Ceritra
Ceritra Warga

Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital

Nisrina - Thursday, 26 March 2026 | 11:15 AM

Background
Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Ilustrasi (Freepik/)

Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja bangun tidur, masih dengan nyawa yang terkumpul separuh, lalu iseng membuka Instagram. Di layar ponsel, muncul teman SMA-mu yang baru saja mengunggah foto di depan menara Eiffel dengan caption "Alhamdulillah, pencapaian tahun ini." Belum sempat napas, geser dikit ke LinkedIn, ada teman kuliah yang baru saja dipromosikan jadi Manager di usia 24 tahun. Tiba-tiba, kopi instan di tanganmu rasanya jadi makin pahit, dan kasur empukmu terasa seperti beban hidup yang sangat berat.

Selamat datang di era di mana "sukses" bukan lagi sekadar pilihan, tapi sudah berubah jadi kewajiban yang menghantui setiap sudut timeline kita. Kita hidup di zaman yang mengagung-agungkan hustle culture, di mana kalau kamu nggak sibuk, berarti kamu nggak produktif. Kalau kamu nggak punya side hustle, berarti kamu malas. Tekanan sosial untuk selalu terlihat sukses ini lama-lama bikin kita capek sendiri, kayak lagi lari maraton tapi garis finish-nya digeser terus tiap kali kita sudah dekat.

Standar Sukses yang Makin Nggak Masuk Akal

Dulu, standar sukses itu sederhana: punya pekerjaan tetap, bisa makan enak, dan punya rumah mungil sudah cukup bikin orang tua bangga. Sekarang? Standarnya sudah melompat jauh ke angkasa. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang di dunia ini—kecuali kamu—sedang menjalani hidup terbaik mereka. Kita dipaksa melihat kurasi kesuksesan orang lain tanpa pernah tahu drama di baliknya. Ada yang pamer omzet miliaran tapi sebenarnya kurang tidur dan stres tingkat dewa, atau ada yang pamer liburan mewah padahal cicilan kartu kreditnya menumpuk.

Masalahnya, otak kita sering kali gagal melakukan filter. Kita menelan mentah-mentah standar "sukses" versi orang lain dan menjadikannya patokan buat diri sendiri. Akhirnya, muncul perasaan tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Padahal, hidup itu bukan lomba lari yang wasitnya adalah netizen atau tetangga sebelah rumah. Setiap orang punya garis start yang berbeda, sepatu yang berbeda, dan jalur lari yang medannya nggak sama.

Menghadapi "Suara-Suara" di Luar Sana

Lantas, gimana caranya biar kita nggak kena mental gara-gara tekanan ini? Langkah pertama yang paling krusial adalah belajar untuk "tuli" secara selektif. Kita nggak perlu mendengarkan semua komentar atau ekspektasi orang lain tentang bagaimana seharusnya hidup kita berjalan. Kalau omongan bibi di arisan soal "kapan punya mobil" atau "kapan naik jabatan" mulai bikin telinga panas, anggap saja itu seperti iklan YouTube yang nggak bisa di-skip: dengerin bentar, terus lupain.

Penting juga untuk melakukan detoks digital secara berkala. Kalau melihat postingan seseorang bikin kamu merasa rendah diri atau insecure, fitur mute atau unfollow itu diciptakan untuk menjaga kewarasanmu, lho. Kamu nggak jahat kok kalau memilih untuk nggak melihat pencapaian orang lain demi ketenangan batinmu sendiri. Fokuslah pada progresmu sendiri, sekecil apa pun itu. Berhasil bangun pagi tepat waktu dan nggak mencet tombol snooze saja sudah termasuk kemenangan kecil yang layak diapresiasi.

Berdamai dengan Menjadi "Biasa Saja"

Di dunia yang terobsesi dengan kata "luar biasa", menjadi "biasa saja" kadang dianggap sebagai kegagalan. Padahal, ada keindahan tersendiri dalam hidup yang tenang dan sederhana. Kamu nggak harus jadi CEO di usia 25 tahun untuk merasa berharga. Kamu nggak harus punya saldo rekening tujuh digit untuk merasa bahagia. Kadang, kesuksesan sesungguhnya adalah ketika kamu bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa rasa cemas yang menghantui.

Coba deh, definisikan ulang apa arti sukses buat kamu secara pribadi. Mungkin bagi kamu, sukses adalah punya waktu luang untuk menekuni hobi berkebun, atau sesederhana bisa traktir orang tua makan bakso setiap akhir pekan. Jangan biarkan standar sukses orang lain mendikte kebahagiaanmu. Ingat, kita ini manusia, bukan mesin yang harus terus-menerus menghasilkan output maksimal tanpa henti. Ada kalanya kita perlu "mode hemat daya" untuk sekadar bernapas dan menikmati hidup.

Jangan Lupa Napas, Perjalanan Masih Panjang

Menghadapi tekanan sosial itu kayak main ombak di pantai. Kalau kamu kaku, kamu bakal terseret dan tenggelam. Tapi kalau kamu bisa mengikuti arusnya sambil tetap menjaga keseimbangan, kamu bakal baik-baik saja. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau hari ini kamu merasa lelah dan belum mencapai target apa-apa, ya sudah, nggak apa-apa. Esok masih ada, dan kesempatan selalu datang bagi mereka yang tidak menyerah, tapi tahu kapan harus beristirahat.

Kesimpulannya, tekanan untuk selalu sukses itu nyata, tapi dampaknya terhadap mental kita adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk terus mengejar standar orang lain sampai napas habis, atau kita bisa memilih untuk berjalan dengan kecepatan kita sendiri sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pada akhirnya, sukses yang paling hakiki adalah ketika kamu merasa cukup dan nyaman dengan dirimu sendiri, tanpa perlu validasi dari siapa pun di media sosial. Jadi, yuk, taruh hp-mu sebentar, ambil napas dalam-dalam, dan sadari bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini. Itu sudah lebih dari cukup.

Logo Radio
🔴 Radio Live