Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Kamu Butuh Kacamata Anti Radiasi? Simak Alasannya Di Sini

Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 10:15 AM

Background
Kenapa Kamu Butuh Kacamata Anti Radiasi? Simak Alasannya Di Sini
Ilustrasi (Freepik/Freepik)

Coba deh lo inget-inget, berapa jam dalam sehari mata lo melototin layar? Dari bangun tidur yang dicari HP buat matiin alarm (sambil lanjut scrolling TikTok bentar), kerja depan laptop delapan jam, sampe rebahan malam-malam nonton Netflix biar nggak merasa hampa-hampa amat. Hasilnya? Mata perih, berair, dan kepala rasanya kayak abis dihantam kenyataan hidup yang berat. Di saat itulah, muncul sebuah pahlawan tanpa tanda jasa bernama kacamata anti-radiasi atau lensa blue light filter.

Iklannya biasanya mengintimidasi. Katanya, sinar biru dari gadget itu jahat banget, bisa bikin mata rusak permanen, katarak dini, sampai kebutaan. "Lindungi mata Anda sekarang sebelum terlambat!" Begitu jargonnya. Akhirnya, banyak dari kita yang rela ngerogoh kocek lebih dalam, dari mulai yang harga 50 ribuan di marketplace orange sampe yang jutaan di optik ternama, cuma demi lensa yang warnanya agak kekuningan itu. Tapi pertanyaannya: beneran ngaruh atau kita semua cuma kena kena prank marketing masif?

Mitos Sinar Biru yang Dibesar-besarkan

Pertama-tama, kita perlu meluruskan satu hal. Sinar biru atau blue light itu bukan barang langka yang cuma ada di HP lo. Sumber sinar biru terbesar di jagat raya ini adalah matahari. Yes, lo melangkah keluar rumah siang bolong itu paparan blue light-nya jauh lebih dashyat daripada lo mantengin layar iPhone seharian penuh. Kalau emang blue light seberbahaya itu, harusnya manusia purba sudah pada buta semua karena keseringan liat langit siang.

American Academy of Ophthalmology (AAO), semacam "suhunya" para dokter mata di Amerika, sudah berkali-kali bilang kalau sebenarnya belum ada bukti ilmiah yang solid yang menyatakan bahwa sinar biru dari perangkat digital secara langsung merusak retina mata kita. Jadi, narasi soal "radiasi layar bikin buta" itu sebenarnya agak kejauhan. Itu gaya jualan klasik: ciptakan ketakutan, lalu tawarkan solusinya.

Kenapa Mata Kita Tetap Terasa Capek?

Lho, tapi kan mata gue beneran sakit kalau kelamaan ngetik? Nah, di sini poin pentingnya. Rasa capek, kering, dan perih yang lo rasain itu namanya Computer Vision Syndrome (CVS). Penyebab utamanya bukan karena radiasi sinar birunya, tapi karena mata lo "lupa" berkedip. Normalnya, manusia itu berkedip sekitar 15 kali per menit. Tapi pas lagi fokus banget di depan layar, frekuensi kedip kita bisa turun drastis jadi cuma 5-7 kali doang.

Bayangin mata lo itu kaca mobil. Kalau wiper-nya jarang gerak padahal lagi banyak debu, kacanya jadi burem dan panas. Itulah yang terjadi. Mata lo kering karena air mata nggak terdistribusi sempurna gara-gara lo jarang kedip. Jadi, mau lo pake kacamata seharga motor pun, kalau tetep melotot nggak kedip-kedip, mata lo bakal tetep ngerasa kayak abis disemprot air cabe.

Fungsi Sebenarnya: Melindungi Jadwal Tidur, Bukan Menjaga Kesehatan Mata

Tapi jujur ya, lensa anti-blue light nggak sepenuhnya nggak berguna. Ada satu manfaat nyata yang diakui secara medis, tapi sayangnya jarang jadi jualan utama para marketing optik: yaitu urusan tidur. Sinar biru punya sifat menekan hormon melatonin, hormon yang bikin kita ngerasa ngantuk dan rileks. Makanya, kalau lo main HP sebelum tidur, otak lo bakal "tertipu" dan mikir kalau ini masih siang hari. Hasilnya? Lo jadi insomnia dan besok paginya bangun kayak zombie.

Di sinilah kacamata anti-radiasi dapet poin. Lensa kuningnya membantu memblokir spektrum biru supaya produksi melatonin lo nggak terlalu keganggu. Jadi, kalau lo bilang kacamata ini bikin lo lebih gampang tidur abis begadang, itu fakta medis. Tapi kalau lo bilang kacamata ini mencegah mata lo jadi minus atau silinder, nah itu baru masuk ranah imajinasi marketing.

Gimik atau Investasi?

Menurut observasi gue, banyak orang beli kacamata ini cuma buat "gaya-gayaan" atau biar kelihatan pinter pas lagi Zoom meeting. Nggak salah sih, emang estetikanya dapet banget. Apalagi kalau lensanya punya pantulan warna biru-biru gimana gitu, berasa kayak tech-entrepreneur sukses dari Silicon Valley. Tapi buat lo yang emang pengen sehat mata tanpa harus keluar duit, sebenarnya ada cara gratisan yang disaranin langsung sama dokter mata sedunia: Aturan 20-20-20.

Setiap 20 menit lo natap layar, istirahatin mata lo selama 20 detik dengan melihat benda yang jaraknya sekitar 20 kaki (6 meter). Simpel banget kan? Nggak butuh kacamata mahal, cuma butuh niat dan konsistensi yang sayangnya seringkali lebih mahal daripada lensa kacamata itu sendiri. Selain itu, nurunin brightness layar atau pake fitur "Night Shift" di gadget lo sebenernya fungsinya sama persis sama kacamata anti-blue light itu. Gratis pula.

Jangan Telan Mentah-mentah

Dunia marketing emang pinter banget bungkus hal-hal biasa jadi sesuatu yang seolah-olah kebutuhan primer. Kacamata anti-radiasi ini posisinya ada di tengah-tengah. Dia bukan penipuan total karena emang ada fungsi filternya, tapi dia juga bukan "obat dewa" untuk semua masalah mata lo. Kalau lo ngerasa mata lebih nyaman pake itu karena dapet efek placebo atau emang suka sama warna kuningnya, silakan beli. Nggak ada ruginya juga kok, itung-itung nambah koleksi aksesoris.

Tapi, jangan sampe lo ngerasa udah kebal dan malah makin barbar main HP-nya. Inget, mata lo itu organ, bukan mesin. Dia butuh istirahat, butuh nutrisi, dan butuh kedipan yang tulus, bukan cuma filter tambahan seharga ratusan ribu. Jadi, gimana? Masih mau checkout kacamata anti-radiasi di keranjang kuning, atau mending duitnya dipake buat beli vitamin mata dan makanan bergizi? Pilihan ada di tangan lo, eh, di mata lo maksudnya...

Logo Radio
🔴 Radio Live