Ceritra
Ceritra Warga

Kapan Musafir Boleh Tidak Puasa dan Bagaimana Cara Shalat di Kendaraan?

Refa - Sunday, 01 February 2026 | 09:30 PM

Background
Kapan Musafir Boleh Tidak Puasa dan Bagaimana Cara Shalat di Kendaraan?
Ilustrasi pria dalam perjalanan (Pinterest/Pixabay)

Mudik Jauh Saat Puasa: Kapan Boleh Membatalkan dan Cara Jamak Salat di Jalan

Ramadan 2026 akhirnya tiba dan untuk sebagian besar muslim di Indonesia, bulan penuh berkat ini juga berarti persiapan mudik. Pagi-pagi di pagi hari, suasana sore berselimut lampu merah dan hijau, semua orang bersemangat kembali ke kampung halaman. Tetapi bagi yang masih berpuasa, mudik jauh membawa dua pertanyaan penting: "Berapa jarak minimal supaya aku tidak perlu puasa?" dan "Bagaimana caranya jamak salat di tengah perjalanan?" Artikel ini bakal jelasin, pakai gaya santai dan penuh cerita, supaya kamu bisa merencanakan mudik tanpa stres.

Syarat Jarak Minimal (Masafatul Qashr) – Seperti 80 km?

Mayoritas ulama setuju kalau jarak minimal untuk melepas puasa di jalan sekitar 80 km. Tapi jangan langsung pakai angka ini begitu saja. Masafatul qashr itu nggak cuma soal kilometer, tapi juga kondisi fisik, suhu, dan lama perjalanan. Jadi, kalau jarak 80 km, tetap puasa, terus jika >80 km, bisa batal.

  • 80 km adalah angka yang paling sering disebut. Tapi kalau kamu lelah, dehidrasi, atau ada masalah kesehatan, lebih baik pilih lebih cepat.
  • Jika perjalanan 90–100 km dan kamu masih merasa kuat, kamu bisa tetap puasa dan menyiapkan untuk qada nanti.
  • Jika perjalanan lebih dari 200 km, biasanya disarankan untuk batal dari dulu. Sempat, lebih aman menutup salat di perjalanan.

Berapa lama perjalanan sebelum harus batal?

Menurut beberapa pendapat, jika perjalanan akan berlangsung >3 jam, dan kamu masih punya energi, kamu bisa terus puasa. Tapi jika akan lebih dari 5 jam, atau kamu butuh istirahat, batalkan. Intinya: dengarkan tubuhmu. Kalau merasa "ah, dah sempet, bisa dibilang" maka cukup.

Kalau Gak Mau Batal: Cara Jamak Salat di Jalan

Jamak salat di jalan sering dianggap sulit, tapi sebenarnya gampang kalau kamu mau belajar dulu. Ada tiga cara utama:

  • Shalat Dhuha (sunrise): Mulai jam 5-6 pagi, ketika matahari belum sepenuhnya terbit. Kegiatan ini cocok banget untuk pendakian atau naik bus.
  • Shalat Dhuha (midday): Setelah subuh, sebelum dzuhur, biasanya saat perjalanan menengah.
  • Shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya di tempat sempit: Misalnya di sela-sela perhentian bus atau ketika ada tempat singgah yang cukup aman.

Jamak salat itu biasanya 2 rakaat. Tapi kalau di jalan, kamu bisa menyesuaikan waktu dan tempat. Misalnya, "Satu set, satu set, dua set, dua set" – bisa jadi jamak 4 rakaat di pagi hari, dan 8 rakaat di sore hari.

Tips Praktis Jamak Salat di Jalan

1. Perlengkapan: Bawa sajadah kecil atau setrika kecil (bisa di atas kursi).

2. Waktu: Pilih waktu di antara jadwal bus atau kendaraan.

3. Penilaian: Jika mau jamak 2 rakaat, cukup satu set. Jika 4 rakaat, lakukan 2 set.

4. Keadaan: Jangan paksa jika sedang tidak enak badan. Sering kali, lebih penting menjaga kesehatan.

Bagaimana Cara Qada Jika Sudah Batal Puasa?

Qada, atau menegakkan puasa yang batal, biasanya dilakukan di akhir Ramadan. Ada beberapa cara, tergantung kesibukan dan preferensi:

  • Sholat Jami': Di masjid, banyak orang bersatu untuk menegakkan. Sering kali, ada jadwal khusus di masjid.
  • Sholat di Rumah: Kamu bisa menegakkan puasa di rumah. Caranya, mulai sholat 2 rakaat dan tambah 2 rakaat tambahan.
  • Sholat di Tempat Kerja: Bagi yang sudah kerja, cukup lakukan di ruang rapat atau ruang istirahat.
  • Qada secara Online: Beberapa komunitas mengadakan acara qada online. Kamu bisa bergabung lewat Zoom atau WhatsApp.

Tips Qada di Tengah Kerja

Jika kamu harus kerja di akhir Ramadan, coba pakai teknik "mini sholat": Setiap pagi, lakukan 2 rakaat, dan setengah jam di sore hari, lakukan 2 rakaat lagi. Totalnya 4 rakaat. Satu set untuk dzuhur, satu set untuk ashars. Ini cukup untuk menegakkan puasa.

Kenapa Ini Penting? Penutup Rangkaian Ramadan

Ramadan bukan sekadar puasa, tapi juga tentang kebersamaan dan spiritualitas. Mudik jauh, walaupun mengharuskan kita memilih antara puasa atau perjalanan, tetap menjadi momen penting. Menghargai syarat jarak minimal dan melaksanakan jamak salat di jalan menunjukkan bahwa kita masih memegang nilai-nilai agama sekaligus menghargai kebutuhan fisik.

Di sisi lain, qada puasa memberi kesempatan bagi orang yang melepas puasa di jalan untuk menutup ibadah di akhir Ramadan. Ini menegaskan bahwa Islam memberi fleksibilitas sesuai kondisi setiap individu. Jadi, bukan hanya soal "bisa tidak", tapi tentang menjaga niat dan integritas.

Kesimpulan

Jadi, kalau kamu rencana mudik jauh di bulan puasa, perhitungkan jarak, dengarkan tubuh, dan gunakan jamak salat bila perlu. Kalau melepas puasa, lakukan qada sesegera mungkin. Semua ini membantu kamu tetap merayakan Ramadan dengan tenang, tidak terbebani, dan tetap terhubung dengan keluarga.

Ingat, Ramadan itu tentang kebersamaan. Jadi, jangan biarkan jarak atau kelelahan menghalangimu. Sesuaikan jadwal, siapkan snack sehat, dan semoga mudikmu lancar, aman, dan penuh berkah.

Logo Radio
🔴 Radio Live