Kesalahan Menjadikan Susu sebagai Pengganti Makan Utama Anak
Nisrina - Wednesday, 28 January 2026 | 11:15 AM


Banyak orang tua merasa cemas ketika melihat buah hatinya melakukan gerakan tutup mulut atau menolak makan. Sebagai jalan pintas sering kali susu dijadikan solusi instan agar perut si kecil tetap terisi.
Padahal, para ahli gizi dengan tegas mengingatkan bahwa kebiasaan ini sebenarnya kurang tepat. Susu tidak boleh dan tidak bisa menggantikan peran makanan padat sebagai sumber gizi utama.
Susu memang mengandung berbagai nutrisi baik seperti kalsium dan protein yang mendukung pertumbuhan tulang. Namun, kandungan gizi dalam susu tidaklah lengkap untuk memenuhi seluruh kebutuhan harian tubuh anak.
Makanan utama yang terdiri dari karbohidrat, lauk pauk, dan sayuran memiliki profil nutrisi yang jauh lebih kompleks. Zat besi dan serat adalah dua contoh nutrisi penting yang jumlahnya sangat minim di dalam susu.
Masalah utama yang sering terjadi adalah anak menjadi cepat kenyang karena terlalu banyak minum susu. Rasa kenyang yang semu ini membuat nafsu makan mereka terhadap menu utama menjadi hilang total.
Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan mengunyah dan mengenal rasa makanan asli. Siklus ini jika dibiarkan akan memicu perilaku picky eater atau pilih-pilih makanan yang sulit diubah.
Risiko kesehatan jangka panjang yang mengintai adalah defisiensi zat besi atau anemia. Anak yang terlalu banyak mengonsumsi susu sapi cenderung kekurangan zat besi karena penyerapan mineral ini terhambat oleh kalsium susu.
Anemia pada masa emas pertumbuhan dapat berdampak negatif pada kecerdasan otak dan daya tahan tubuh. Anak akan terlihat lesu, pucat, dan kurang bersemangat dalam beraktivitas.
Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa susu hanyalah pelengkap atau penyempurna menu harian. Posisinya tidak boleh sejajar apalagi lebih tinggi dibandingkan dengan nasi dan lauk pauk.
Jadwal pemberian susu harus diatur sedemikian rupa agar tidak berdekatan dengan jam makan utama. Berikan susu hanya sebagai selingan atau camilan di antara waktu makan besar.
Jika anak menolak makan jangan langsung menyerah dan menyodorkan botol susu sebagai pengganti. Tetaplah konsisten menawarkan makanan padat dengan variasi menu yang menarik secara visual dan rasa.
Biarkan anak mengenal rasa lapar agar mereka belajar menghargai waktu makan yang telah ditetapkan. Kedisiplinan orang tua sangat diuji dalam fase pembentukan pola makan yang sehat ini.
Konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau ahli gizi jika masalah makan ini berlarut-larut. Mungkin ada kondisi medis tertentu yang membuat anak kesulitan menerima makanan padat.
Jangan biarkan masa depan kesehatan anak terganggu hanya karena kesalahpahaman tentang peran susu. Gizi seimbang dari piring makan adalah kunci utama tumbuh kembang yang optimal.
Next News

Jangan Pakai Filter! Gunakan 5 Teknik Ini Agar Foto Produkmu Terlihat Premium
in 6 hours

Cuma 5 Menit! Resep Smoothie Pemulihan Otot Setelah Olahraga Malam
in 4 hours

Jangan Asal Lari! Taktik Menghindari Lubang dan Kendaraan Saat Olahraga Malam
in 6 hours

Makan Apa Setelah Olahraga Malam? Panduan Nutrisi Agar Tidur Nyenyak & Otot Kuat
in 5 hours

Panduan Lengkap Peta Persebaran Empat Madzhab Fikih di Dunia Islam
in 6 hours

Bahaya Memendam Stres Kerja yang Sering Dianggap Tanda Mental Kuat
in 5 hours

Misteri Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Laut Selatan
in 4 hours

Misteri Bunga Wijaya Kusuma Mekar Tengah Malam yang Dianggap Sakral
in 3 hours

Cukup Sudah! 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Mengharuskanmu Segera Resign
in 3 hours

Terbangun Lapar Tengah Malam Sebaiknya Makan Dulu atau Paksa Tidur
in 2 hours






