Kenapa Nanoplastik Lebih Berbahaya daripada Mikroplastik?
Refa - Thursday, 29 January 2026 | 05:30 PM


Mikroplastik vs Nanoplastik: Kenapa Nanoplastik Bisa Jadi Pahlawan Kebingungan Tubuh Kita
Setiap pagi, kita mungkin belum sadar kalau kertas sarung tangan di meja kerja, botol minum plastik, bahkan makanan laut yang kita santap penuh potongan kecil yang tak terlihat. Itu semua plastik, yang terpecah menjadi partikel kecil. Kita sudah familiar dengan istilah mikroplastik, tapi apa ya yang membuat nanoplastik lebih menakutkan? Mari kita jelajah dunia mikroskopis ini, dan kenapa satu per satu partikel bisa merusak otak dan hormon tubuh.
Mikroplastik
Mikroplastik biasanya didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran antara satu mikrometer (µm) sampai 5 milimeter. Mereka bisa dipakai dalam produk kebersihan, sabun, atau bahkan partikel kaca yang terbentuk dari sisa-sisa kendaraan. Karena ukurannya yang relatif besar dibanding nanoplastik, mikroplastik biasanya terdeteksi dengan mikroskop biasa dan sering kali hanya dianggap sebagai "bukti sampah plastik". Walau belum separah nanoplastik, mikroplastik tetap menimbulkan risiko jika terakumulasi di tubuh, terutama di organ ginjal dan hati.
Nanoplastik
Nanoplastik, seperti namanya, berada di wilayah ukuran nanometer (nm), yaitu satu miliar kali lebih kecil dari satu meter. Kecil ini adalah kunci bahaya. Dengan diameter sekitar 100 nm, nanoplastik bisa menembus dinding sel, masuk ke sistem darah, bahkan menembus jembatan darah-otak atau yang biasa dipanggil Blood‑Brain Barrier (BBB). Jadi, nanoplastik bisa langsung masuk ke dalam otak, tempat di mana tidak ada pencegahan bagi partikel berukuran mini ini.
Menurut salah satu penelitian terbaru di University of California, San Diego, nanoplastik berukuran 50 nm dapat menempel di membran sel neuron dan memicu respons inflamasi. Bila partikel ini menumpuk, bisa memicu kondisi yang mempersiapkan panggung bagi penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson.
Jembatan Darah‑Otak
BBB merupakan sistem pengaman otak yang menolak kebanyakan zat berbahaya. Namun, partikel dengan ukuran lebih kecil dari 200 nm bisa menembus. Nanoplastik dengan ukuran 50-100 nm masuk ke dalam dan menempel di permukaan neuron, memicu stres oksidatif dan peradangan.
Stres oksidatif ini menstimulasi produksi protein beta‑amiloid, yang terbentuk menjadi plak di otak Alzheimer. Sementara di Parkinson, nanoplastik dapat merusak dopaminergik sel, memperparah kehilangan motorik. Walaupun masih dalam tahap eksperimental, hasil ini membuka pintu bagi kemungkinan pengaruh mikroplastik pada kondisi neurodegeneratif.
Pengaruh Nanoplastik pada Sistem Endokrin
Endokrin system terlihat sensitif terhadap zat asing. Nanoplastik sering mengandung additif seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates, yang telah dikenal sebagai disruptor endokrin. Ketika nanoplastik masuk ke dalam tubuh, ia membawa zat-zat ini dan menimbulkan gangguan pada sinyal hormonal.
Akibatnya, bisa muncul gangguan seperti gangguan reproduksi, metabolik, dan bahkan perubahan perilaku. Sebuah studi di Jurnal Environmental Health menunjukkan peningkatan risiko obesitas pada anak-anak yang terpapar nanoplastik berlebih di lingkungan sekitar.
Cara Mengurangi Paparan Nanoplastik
- Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai: Ganti botol plastik dengan stainless steel atau kaca.
- Gunakan Filter Air Rumah: Filter reverse osmosis dapat menyaring partikel di bawah 200 nm.
- Perhatikan Sumber Makanan Laut: Periksa apakah laut atau perairan sekitar Anda terkontaminasi plastik.
- Hapus Sampah Plastik di Kulkas: Plastik di kulkas dapat terlepas menjadi partikel halus.
- Jangan Menjajal Produk 'Biodegradable' yang tidak Terbukti: Banyak produk "ramah lingkungan" masih mengandung mikroplastik.
Kesimpulan: Nanoplastik, Lebih dari Sekadar Partikel Kecil
Di tengah gemerlap dunia modern, kita tidak bisa menutupi fakta bahwa plastik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Tapi, partikel mikroplastik, terutama nanoplastik, punya potensi merusak tubuh secara tidak langsung. Dari menembus dinding sel, menyeberangi BBB, hingga memicu gangguan hormonal, nanoplastik bisa menjadi "penyakit lama" dalam bentuk yang paling kecil. Untuk itu, langkah preventif dan kesadaran bersama adalah kunci. Ingatlah, keringat dan napas kita tak selamanya terkontaminasi, tapi partikel kecil bisa menyusup melalui celah kecil yang tidak kita sadari.
Meskipun masih banyak yang belum jelas, satu hal yang pasti: jika kita ingin hidup sehat, mari kita mulai mengurangi plastik di sekitar kita, bahkan di tingkat yang tidak terlihat. Karena, kadang kebaikan kecil sekalipun, kalau terus menumpuk, bisa jadi ancaman besar bagi tubuh dan otak kita.
Next News

Misteri Bunga Wijaya Kusuma Mekar Tengah Malam yang Dianggap Sakral
in 7 hours

Cukup Sudah! 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Mengharuskanmu Segera Resign
in 7 hours

Terbangun Lapar Tengah Malam Sebaiknya Makan Dulu atau Paksa Tidur
in 6 hours

Rekan Kerja Suka Cari Muka? Inilah 5 Cara Profesional Menghadapinya Tanpa Perlu Emosi
in 6 hours

Mengenal Ular Siput Jerapah Si Ahli Kamuflase Hutan Jawa
in 5 hours

Panduan Lengkap Jenis Kerjasama Ekonomi Syariah dan Pengertiannya
in 4 hours

Jam Kerja Habis, Notifikasi Tetap Bunyi? Saatnya Pasang Boundaries
in 5 hours

Managing Up: Strategi Menghadapi Atasan Micromanagement Tanpa Konflik
in 4 hours

Tahu Nilai Dirimu! Panduan Taktis Meminta Kenaikan Gaji dan Benefit Secara Profesional
in 3 hours

Rahasia Bikin Mi Instan Lebih Sehat dengan Modifikasi Bumbu
in 3 hours






