Kenali 3 Tanaman Ajaib Penyerap Karbon Selain Hutan Hujan
Nisrina - Friday, 06 February 2026 | 10:45 AM


Isu perubahan iklim dan pemanasan global telah menjadi topik mendesak yang menuntut perhatian kita semua. Selama ini strategi utama yang sering didengungkan untuk melawan kenaikan suhu bumi adalah dengan menanam pohon sebanyak mungkin di hutan atau melakukan reboisasi. Hutan hujan tropis memang dikenal sebagai paru paru dunia yang vital. Namun alam ternyata menyediakan solusi lain yang tidak kalah hebatnya dalam menyerap emisi karbon.
Sistem pangan kita sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pahlawan lingkungan. Beberapa jenis tanaman pangan tidak hanya berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi manusia tetapi juga bekerja efektif sebagai penyerap karbon alami. Mereka mampu menangkap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam jangka waktu yang lama.
Fakta menarik ini membuka wawasan baru bahwa upaya mitigasi iklim bisa berjalan beriringan dengan produksi pangan berkelanjutan. Tiga komoditas yang belakangan menjadi sorotan para peneliti karena kemampuan serapan karbonnya yang luar biasa adalah rumput laut kacang kacangan dan pohon zaitun.
Rumput Laut Sang Raksasa Lautan
Ketika berbicara soal penyerap karbon pandangan kita sering terpaku pada daratan. Padahal lautan meliputi lebih dari tujuh puluh persen permukaan bumi dan menyimpan potensi mitigasi iklim yang dahsyat. Rumput laut atau makroalga adalah salah satu organisme paling efisien di dunia dalam menyerap karbon dioksida.
Berbeda dengan tanaman darat rumput laut tumbuh dengan kecepatan yang sangat tinggi. Beberapa spesies bahkan bisa tumbuh hingga setengah meter hanya dalam sehari. Dalam proses pertumbuhannya yang cepat itu mereka menyerap karbon dalam jumlah masif dari air laut melalui proses fotosintesis.
Keunggulan lain dari budidaya rumput laut adalah sifatnya yang ramah lingkungan. Tanaman ini tidak membutuhkan air tawar pupuk kimia atau pestisida yang sering kali menjadi sumber polusi pada pertanian darat. Ketika rumput laut mati sebagian dari mereka akan tenggelam ke dasar laut dalam dan membawa karbon yang diserapnya terkunci di sana selama berabad abad. Inilah yang membuat rumput laut sering disebut sebagai solusi Blue Carbon yang sangat menjanjikan untuk masa depan.
Kacang Kacangan Pelindung Kualitas Tanah
Beralih ke daratan kelompok tanaman kacang kacangan ternyata juga memegang peranan kunci. Tanaman seperti kenari almond dan jenis kacang pohon lainnya memiliki kemampuan unik dalam menjaga kesehatan tanah. Pohon kacang umumnya memiliki masa hidup yang panjang dan sistem perakaran yang kuat.
Akar pohon kacang tidak hanya berfungsi menyerap air tetapi juga membantu mengikat karbon di dalam tanah. Tanah yang sehat dan kaya akan bahan organik adalah salah satu tempat penyimpanan karbon terbesat di bumi. Dengan menanam pohon kacang para petani sebenarnya sedang melakukan dua hal sekaligus yaitu memproduksi pangan bergizi tinggi dan "memanen" karbon dari atmosfer untuk disimpan di bawah kaki kita.
Selain itu pola makan berbasis nabati yang memasukkan kacang kacangan sebagai sumber protein juga dinilai lebih ramah iklim dibandingkan konsumsi daging merah. Jejak karbon untuk memproduksi satu kilogram kacang jauh lebih rendah dibandingkan memproduksi satu kilogram daging sapi. Jadi mengonsumsi kacang kacangan adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi lingkungan.
Pohon Zaitun Simbol Keabadian dan Penyelamat Iklim
Tanaman ketiga yang masuk dalam daftar elit penyerap karbon adalah pohon zaitun. Tanaman yang identik dengan kawasan Mediterania ini dikenal dengan ketangguhannya. Pohon zaitun bisa hidup hingga ratusan bahkan ribuan tahun. Usia yang panjang ini menjadikan mereka sebagai penyimpan karbon yang sangat stabil dan permanen.
Kayu pohon zaitun sangat padat dan mampu menahan karbon dalam jumlah besar di dalam batangnya. Tidak hanya itu praktik perkebunan zaitun tradisional sering kali minim pengolahan tanah intensif sehingga struktur tanah tetap terjaga dan emisi karbon dari tanah bisa ditekan.
Minyak zaitun yang dihasilkan juga merupakan produk pangan yang sehat dan bernilai ekonomi tinggi. Dengan mempromosikan budidaya zaitun kita tidak hanya mendukung kesehatan jantung manusia melalui diet sehat tetapi juga mendukung kesehatan jantung bumi dengan mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Pentingnya Pertanian Regeneratif
Mengetahui potensi ketiga tanaman ini menyadarkan kita bahwa solusi iklim ada di sekitar kita. Konsep pertanian regeneratif yang menggabungkan produksi pangan dengan pemulihan ekosistem harus terus didorong.
Kita tidak bisa lagi melihat pertanian hanya sebagai sektor penghasil makanan semata. Sektor ini harus bertransformasi menjadi sektor yang aktif memulihkan bumi. Dengan mendukung produk produk yang berasal dari praktik pertanian berkelanjutan seperti rumput laut kacang kacangan dan zaitun kita sebagai konsumen turut berkontribusi dalam perjuangan melawan krisis iklim.
Masa depan bumi tidak hanya bergantung pada seberapa banyak hutan yang kita lindungi tetapi juga pada apa yang kita tanam dan apa yang kita makan. Tiga tanaman ajaib ini adalah bukti bahwa alam selalu menyediakan jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya asalkan manusia mau belajar dan bekerja sama dengannya.
Next News

Panduan Panen Bokashi yang Benar
7 hours ago

Benarkah Meninggalkan Shalat Jumat 3 Kali Hati Menjadi Tertutup Selamanya
10 hours ago

Anti-Bau! Cara Menjaga Keseimbangan Unsur Hijau dan Cokelat dalam Komposter Indoor
8 hours ago

Pupuk Gratis dari Dapur! Cara Membuat POC Tanpa Bau untuk Tanaman Indoor
9 hours ago

Manfaat Sabun Kastila dan Alkohol dalam Melawan Hama
10 hours ago

Alasan Mengejutkan di Balik Tren Mengoleskan Cuka pada Pintu Rumah
14 hours ago

Sering Lupa Menyiram? Inilah Rahasia Memiliki Hutan Kecil di Dalam Rumah
11 hours ago

8 Bahan Herbal Ampuh Penjaga Kesehatan Pernapasan
14 hours ago

Mengenal Cumulonimbus Sang Raja Awan Pembawa Badai
15 hours ago

Resep Capcay Goreng Spesial Isian Lengkap yang Lezat dan Bergizi
15 hours ago






