Kenapa Gen Z Takut Banget Pesan Makanan di Restoran?
Nisrina - Wednesday, 31 December 2025 | 10:39 AM


Generasi sebelumnya mungkin akan mengernyitkan dahi jika mendengar bahwa memesan makanan di restoran bisa memicu serangan panik. Namun bagi Generasi Z dan milenial muda, fenomena yang disebut Menu Anxiety ini adalah realitas yang nyata dan melelahkan. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa persentase yang cukup besar dari anak muda merasa gugup, cemas, bahkan takut saat harus berhadapan dengan pelayan dan daftar menu. Ketakutan ini bukanlah tanda ketidakmampuan membaca, melainkan gejala dari masalah yang lebih modern yakni kelumpuhan akibat terlalu banyak pilihan dan tekanan kesempurnaan.
Akar masalah dari kecemasan ini terletak pada kebiasaan digital kita yang selalu ingin mengoptimalkan segala sesuatu. Di era informasi tanpa batas ini, kita dididik untuk percaya bahwa selalu ada "pilihan terbaik" yang harus ditemukan. Sebelum kaki melangkah masuk ke restoran, jari-jari kita sudah bergerilya di TikTok, Instagram, dan Google Review. Kita merasa wajib melihat foto asli makanannya, membaca testimoni tentang rasanya, dan memastikan porsinya sepadan dengan harganya. Proses riset pra-makan ini menciptakan standar ekspektasi yang sangat tinggi dan kaku.
Ketakutan akan penyesalan atau regret aversion juga bermain peran besar. Bagi anak muda yang hidupnya sering didokumentasikan di media sosial, salah memilih makanan terasa seperti kegagalan performatif. Ada rasa takut bahwa makanan yang datang ternyata tidak enak atau tidak estetik, yang berarti uang dan kesempatan terbuang sia-sia. Tekanan untuk mendapatkan pengalaman yang "sempurna" ini mengubah aktivitas makan yang seharusnya santai menjadi misi pencarian harta karun yang penuh risiko. Memesan menu secara spontan tanpa riset dianggap sebagai tindakan ceroboh yang harus dihindari.
Selain itu aspek interaksi sosial dengan pelayan juga menjadi sumber tekanan tersendiri. Ada perasaan tidak nyaman jika kita terlalu lama membaca menu sementara pelayan berdiri menunggu dengan pena di tangan. Ada rasa takut menghakimi jika kita bertanya terlalu banyak atau salah melafalkan nama menu asing yang terdengar rumit. Kecemasan sosial ini membuat banyak Gen Z lebih memilih memesan lewat kode QR atau aplikasi digital di meja karena meminimalkan interaksi manusia yang berpotensi canggung tersebut.
Fenomena Menu Anxiety ini sebenarnya adalah cermin dari betapa lelahnya kita hidup di bawah bayang-bayang algoritma dan validasi. Kita kehilangan seni menikmati ketidaksempurnaan. Kita lupa bahwa makanan yang rasanya "biasa saja" pun sebenarnya tidak akan meruntuhkan dunia kita. Mengatasi kecemasan ini berarti belajar untuk melepaskan kendali, berani mengambil risiko kecil, dan menerima bahwa kadang-kadang salah pilih menu adalah bagian dari cerita hidup yang manusiawi dan justru bisa menjadi bahan tertawaan yang seru bersama teman-teman.
Next News

Panduan Aman Membersihkan Layar HP dan Laptop Tanpa Merusak Lapisan Pelindung
in 6 hours

Waspada Kesedihan Ditinggal Orang Tercinta Bisa Picu Depresi Berat dan Diagnosis BPD
in 4 hours

Memahami 5 Stages of Grief Kübler Ross Agar Hati Kembali Pulih
in 3 hours

Cara Mencatat Hasil Rapat yang Fokus
in 5 hours

Rapat Selesai Tapi Otak Kosong? Gunakan Teknik Transisi 5 Menit untuk Rebut Kembali Fokus
in 4 hours

Waspada Burnout Syndrome Kelelahan Bekerja yang Lebih Bahaya dari Stres
in 2 hours

Fakta Ilmiah Sleep Paralysis atau Ketindihan Bukan Karena Gangguan Makhluk Halus
in an hour

Hubungan Erat Antara Asam Lambung Naik dan Tekanan Berlebih
in an hour

Mengapa Sifat Kekanakan Muncul Saat Dewasa dan Cara Menyembuhkannya
in 18 minutes

Mengapa Selalu Berpikir Positif Justru Bisa Merusak Kesehatan Mental Anda dan Cara Menghindarinya
12 minutes ago






