Ceritra
Ceritra Warga

Jangan Dipaksa! Kenali Tanda Dehidrasi pada Anak Saat Belajar Puasa

Refa - Sunday, 01 February 2026 | 02:30 PM

Background
Jangan Dipaksa! Kenali Tanda Dehidrasi pada Anak Saat Belajar Puasa
Ilustrasi anak yang sedang berpuasa (Pinterest/azhan.co)

"Bun, haus... boleh minum sedikit nggak? Nanti puasa lagi."

Rengekan ini pasti terdengar familier di telinga para orang tua saat minggu pertama Ramadan. Hati rasanya tidak tega melihat si Kecil lemas, tapi di sisi lain, ada keinginan kuat untuk menanamkan nilai agama sejak dini.

Di Indonesia, kita mengenal istilah "Puasa Bedug", yaitu latihan puasa di mana anak diperbolehkan berbuka saat azan Zuhur (tengah hari), lalu lanjut puasa lagi sampai Magrib. Namun, sering muncul perdebatan: Apakah cara ini mendidik? Atau justru mengajarkan syariat yang salah?

Sebenarnya, melatih anak berpuasa itu seni menyeimbangkan antara edukasi agama dan kemampuan fisik. Jangan sampai niat baik orang tua justru menjadi trauma bagi anak.

Berikut adalah panduan lengkap berdasarkan medis dan psikologi perkembangan untuk melatih anak berpuasa.

1. Kapan Usia Ideal Memulai?

Jangan samakan fisik anak TK dengan orang dewasa.

  • Usia 7 Tahun (The Golden Start): Dalam Islam, Rasulullah SAW memerintahkan orang tua mulai menyuruh anaknya salat (dan ibadah wajib lain jika mampu) pada usia 7 tahun. Secara medis, di usia ini cadangan glikogen dalam hati anak sudah cukup memadai untuk menahan lapar agak lama.
  • Baligh (Wajib): Puasa baru menjadi dosa jika ditinggalkan saat anak sudah Baligh (Mimpi basah bagi laki-laki, atau haid bagi perempuan).
  • Di Bawah 7 Tahun (Pengenalan): Untuk anak usia 4-6 tahun, targetnya hanyalah "Pengenalan Suasana". Mengenalkan sahur, mengenalkan menahan makan, tapi tidak boleh dipaksa full seharian karena risiko dehidrasi sangat tinggi.

2. Meluruskan Konsep "Puasa Bedug"

Apakah Puasa Bedug itu bid'ah atau sesat? Tentu tidak, jika tujuannya adalah latihan (Tadarruj).

Ibarat belajar naik sepeda, anak butuh roda bantu sebelum bisa seimbang sendiri. Puasa Bedug adalah "roda bantu" tersebut.

  • Nilai Pahalanya: Secara syariat, puasa setengah hari memang tidak sah sebagai satu ibadah utuh. Namun, proses pembelajarannya bernilai pahala pendidikan bagi orang tua dan anak.
  • Cara Menjelaskan ke Anak: Jangan berbohong dengan bilang "Puasanya sah". Katakan dengan jujur: "Kakak hebat sudah kuat sampai Zuhur! Karena Kakak masih belajar, boleh buka dulu, nanti kita coba lagi ya. Kalau Ayah/Bunda karena sudah besar, wajib sampai Magrib."

Ini membangun pemahaman bahwa ada tahapan level yang harus mereka capai seiring bertambahnya usia.

3. Awas Bahaya Dehidrasi (Tanda Wajib Batal)

Anak-anak memiliki rasio luas permukaan tubuh yang lebih besar dibanding orang dewasa, sehingga mereka lebih cepat kehilangan cairan.

Jangan memaksakan ego orang tua demi gengsi "Anakku sudah tamat puasa lho!". Perhatikan tanda bahaya (Red Flags) berikut. Jika muncul, Wajib Batalkan saat itu juga:

  1. Urine Pekat: Pipisnya berwarna kuning tua atau cokelat, atau tidak pipis sama sekali selama 6-8 jam.
  2. Mata Cekung & Bibir Kering Hebat: Tanda dehidrasi tingkat sedang-berat.
  3. Lemas Ekstrem: Anak tampak linglung, mengantuk berlebihan, atau kulit terasa dingin dan berkeringat dingin.

Memaksa anak puasa dalam kondisi ini bisa merusak ginjal. Beri minum segera dan puji usahanya yang sudah bertahan sejauh itu.

4. Jebakan "Sogokan" Uang (Reward System)

"Kalau puasa full sebulan, Papa kasih 500 ribu!"

Hati-hati, strategi ini seperti pedang bermata dua. Memberi hadiah itu boleh dan dianjurkan, tapi bentuknya harus hati-hati agar tidak mencetak mental materialistis (beribadah hanya demi uang).

Strategi Reward yang Lebih Baik:

  • Hindari Transaksi Harian: Jangan memberi upah harian (misal: Rp10.000 per hari). Ini membuat puasa terasa seperti "kerja paksa" berbayar.
  • Apresiasi Proses: Berikan pujian verbal atau pelukan hangat. "Masyaallah, Bunda bangga Kakak bisa nahan marah dan lapar hari ini."
  • Menu Favorit: Jadikan makanan kesukaan mereka (puding, es krim, ayam goreng) sebagai reward saat berbuka.
  • Hadiah Lebaran: Janjikan hadiah besar di akhir (Baju baru atau Mainan yang diinginkan) sebagai perayaan keberhasilan satu bulan, bukan sebagai "gaji", melainkan sebagai kado Hari Raya.

Kesimpulan

Melatih anak puasa adalah maraton, bukan lari sprint. Tidak perlu terburu-buru menuntut kesempurnaan.

Biarkan mereka menikmati momen sahur dengan mata mengantuk, serunya berburu takjil, dan bangganya saat berhasil menahan lapar. Ciptakan kenangan Ramadan yang indah dan menyenangkan, bukan kenangan yang penuh paksaan dan kelaparan.

Jika tahun ini mereka baru kuat sampai Zuhur, alhamdulillah. Tahun depan, insyaallah mereka akan kuat sampai Ashar, dan akhirnya sampai Magrib dengan kesadaran sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live