Jebakan Validasi: Mengapa Kita Mengharapkan Like Orang Lain
Nisrina - Thursday, 26 March 2026 | 06:45 AM


Pernah nggak sih, kamu baru saja mengunggah foto di Instagram, lalu lima menit kemudian bolak-balik ngecek notifikasi? Baru dapet sepuluh likes rasanya kayak ada yang kurang, tapi begitu angka itu tembus seratus, tiba-tiba mood kamu langsung melonjak drastis. Rasanya kayak baru aja minum kopi pagi hari: segar, semangat, dan merasa "diakui". Fenomena ini bukan cuma soal kamu yang haus perhatian atau narsistik, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di balik alasan mengapa validasi dari orang lain itu rasanya nikmat banget, sekaligus menjebak.
Mari kita jujur-jujuran. Di zaman yang serba digital ini, pengakuan dari orang lain sudah jadi mata uang baru. Kita butuh dibilang keren, butuh dibilang pinter, dan butuh dibilang "hidupnya estetik". Tapi, kenapa sih kita sebegitu bergantungnya sama omongan atau jempol orang lain? Apakah kita memang selemah itu sampai-sampai nggak bisa merasa cukup dengan diri sendiri? Jawabannya ternyata nggak sesederhana itu, kawan.
Warisan Nenek Moyang: Dibuang Sayang, Tak Diakui Mati
Kalau kita tarik mundur ribuan tahun ke belakang, kebutuhan akan validasi ini sebenarnya adalah mekanisme bertahan hidup. Bayangkan kamu hidup di zaman purba. Kalau kamu nggak divalidasi atau nggak diterima oleh kelompokmu, pilihannya cuma satu: keluar dari gua dan mati diterkam sabre-tooth. Di masa itu, menjadi bagian dari kelompok bukan cuma soal biar ada temen nongkrong, tapi soal nyawa.
Makanya, otak kita berevolusi untuk merasa cemas kalau kita merasa nggak diterima. Rasa takut ditinggalkan atau dianggap "aneh" itu sudah tertanam di DNA kita. Jadi, kalau sekarang kamu merasa sedih karena komentar pedas netizen atau karena grup WhatsApp tiba-tiba sepi pas kamu baru aja kirim jokes, itu sebenarnya insting purba yang sedang teriak, "Eh, jangan sampai kita diusir dari suku!" Bedanya, suku kita sekarang namanya followers atau circle pergaulan.
Dopamin dalam Genggaman
Masalah jadi makin runyam pas teknologi masuk. Media sosial dirancang sedemikian rupa untuk memainkan psikologi manusia. Setiap kali ada notifikasi "like", komentar positif, atau DM masuk, otak kita melepaskan dopamin. Itu adalah hormon yang sama yang muncul saat kita makan enak atau menang lotre. Rasanya nagih, legit, dan bikin pengen lagi.
Sialnya, validasi digital ini sifatnya semu dan sementara. Efeknya cuma bertahan sebentar, lalu kita bakal butuh "dosis" yang lebih tinggi lagi buat ngerasain kesenangan yang sama. Ini yang bikin kita terjebak dalam siklus overthinking. Kalau postingan hari ini dapet 500 likes, lalu besok cuma dapet 200, kita bakal mulai mikir, "Aduh, gue salah apa ya? Apa foto gue jelek? Apa orang udah benci sama gue?" Padahal mungkin orang lain cuma lagi sibuk atau algoritma lagi rewel aja.
Identitas yang Dipinjam dari Orang Lain
Hal yang paling berbahaya dari kecanduan validasi adalah ketika kita mulai kehilangan jati diri. Kita jadi kayak bunglon yang terus berubah warna demi menyenangkan mata orang yang melihat. Mau beli baju, mikirnya "Orang bakal bilang keren nggak ya?" bukan "Gue nyaman nggak ya pake ini?" Mau ngomongin pendapat di Twitter, mikirnya "Bakal di-cancel nggak ya?" bukan "Ini beneran suara hati gue nggak ya?"
Lama-lama, kita jadi orang asing buat diri sendiri. Kita sibuk membangun "etalase" yang cantik, tapi gudang di dalamnya berantakan. Kita lupa bahwa nilai diri kita (self-worth) itu seharusnya datang dari dalam, bukan hasil pemungutan suara atau hasil survei kepuasan pelanggan di kolom komentar. Membiarkan orang lain menentukan harga diri kita itu ibarat ngasih kunci rumah kita ke orang asing; mereka bisa masuk dan berantakin isinya kapan aja mereka mau.
Belajar Masa Bodo dan Validasi Mandiri
Terus, gimana dong caranya biar nggak "haus-haus banget" sama validasi? Pertama, sadari dulu kalau nggak semua orang harus suka sama kita. Itu fakta yang pahit tapi membebaskan. Bahkan sekelas artis papan atas atau tokoh dunia pun punya haters. Jadi, kalau ada satu atau dua orang yang nggak setuju sama gaya hidupmu, ya udah, so what? Dunia nggak bakal kiamat cuma karena kamu nggak dapet approval dari mereka.
Kedua, mulailah memberikan validasi untuk diri sendiri. Kalau kamu merasa udah ngelakuin pekerjaan dengan baik hari ini, apresiasi dirimu sendiri. Makan enak, tidur cukup, atau sekadar bilang "Good job, me!" di depan cermin. Kedengarannya emang agak cringe atau sok-sokan self-love, tapi ini penting buat melatih otak supaya nggak terus-terusan nunggu "puk-puk" dari orang luar.
Ketiga, batasi konsumsi media sosial kalau udah mulai merasa beracun. Digital detox itu nyata manfaatnya. Kadang kita perlu naruh HP, keluar rumah, liat pohon, dan ngobrol sama orang secara langsung tanpa mikirin sudut pengambilan foto yang pas buat konten. Di sana kita bakal sadar bahwa hidup itu terjadi di sini, saat ini, bukan di dalam layar 6 inci itu.
Secukupnya Saja
Validasi itu kayak bumbu penyedap dalam masakan. Kalau pas, bikin makanan jadi enak dan berwarna. Tapi kalau kebanyakan, malah bikin enek dan merusak rasa asli makanannya. Kita semua manusia, wajar banget kalau pengen dipuji atau diakui. Nggak perlu merasa bersalah kalau kamu merasa senang saat dipuji bos atau gebetan.
Tapi ingat, jangan sampai kamu jadi "budak" dari opini orang lain. Pastikan bahwa standar kebahagiaanmu itu kamu sendiri yang buat, bukan hasil konsensus netizen. Pada akhirnya, orang yang paling lama bakal hidup sama kamu adalah dirimu sendiri, bukan mereka yang cuma mampir kasih jempol sambil lalu. Jadi, pastikan kamu suka sama versi dirimu yang sekarang, ada atau tanpa validasi dari mereka.
Next News

Apa Itu Kluwak? Mengenal Bahan Utama di Balik Lezatnya Rawon
in 6 hours

Air Purifier Alami dengan Pelihara 5 Tanaman Indoor Ini!
in 2 hours

Tips Bersihkan Karpet Kantor Tanpa Merusak Serat Kain
in 3 hours

Jangan Sepelekan! Ini Pentingnya Cek Karet Wiper Pasca Mudik
in 2 hours

Makan Siang Apa Hari Ini? Cara Seru Tentukan Menu Kantor
in 5 hours

Solusi Ampuh Usir Bau Apek di Ruang Kerja Agar Tetap Fokus
in 16 minutes

Fakta Menarik Gurita, Si Alien Laut yang Sangat Cerdas
in 7 hours

Rahasia di Balik Motif Hitam Putih Zebra yang Unik
in 6 hours

Sakti! Begini Cara Jokes Receh Ubah Suasana Jadi Seru
in 5 hours

Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
in 5 hours






