Jangan Buru-Buru Melarang! Ini 5 Soft Skill Penting yang Bisa Dipelajari Anak Lewat Esports
Refa - Saturday, 24 January 2026 | 05:00 PM


Kekhawatiran orang tua terhadap dampak negatif video game memang wajar. Namun, melihat antusiasme positif di ajang M7 World Championship, persepsi bahwa game hanya membuang waktu perlu ditinjau ulang.
Jika diarahkan dengan benar, esports sebenarnya merupakan media belajar yang efektif. Kompetisi digital ini melatih berbagai kemampuan lunak (soft skill) yang justru sangat dibutuhkan di dunia kerja dan kehidupan nyata.
Berikut adalah 5 keahlian utama yang dapat diasah anak melalui esports:
1. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah
Dalam permainan kompetitif seperti Mobile Legends, situasi berubah dalam hitungan detik. Pemain dipaksa untuk menganalisis keadaan dan mengambil keputusan taktis secara instan.
Anak terlatih untuk tidak panik saat menghadapi masalah mendadak. Otak mereka terbiasa mencari solusi tercepat dan paling efisien untuk membalikkan keadaan dari posisi kalah menjadi menang.
2. Kerja Sama Tim (Teamwork)
Kemenangan dalam esports mustahil diraih dengan bermain egois (solo player). Setiap pemain memiliki peran spesifik (seperti Tank, Support, atau Carry) yang saling melengkapi.
Anak belajar menurunkan ego pribadi demi tujuan bersama. Mereka memahami bahwa keberhasilan tim jauh lebih penting daripada skor individu, sebuah mentalitas yang sangat krusial dalam lingkungan organisasi atau perusahaan kelak.
3. Komunikasi di Bawah Tekanan
Saat pertandingan memanas, komunikasi menjadi kunci. Pemain harus menyampaikan informasi posisi musuh atau strategi serangan dengan kalimat yang singkat, padat, dan jelas.
Hal ini melatih anak untuk berkomunikasi secara efektif meski sedang berada di bawah tekanan mental yang tinggi. Kemampuan menyampaikan pesan yang akurat dalam situasi genting adalah skill komunikasi tingkat lanjut.
4. Manajemen Emosi dan Sportivitas
Kekalahan adalah bagian tak terpisahkan dari game. Anak diajarkan untuk menerima kekalahan dengan lapang dada dan tidak menyalahkan orang lain (blaming).
Proses ini melatih ketahanan mental (resiliensi). Mereka belajar mengendalikan rasa marah atau frustrasi agar tidak merusak performa di pertandingan selanjutnya, serta menghargai kemampuan lawan.
5. Jiwa Kepemimpinan (Leadership)
Dalam setiap tim, biasanya dibutuhkan seorang kapten atau shotcaller. Sosok ini bertugas memberi komando kapan harus menyerang atau mundur.
Anak yang mengambil peran ini akan terlatih keberaniannya dalam mengambil tanggung jawab. Mereka belajar mengarahkan teman-temannya dan mempertanggungjawabkan setiap instruksi yang diberikan kepada tim.
Next News

Misteri Bunga Wijaya Kusuma Mekar Tengah Malam yang Dianggap Sakral
in 7 hours

Cukup Sudah! 5 Tanda Lingkungan Kerja Toxic yang Mengharuskanmu Segera Resign
in 7 hours

Terbangun Lapar Tengah Malam Sebaiknya Makan Dulu atau Paksa Tidur
in 6 hours

Rekan Kerja Suka Cari Muka? Inilah 5 Cara Profesional Menghadapinya Tanpa Perlu Emosi
in 6 hours

Mengenal Ular Siput Jerapah Si Ahli Kamuflase Hutan Jawa
in 5 hours

Panduan Lengkap Jenis Kerjasama Ekonomi Syariah dan Pengertiannya
in 4 hours

Jam Kerja Habis, Notifikasi Tetap Bunyi? Saatnya Pasang Boundaries
in 5 hours

Managing Up: Strategi Menghadapi Atasan Micromanagement Tanpa Konflik
in 4 hours

Tahu Nilai Dirimu! Panduan Taktis Meminta Kenaikan Gaji dan Benefit Secara Profesional
in 3 hours

Rahasia Bikin Mi Instan Lebih Sehat dengan Modifikasi Bumbu
in 3 hours






