang lebih aman atau harm reduction. Ajak dia melakukan hal lain saat dorongan itu muncul. Misalnya meremas es batu mencoret coret kertas dengan spidol merah atau berolahraga ringan. Tujuannya adalah menunda impuls untuk melukai diri dan menggantinya dengan aktivitas yang tidak merusak tubuh secara permanen.
Dorong untuk Mencari Bantuan Profesional
Sebagai teman Anda memiliki keterbatasan. Anda bukan psikolog psikiater atau konselor. Anda tidak bisa menyembuhkan trauma atau depresi teman Anda sendirian. Peran utama Anda adalah sebagai jembatan menuju bantuan profesional.
Katakan padanya bahwa tidak ada salahnya meminta bantuan ahli. Tawarkan bantuan konkret untuk mencari informasi psikolog terdekat atau menemaninya pergi ke sesi konseling pertama.
Jika dia menolak karena takut biaya atau takut orang tua beri tahu dia tentang opsi konseling gratis di puskesmas kampus atau layanan konseling daring yang terjangkau. Yakinkan dia bahwa pergi ke psikolog adalah tanda kekuatan bukan kelemahan.
Pahami Batasan Kerahasiaan
Pelaku self harm sering kali meminta Anda berjanji untuk "jangan bilang siapa siapa". Ini adalah dilema terbesar. Menjaga rahasia penting untuk kepercayaan namun keselamatan nyawa adalah prioritas utama.
Anda perlu membedakan antara Non Suicidal Self Injury (melukai diri tanpa niat bunuh diri) dengan percobaan bunuh diri. Jika luka yang dibuatnya sangat parah membahayakan nyawa atau dia mengungkapkan keinginan untuk mati Anda wajib melanggar janji kerahasiaan tersebut.
Katakan padanya dengan jujur "Aku sayang sama kamu dan aku nggak mau kehilangan kamu. Lukamu ini butuh dokter dan aku harus kasih tahu orang tuamu atau kakakmu biar kamu bisa ditangani. Maaf kalau kamu marah tapi aku lebih baik kamu marah sama aku daripada aku melihat kamu kenapa napa".
Jaga Kesehatan Mental Diri Sendiri
Mendampingi teman yang memiliki masalah kesehatan mental bisa sangat menguras energi atau menyebabkan caregiver burnout. Anda mungkin ikut merasa cemas sedih atau tidak berdaya.
Ingatlah prinsip keselamatan di pesawat terbang pasang masker oksigen Anda sendiri sebelum membantu orang lain. Tetapkan batasan atau boundaries. Anda tidak harus siap sedia 24 jam untuk mendengarkan curhatannya.
Jika Anda merasa terbebani tidak apa apa untuk berkata "Aku mau banget dengerin cerita kamu tapi sekarang aku lagi capek banget. Boleh nggak kita ngobrol lagi nanti sore". Menjaga kesehatan mental Anda sendiri adalah hal yang wajib agar Anda bisa terus menjadi teman yang suportif dalam jangka panjang.
Kesabaran Adalah Kunci
Proses pemulihan dari kecanduan self harm tidaklah linier. Akan ada masa di mana dia berhasil berhenti selama berbulan bulan tapi kemudian kambuh atau relapse lagi saat stres berat datang.
Jangan kecewa atau marah saat dia kambuh. Itu adalah bagian normal dari proses pemulihan. Tetaplah ada di sampingnya berikan dukungan dan ingatkan dia bahwa satu kali kambuh bukan berarti dia gagal total. Perjalanan menuju kesembuhan adalah maraton bukan lari cepat. Kehadiran Anda yang konsisten dan tidak menghakimi adalah obat terbaik yang bisa Anda berikan sebagai seorang sahabat.
PERINGATAN: Berita ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.
Jika Anda memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, jangan ragu bercerita, konsultasi, atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa. Terlebih apabila pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri.
Untuk konsultasi, Anda dapat menghubungi nomor hotline Psikolog Klinis Rumah Sakit Jiwa Menur di 081-3472-753-07 via WhatsApp, setiap Senin-Kamis: 08.00-19.00 dan Jumat: 08.00-13.00 WIB. Atau mengakses layanan Love Inside Sucide Awareness (LISA) Kementerian Kesehatan di Call Center 119 atau hotline 08113855472.
Next News

Cara Membersihkan Tabung Mesin Cuci dari Kerak dan Jamur
in 14 minutes

5 Trik Mencuci Baju di Musim Hujan Agar Tetap Wangi Tanpa Matahari
an hour ago

Bahaya Smiling Depression Saat Senyum Menutupi Luka Batin
in 2 hours

10 Cara Ampuh Mengatasi Stres Kerja Agar Mental Tetap Waras
in an hour

Sejarah Tragis dan Kelam di Balik Renyahnya Cakwe
an hour ago

Panduan Aman Membersihkan Layar HP dan Laptop Tanpa Merusak Lapisan Pelindung
2 hours ago

Uniknya Budaya Tidur Orang Jepang yang Ternyata Sangat Berbeda dari Indonesia
in 3 hours

7 Cara Ampuh Tidur Nyenyak Agar Bangun Pagi Lebih Segar dan Berenergi
in 4 hours

Waspada Kesedihan Ditinggal Orang Tercinta Bisa Picu Depresi Berat dan Diagnosis BPD
4 hours ago

Memahami 5 Stages of Grief Kübler Ross Agar Hati Kembali Pulih
5 hours ago






